PONTIANAK POST – Jumlah suspek campak/rubela di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) sejak Januari hingga Agustus 2025 tercatat mencapai 520 kasus. Dari jumlah tersebut, 205 di antaranya positif campak, dan tiga positif rubella.
Dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalbar, Kota Pontianak menjadi daerah dengan kasus terbanyak, yakni 190 suspek. Dari jumlah itu, 112 terkonfirmasi positif campak dan satu positif rubella. Di Kabupaten Mempawah, terdapat 78 suspek dengan 44 positif campak. Sedangkan di Kabupaten Kubu Raya, tercatat 61 suspek, 34 positif campak, dan satu positif rubella.
Kepala Dinkes Kalbar, Erna Yulianti, menyebut tingginya kasus tersebut tak lepas dari rendahnya cakupan imunisasi. Per Juli 2025, cakupan imunisasi campak/rubela di Kalbar baru mencapai 33,6 persen.
“Langkah ini diharapkan mampu menghapus keraguan publik sekaligus memperkuat kesadaran bahwa imunisasi menjadi kunci perlindungan kesehatan anak dan pencegahan penyakit menular,” kata Erna, Selasa (2/9).
Ia menjelaskan, pihaknya terus melakukan berbagai strategi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Mulai dari edukasi dan transparansi informasi, keterlibatan tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan, hingga promosi kesehatan melalui media sosial dan program talkshow.
Selain itu, Dinkes juga memperkuat kapasitas pengelola imunisasi dengan pelatihan dan pendampingan, serta menjalin kolaborasi lintas sektor bersama tokoh agama, kader PKK, dan organisasi masyarakat.
Menurutnya, evaluasi menunjukkan masih banyak anak di Kalbar yang belum mendapat imunisasi campak/rubella. Rendahnya kesadaran orang tua serta maraknya berita hoaks mengenai vaksin turut memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi.
“Kota Pontianak, Mempawah, dan Kubu Raya menjadi wilayah konsentrasi utama karena kasusnya paling tinggi. Tapi kabupaten/kota lain juga tetap kita dorong cakupan imunisasinya,” jelas Erna.
Ia memastikan ketersediaan vaksin masih aman. Saat ini stok vaksin campak/rubella mencapai 3.640 vial dan siap disalurkan ke kabupaten/kota sesuai kebutuhan. “Kita lihat sekarang campak tidak hanya di Kalbar, tapi di daerah Jawa pun sudah terjadi peningkatan. Di sinilah peran kita bersama, kita berjuang bersama untuk meningkatkan kekebalan anak-anak, dengan mengingatkan kembali kepada orang tua untuk melengkapi imunisasi anak, baik yang rutin, maupun lanjutan,” pungkasnya.
Lonjakan Pasien Campak di RSUD Soedarso
Kasus campak di Kalbar kian mengkhawatirkan. Sepanjang Agustus 2025, RSUD Soedarso Pontianak merawat sekitar 37 pasien campak. Hingga 2 September, rumah sakit rujukan utama di Kalbar itu kembali menerima empat pasien baru dengan gejala serupa.
Dokter Spesialis Anak RSUD Soedarso, dr. Muhammad Budi Nugroho menyebut tren kasus masih meningkat dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. “Baru masuk awal bulan, sudah ada empat pasien campak yang dirawat. Artinya tren peningkatan masih berlangsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mayoritas pasien berasal dari kelompok usia 9 bulan hingga 2 tahun. Kasus pada bayi di bawah usia 9 bulan relatif jarang ditemukan. Untuk mengantisipasi lonjakan, pihak rumah sakit menyiapkan ruang isolasi khusus penyakit menular. Dari semula empat tempat tidur kini ditambah menjadi enam. “Kalau tempat tidur tidak cukup, kami buka tambahan ruang isolasi. Saat ini ada enam tempat tidur khusus campak,” jelasnya.
Budi mengungkapkan, hampir seluruh pasien campak yang dirawat belum pernah mendapat imunisasi. Fenomena ini, kata dia, serupa dengan kejadian tahun 2002. “Sama seperti sekarang, hampir 90 persen pasien campak tidak pernah diimunisasi. Sisanya sekitar 10 persen sudah diimunisasi tapi tidak lengkap,” terangnya.
Menurutnya, imunisasi campak ideal diberikan tiga kali, yakni pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 6 tahun. Anak yang hanya mendapat sebagian dosis tetap berisiko tertular. “Misalnya imunisasi di usia 9 bulan dapat, tapi 18 bulan tidak, akhirnya umur 2–3 tahun kena campak,” ucapnya.
Meski sebagian besar pasien dapat sembuh dalam dua minggu, ia mengingatkan bahwa komplikasi campak bisa berbahaya. “Yang kita waspadai pneumonia, diare berat, dehidrasi, bahkan radang otak (ensefalitis). Itu yang bisa fatal,” tegasnya.
Budi menambahkan, imunisasi tetap bisa diberikan meski anak pernah melewatkan jadwal. Bahkan anak usia sekolah dasar yang belum pernah diimunisasi dianjurkan tetap divaksin. “Kalau sudah sembuh dari campak pun, sebulan kemudian bisa diimunisasi lagi. Itu disebut Outbreak Response Immunization,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak terpengaruh isu negatif tentang vaksin. “Hampir semua pasien campak yang dirawat di sini tidak pernah diimunisasi. Jangan sampai anak-anak jadi korban karena orang tua ragu vaksin,” pungkasnya. (bar)
Editor : Hanif