Langit sore Pontianak, Kamis (11/9), menjadi saksi keberangkatan rombongan MTQ XXXIII Kalbar. Usai salat Asar di Masjid Raya Mujahidin, iring-iringan kendaraan yang mengangkut Dewan Hakim, Panitera, Tim IT, dan kafilah dari berbagai kabupaten/kota mulai bergerak. Di bawah kepemimpinan Ketua Umum LPTQ Kalbar, Andi Musa, mereka menempuh perjalanan darat sekitar 14 jam menuju Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu.
Perjalanan ini tidak mudah—melewati jalan berliku, tanjakan curam, dan malam gelap pedalaman Kalimantan Barat. Namun semangat syiar Al-Qur’an membuat lelah berubah menjadi ibadah.
Menjelang fajar, rombongan singgah di Masjid Jamiatul Muslimin, Nanga Tepuai, Hulu Gurung, untuk salat Subuh. Sambutan hangat datang dari pengurus masjid H. Abu Bakar, Hariyono, dan jamaah setempat yang menjamu mereka dengan kopi, teh, kerupuk basah, dan kue tradisional.
Beberapa jam kemudian, di rest area Pengkadan, keramahan warga kembali menyapa. Rombongan Dewan Hakim, kafilah Kota Pontianak, dan Bengkayang menikmati kopi panas, kerupuk basah, pisang rebus, dan aneka kue kampung.
Andi Musa menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya: “Terima kasih kepada panitia dan warga Kapuas Hulu. Persiapan bukan hanya dilakukan di lokasi acara, tetapi juga di sepanjang perjalanan. Mulai dari rest area, pemandu jalan di tanjakan curam, hingga aparat kepolisian dan Satpol PP yang mengatur arus lalu lintas—semua telah memberi rasa aman dan kehangatan bagi kami,” ujarnya.
MTQ XXXIII Kalbar bukan hanya tentang panggung musabaqah. Kehangatan warga, keramahan di rest area, dan kerja sama lintas elemen masyarakat menjadi bukti bahwa syiar Al-Qur’an hidup di sepanjang jalan, dari Pontianak hingga Putussibau.**
Editor : Salman Busrah