PONTIANAK POST - Penyakit campak kembali menjadi momok di Pontianak dengan lonjakan kasus signifikan yang terjadi sejak 2023 hingga puncaknya pada pertengahan 2025.
Data menunjukkan, mayoritas pasien yang dirawat tidak memiliki riwayat imunisasi lengkap, memicu kekhawatiran akan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi.
Pada periode Januari hingga Maret 2023, Pontianak mencatat 307 kasus campak. Angka ini memicu penelitian yang menemukan bahwa faktor risiko utama penularan adalah status imunisasi yang tidak lengkap dan kontak erat dengan penderita di dalam satu rumah. Pola penyebaran juga terlihat jelas di mana sebagian besar rumah penderita saling berdekatan.
Peningkatan kasus kian mencemaskan pada pertengahan tahun 2025. Sejak Juni hingga Agustus 2025, RSUD Soedarso Pontianak merawat setidaknya 37 pasien rawat inap akibat campak.
Menurut data rumah sakit, sekitar 90 persen pasien yang dirawat tidak pernah menerima imunisasi. Sementara itu, sebagian kecil lainnya meskipun sudah diimunisasi, tetap terinfeksi karena dosis yang tidak lengkap.
Pemerintah terus berupaya meningkatkan cakupan imunisasi. Meski cakupan imunisasi MR1 (campak-rubella) di Kalimantan Barat pada tahun 2024 telah mencapai 92% dan MR2 sebesar 82,3%, lonjakan kasus 2025 mengindikasikan bahwa masih banyak anak-anak yang rentan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko mengatakan sejak Januari hingga kini, terdapat seratus kasus campak. Sebagai upaya mencegah terjadinya kasus campak di Pontianak, dia mengingatkan masyarakat untuk melakukan imunisasi campak pada bayi dan anaknya.
“Terdapat seratus orang terpapar campak. Itu dari data kami (Dinkes) sejak Januari hingga sekarang. Saya minta orang tua yang memiliki bayi 9 sampai 10 bulan melakukan imunisasi campak pada anaknya,” ujar Saptiko kepada Pontianak Post, Rabu (24/9).
Kemudian untuk anak berumur 5 tahun atau duduk di kelas 1 SD dan belum pernah mendapatkan imunisasi campak juga harus diimunisasi. Dengan imunisasi campak imun tubuh kuat dan ini efektif sebagai upaya agar anak tidak terkena campak.
Imunisasi campak bisa dilakukan di puskesmas dan posyandu. Bagi anak sekolah imunisasi bisa jemput bola ke sekolah. Waktunya di bulan imunisasi anak. Kemudian masyarakat jangan takut, sebab imunisasi campak tidak dikenakan biaya.
Pihaknya berupaya mencegah terjadinya kasus campak di Kota Pontianak. Pemkot sudah melakukan sosialisasi, mulai dari seluruh puskesmas, rumah sakit hingga ke media sosial.
Saptiko mengatakan, campak itu bukan hanya ruam dan demam biasa. Penyakit ini menular dan bisa berujung serius bahkan sampai radang otak jika tidak ditangani benar-benar. Penularan campak bisa dari percikan batuk atau bersin, kontak langsung pada orang sakit, sentuhan benda yang terkontaminasi virusnya.
Gejala campak, kata dia, demam tinggi bisa sampai 40 derajat celcius, batuk kering dan pilek, mata merah, ruam dari wajah menyebar ke seluruh tubuh dan ada bintik putih kecil di dalam mulut. “Jika mendapatkan tanda seperti ini segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.
Dikatakan dia, memang terdapat peningkatan kasus campak. Terutama di RS Pontianak Utara, yang informasinya hingga menambah extra bed dan menggunakan ruang triase IGD untuk penanganan lonjakan kasus campak.
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin minta agar penanganan kasus campak dapat dilakukan dengan cepat. Apabila kondisinya semakin meningkat pihak rumah sakit dapat mencarikan solusi dengan menambah bed. Sebab jika kondisi di rumah sakit lain juga terdapat kasus yang sama, lalu dirujuk ke RS lain justru akan memperlambat penanganan.
“Dinkes harus bekerjasama dengan RS lain termasuk RS swasta. Takutnya kejadian ini juga sama dengan di RS swasta,” ujarnya.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan pihaknya terus memantau perkembangan penyakit menular tersebut dengan menggencarkan berbagai upaya pencegahan.
“Pemkot melalui Dinas Kesehatan sudah melakukan pemetaan dan pengawasan di lapangan. Kami juga mendorong vaksinasi rutin serta imunisasi tambahan agar masyarakat, terutama anak-anak, terlindungi dari risiko campak,” ujarnya, Rabu (24/9).
Selain itu, Edi menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan lingkungan serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila ditemukan gejala campak. Ia menyebut koordinasi dengan Puskesmas, rumah sakit, dan kader Posyandu terus ditingkatkan guna mempercepat deteksi dini.
“Kami berharap orang tua tidak menunda imunisasi anaknya. Pencegahan jauh lebih efektif daripada mengobati,” ucapnya.
Pemkot juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga agar memahami gejala serta bahaya campak. Langkah ini dilakukan untuk menekan angka penularan sekaligus memastikan pelayanan kesehatan di Kota Pontianak tetap optimal.(iza)
Editor : Hanif