PONTIANAK POST - Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin minta fasilitas umum yang masih kurang lampu penerang untuk dipasangi penerang. Selain dapat memperindah fasum, juga dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan baik bagi masyarakat Pontianak dan pendatang.
“Saya minta agar fasilitas umum yang lampu penerangnya minim dapat ditambahkan penerang. Seperti Taman Akcaya, persis di sebelah rumah Ketua DPRD Provinsi, kalau malam gelap. Lampu penerang di taman itu minim,” ujar Satarudin kepada Pontianak Post, Selasa (9/9).
Menurutnya, jika kondisi taman di waktu malam gelap, justru akan menimbulkan Kesan seram. Alhasil, taman itu akan sepi. Jika sudah sepi takutnya dimanfaatkan oknum untuk hal-hal negatif. Seperti tempat pacaran atau kumpul-kumpul remaja.
Dia optimis, jika penampilan Taman Akcaya dapat ditingkatkan, ke depan akan semakin ramai orang berkunjung ke sana.
Dia juga membenarkan, di malam hari Taman Akcaya juga digunakan oleh pedagang untuk meraup rezeki. Ini sesuatu hal yang positif. Namun untuk taman yang masih kurang pencahayaannya, hendaknya pemerintah juga memasang lampu penerang di sana.
Dengan demikian, di waktu malam titik taman yang masih kurang pencahayaan dapat digunakan masyarakat untuk sekedar bersantai di sana. Namun jika kondisinya gelap, sebagian masyarakat mungkin takut untuk ke sana. Apalagi jika wisatawan ke sini.
Pernyataan Satar juga sekaligus mendorong agar semua fasilitas umum yang ada di Pontianak ini dapat dipelihara. Kemudian dari sisi keamanan juga mesti menjadi perhatian. Sebab ketika masyarakat datang, selain ingin menikmati kenyamanan lokasi tersebut juga mesti aman.
Kalau lokasi fasum tidak aman, banyak peminta-minta hingga preman, ini membuat orang tidak mau datang ke sana. Apalagi jika masyarakat pendatang.
“Bisa jera mereka. Pastinya, pengalaman mereka datang ke Pontianak akan diceritakan kepada keluarga dan orang terdekatnya. Jika cerita mereka banyak yang positif, pastinya mereka akan mengulang datang ke Pontianak. Namun jika cerita itu sebaliknya, ini justru tidak baik bagi kota ini,” katanya.
Dia pun minta Pemkot Pontianak melalui dinas terkait dapat mengevaluasi soal penerang di taman-taman dan fasum yang masih minim ini. Jika belum ada penerang bisa ditambahkan. Ini demi kenyamanan dan keindahan kota juga.
Menurut data tahun 2016, luas ruang terbuka hijau publik di Pontianak mencapai sekitar 1.445 hektar, atau sekitar 13,41% dari total luas wilayah kota. Jumlah ini tersebar dalam beberapa klasifikasi, termasuk taman-taman kota yang menjadi favorit warga.
Di antara sekian banyak taman, Taman Alun-Alun Kapuas menjadi salah satu ikon kota yang paling terkenal. Terletak di tepi Sungai Kapuas, taman seluas tiga hektar ini menyajikan pemandangan khas sungai, dilengkapi dengan air mancur dan replika Tugu Khatulistiwa. Kawasan ini juga dikenal sebagai surga kuliner bagi para pengunjung.
Selain itu, terdapat Taman Digulis Untan yang berlokasi di area Bundaran Digulis. Taman ini dirancang sebagai sentra aktivitas fisik, dilengkapi dengan jogging track, area bermain, spot skateboard, dan lapangan basket. Fasilitas lainnya, seperti WiFi gratis, juga tersedia di sini, menjadikannya tempat ideal bagi mahasiswa dan masyarakat umum.
Tak kalah penting, Taman Akcaya di Jalan Sutan Syahrir menawarkan konsep yang lebih edukatif. Selain area bermain anak-anak, taman ini memiliki rumah baca yang menyediakan koleksi buku untuk publik.
Sementara itu, Taman Tugu Pancasila di Jalan Rahadi Usman berdiri sebagai simbol patriotisme, dengan monumen lambang negara Garuda Pancasila yang megah.
Pemerintah Kota Pontianak telah menetapkan beberapa taman, termasuk Taman Alun-Alun Kapuas, Taman Digulis, dan Taman Catur, sebagai Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA). Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menyediakan fasilitas yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.(iza)
Editor : Hanif