PONTIANAK POST – Komoditas tengkawang di Kalimantan Barat menghadapi berbagai kendala, mulai dari akses pasar, kondisi iklim, hingga ancaman alih fungsi lahan. Kondisi ini membuat panen tahun 2025 diprediksi anjlok.
“Tahun 2025 ini gagal panen, hanya sekitar 500 ton buah tengkawang saja yang dapat terkumpul,” kata Koordinator Jaringan Tengkawang Kalimantan, Valentinus Heri, saat acara Festival Tengkawang, yang digelar 27-28 Agustus 2025.
Menurut Heri, Kapuas Hulu dengan potensi penghasil buah tengkawang paling tinggi di Kalbar, sama sekali tidak menghasilkan akibat kemarau panjang pada Oktober 2024 lalu. Kondisi serupa terjadi di Sintang, Melawi, Ketapang, Sambas, dan Sekadau.
“Musim kemarau dan asap pembakaran ladang membuat panen gagal,” ungkapnya.
Menurutnya, hanya Landak, Bengkayang, dan Sanggau yang masih menghasilkan buah tengkawang.
Ia menyebut, tahun ini, empat pembeli tercatat ingin menampung hasil panen, yakni Forest Wise, Lembaga Intan, serta pengusaha dari Medan dan Malaysia. Namun, ekspor ke Malaysia belum bisa dilakukan karena aturan tata niaga antarnegara masih belum jelas.
Ia menilai potensi tengkawang masih cukup besar. Berdasarkan data Jaringan Tengkawang Kalimantan, potensi tahun 2025 terdapat di 171 desa, 60 kecamatan, dari 11 kabupaten/kota di Kalbar mencapai 8.140 ton. Jika dihitung dengan data yang dikumpulkan pada 2017, jumlahnya bahkan mencapai 10.418 ton di 202 desa.
“Kami yakin potensi desa-desa potensial masih ada yang belum terdata, namun jumlah yang dikumpulkan sudah mendekati perkiraan potensi sebesar 15 ribu ton,” katanya.
Ia mengungkapkan secara umum salah satu masalah utama dalam mengembangkan usaha dari komoditas tengkawang adalah ketiadaan pembeli di tingkat petani.
“Tidak ada pembeli atau pengumpul buah tengkawang di tingkat petani. Kalau ada pembelinya dari jauh misalnya Pontianak,” ungkap Heri.
Sementara, lanjut Heri, pasokan tengkawang kebanyakan dari desa-desa terutama di Kapuas Hulu yang jauh dari pusat kota. Selain itu, akses ke lokasi pohon tengkawang yang jauh serta kondisi jalan yang rusak membuat biaya produksi makin tinggi. Akibatnya, harga jual tengkawang di tingkat petani sangat rendah.
“Pemasaran buah tengkawang sulit, dan harganya sangat rendah menurut masyarakat petani,” tuturnya.
Selain itu, Heri menambahkan musim panen tengkawang kerap kali bersamaan dengan masa berladang sehingga petani kesulitan membagi waktu. “Mereka harus memilih, mau kumpulkan tengkawang atau padi,” katanya.
Lebih parah lagi, tambah dia, banyak pohon tengkawang ditebang untuk bahan bangunan hingga rumah burung walet yang dianggap warga lebih ekonomis. Lahan tengkawang juga kerap beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan sawit, bahkan pertambangan emas.
“Kawasan yang ditumbuhi pohon tengkawang ditebang dan diganti dengan tanaman sawit,” tuturnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalbar melalui Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat, Setiyo Haryani dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya mendorong hilirisasi produk tengkawang.
“Buah tengkawang dapat diolah menjadi campuran makanan, obat-obatan, lilin, sabun, dan produk lainnya,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan informasi pasar, rendahnya harga di tingkat petani, membuat petani enggan memanfaatkan tengkawang. Persoalan lainnya adalah tentang pasokan buah tengkawang yang tidak selalu ada. “Masa panen yang berbeda memengaruhi kontinuitas produksi,” katanya.
Setyo menilai, diperlukan pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir untuk mengembangkan potensi tengkawang secara optimal.
“Bagian hulu diperlukan riset produk, mendorong produk yang berkualitas, diversifikasi produk dan memastikan ketersediaan bahan baku. Dari sisi hilir menjamin harga yang bersaing dan jaringan masyarakat yang berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelestarian pohon tengkawang juga sejalan dengan isu Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030. Pelestarian tengkawang berarti mempertahankan lahan untuk penyerapan emisi. Jika dikelola baik, ia optimis tengkawang bisa menjadi penggerak ekonomi hijau di Kalbar. (sti)
Editor : Hanif