PONTIANAK POST — Puluhan mahasiswa Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Barat, Selasa (2/9). Mereka datang sekitar pukul 14.45 WIB dengan mengenakan jaket almamater berwarna kuning mencolok, menandai aksi damai yang sudah beberapa hari sebelumnya terjadi.
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa menyampaikan orasi secara bergantian, menyoroti sejumlah isu strategis baik tingkat nasional maupun lokal. Aksi mereka dikawal ketat oleh aparat kepolisian dan personel TNI yang berjaga di sekitar halaman gedung dewan untuk memastikan situasi tetap kondusif.
Saat azan Ashar berkumandang, suasana aksi sempat berhenti sejenak sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah. Setelah selesai berkumandang, para mahasiswa kembali melanjutkan orasi mereka dengan semangat yang tak surut.
Salah satu tuntutan utama dalam aksi ini adalah desakan agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset milik koruptor agar segera disahkan. Mahasiswa menilai RUU tersebut penting untuk menyelesaikan persoalan negara, terkait perilaku korupsi di negara ini.
Selain itu, mereka juga menuntut percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat yang hingga kini belum mendapat lampu hijau dari pemerintah pusat. “RUU Masyarakat Adat adalah bentuk pengakuan negara terhadap hak-hak masyarakat lokal, terutama di Kalbar yang kaya suku, budaya, tanah adat dan lain-lain. Ini harus segera direalisasikan,” ujar salah satu koordinator aksi.
Tak hanya isu nasional, para mahasiswa juga menyuarakan persoalan lokal yang mendesak, seperti maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang merusak lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar. Mereka menuntut pemerintah daerah dan pusat untuk lebih tegas memberantas praktik ilegal tersebut.
“Kami hadir bukan untuk membuat onar, tapi untuk menyuarakan keresahan rakyat kecil yang sering terabaikan,” tegas seorang orator. “Isu nasional maupun lokal yang kami angkat hari ini adalah bagian dari perjuangan bersama untuk Kalbar dan Indonesia yang lebih adil dan berdaulat," timpalnya.
Seperti aksi-aksi sebelumnya, mahasiswa juga meminta bertemu langsung dengan para wakil rakyat di DPRD Kalbar untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Aksi para mahasiswa berlangsung tertib dan aman. Aksi ini menjadi pengingat bahwa suara mahasiswa tetap menjadi bagian penting dalam dinamika demokrasi, khususnya dalam mengawal kebijakan yang berpihak pada rakyat.(den)
Editor : Hanif