Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kisah Pedagang Kaki Lima Dadakan saat Demo di DPRD Kalbar: Panen Rezeki Jutaan Rupiah, Tetap Bertahan Meski Ricuh

Deny Hamdani • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 13:52 WIB
PKL Dadakan sering muncul pada saat aksi demo berlangsung.
PKL Dadakan sering muncul pada saat aksi demo berlangsung.

PONTIANAK POST — Di tengah tensi politik yang memanas selama aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung DPRD Kalimantan Barat, ada satu kelompok yang justru panen rejeki yakni, para pedagang kaki lima (PKL) dadakan.

Mereka berjejer di sepanjang trotoar dan pinggir jalan persis depan gedung wakil rakyat. Ada juga yang berjualan di dalam gedung, di tengah situasi demo memanas. Mereka menjual aneka minuman dan makanan kecil, menyasar massa demonstran, pengunjung, hingga aparat keamanan yang berjaga.

Sejak siang hari, puluhan PKL telah mendirikan tenda darurat, gerobak dorong kecil di sekitar kawasan DPRD. Ada yang menjual air mineral dalam kemasan, minuman sachet panas seperti kopi, kopi suhu, jahe, teh dan makanan ringan seperti kue, kerupuk, gorengan, dan roti bungkus selalu tersedia.

“Alhamdulillah, hari ini ramai sekali. Biasanya paling dapat puluhan hingga ratusan ribu, sekarang sudah hampir 1,5 jutaan lebih dari jam satu siang,” ujar Siti, seorang pedagang asal Pontianak Timur, sambil mengatur stok minuman di gerobaknya.

Siti mengaku sengaja datang lebih awal karena mendengar akan ada aksi besar-besaran. Ia membawa dua dus air mineral, tiga boks minuman sachet, dan puluhan bungkus snack. “Mahasiswa pada haus, apalagi berdiri lama di bawah terik. Mereka beli dua-tiga botol sekaligus. Aparat juga banyak yang beli,” katanya sambil tertawa.

Namun, suasana yang awalnya ramai dan santai sempat memanas siang hari, ketika massa menuntut masuk ke gedung dewan dan terjadi ketegangan dengan aparat kepolisian. Beberapa kali terdengar teriakan, dorong-mendorong, dan manuver penghadangan oleh petugas.

Saat itulah, para PKL yang berada di dalam gedung langsung bersiaga. Mereka menarik gerobak ke tepi, mengamankan barang dagangan, dan mencari tempat yang lebih aman. Ada yang berlindung di bawah pohon, di tempat sisi kiri atau kanan sepi aksi massa, bahkan sebagian masuk ke pelataran parkir samping gedung yang dijaga ketat.

“Kalau mulai panas, kita minggir dulu. Tapi tetap waspada, jangan sampai barang dijarah atau diinjak-injak,” kata Budi, penjual gorengan yang sudah 15 tahun menjadi PKL.

Meski begitu, Budi mengaku tidak takut. “Sudah biasa. Setiap ada demo, pasti ada risiko. Tapi selama masih bisa dikendalikan, kita tetap jualan. Toh, mahasiswa dan polisi juga butuh makan dan minum,” ujarnya.

Ironisnya, justru saat situasi memanas, permintaan minuman justru meningkat. “Pas tegang-tegangnya, orang pada haus. Ada yang beli air mineral, ada yang minta teh panas biar tenang,” seloroh salah satu pedagang sambil menyeduh kopi susu untuk seorang demonstran yang terlihat lelah.

Yang menarik, beberapa pedagang mengaku tidak memihak mana pun. Mereka menjual ke siapa saja, mahasiswa, wartawan, anggota dewan, hingga polisi yang berjaga. “Kami tidak peduli siapa yang menang atau kalah. Yang penting damai, dan dagangan habis,” ujar Siti sambil menyodorkan botol air ke seorang anggota polisi berseragam lengkap.

Meski aksi kerap berakhir ricuh, para PKL dadakan baru membongkar lapak mereka menjelang pukul 19.00 WIB. Bagi mereka, hari itu bukan hanya soal demokrasi, tapi juga soal bertahan hidup, di tengah teriakan, sorak, dan bayang-bayang ricuh yang menggantung.

“Semoga demo selalu damai. Tapi kalau ada lagi, kami siap jualan,” kata Budi, sambil melipat tenda dan menyiapkan gerobak untuk pulang. (den)

Editor : Miftahul Khair
#panen rezeki #DPRD Kalbar #ricuh #pedagang kaki lima #demo #unjuk rasa