PONTIANAK POST - Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Arskal Salim, menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta sangat relevan dengan perkembangan zaman.
Penegasan itu disampaikan Arskal Salim ketiak menjadi narasumber dalam kegiatan Pembinaan Guru Madrasah dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pontianak, Jumat (12/9).
"Kurikulum Berbasis Cinta yang digagas Bapak Menteri Agama menjadi relevan karena dinamika kehidupan sosial, kemajuan teknologi publikasi dan informasi yang luar biasa itu tidak dapat dibentuk dan tidak dapat diatasi hanya dengan semata-mata kurikulum atau paradigma yang lama,” katanya.
Ia menambahkan, kurikulum berbasis cinta ini bukanlah semacam pengetahuan kognisi tapi merupakan pengalaman spiritual emosional yang disampaikan kepada para peserta didik juga dengan pengalaman yang penuh emosi.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik madrasah sekaligus memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendekatan baru dalam dunia pendidikan.
Kurikulum ini menekankan pentingnya nilai kasih sayang, empati, serta pembentukan karakter peserta didik melalui proses pembelajaran yang humanis dan berorientasi pada akhlak mulia.
Ada dua program prioritas Kementerian Agama RI yang saat ini ramai diperbincangkan, yaitu kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi. Kurikulum berbasis cinta ini menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan antarmanusia, tanpa memandang suku, bahasa, atau latar belakang.
Saat ini sedang digalakkan di madrasah dan perguruan tinggi untuk membina murid-murid dan mahasiswa agar memiliki empati, kepedulian, dan sentuhan kemanusiaan sejak dini.
Sedangkan ekoteologi, program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran kolektif antarumat beragama akan pentingnya menjaga bumi sebagai amanah yang diwariskan oleh para leluhur.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalbar, Muhajirin Yanis menyampaikan, pendidikan bukan hanya soal memberikan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter.
"Kurikulum Berbasis Cinta merupakan upaya memberikan kurikulum yang berakar pada nilai-nilai kasih sayang, empati dan akhlak mulia,” katanya.
Muhajirin menambahkan, kurikulum ini bukan hanya soal metode atau strategi pembelajaran, tapi ini adalah transformasi cara pandang dalam mendidik anak-anak bangsa.
“Kurikulum ini mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi bagaimana nilai-nilai kemanusiaan yang di tanamkan sejak dini," ungkap Muhajirin. (mrd/r)
Editor : Hanif