Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Arwana Super Red Kalbar Tembus 14 Negara: Tiongkok Mendominasi, Tapi Amerika Latin jadi Pasar Baru

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 5 Oktober 2025 | 15:26 WIB

MENYALA: Arwana Super Red berwarna merah menyala dipamerkan di Pontianak Convention Center. Kini ikan hias khas Kalbar ini telah diekspor ke lebih dari 14 negara.
MENYALA: Arwana Super Red berwarna merah menyala dipamerkan di Pontianak Convention Center. Kini ikan hias khas Kalbar ini telah diekspor ke lebih dari 14 negara.

PONTIANAK POST – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan komitmennya dalam mendorong ekspor ikan hias Arwana Super Red asal Kalimantan Barat yang kini menembus pasar 14 negara.

Langkah ini menjadi strategi penting untuk memperkuat devisa sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi biru Indonesia.

“Arwana Super Red asal Kalimantan Barat berhasil menembus pasar 14 negara,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, di Jakarta, Jumat (3/10).

Ia menambahkan, keberhasilan ekspor ikan hias unggulan tersebut bukan hanya menambah devisa negara, tetapi juga membuktikan kemampuan Indonesia dalam mengelola sumber daya perikanan bernilai tinggi secara berkelanjutan.

“Arwana Super Red adalah ikon ikan hias kebanggaan nasional yang telah lama memikat pasar dunia. Permintaan internasional terus meningkat, terutama dari negara-negara Asia, dan kini mulai merambah pasar baru seperti Sri Lanka dan Suriname. Hal ini menjadi bukti pengakuan dunia atas kualitas budidaya arwana Indonesia,” jelas Koswara.

Data KKP mencatat, sepanjang 2024 ekspor Scleropages formosus asal Kalimantan Barat mencapai 161.066 ekor dengan tujuan utama Tiongkok (89 persen), Vietnam (8 persen), dan Taiwan (3 persen).

Sementara pada periode Januari hingga 29 September 2025, tercatat 573 dokumen ekspor dengan total 105.357 ekor arwana dikirim ke 14 negara, termasuk pasar baru di Asia Selatan dan Amerika Latin.

Koswara menegaskan, seluruh ekspor arwana wajib mematuhi regulasi nasional dan internasional. Sebagai spesies yang dilindungi penuh dan termasuk dalam Appendiks I CITES, perdagangan arwana diatur melalui Permen KP No. 61/2018 dan Kepmen KP No. 1/2021. “Pengawasan dilakukan secara ketat untuk memastikan kelestarian spesies,” ujarnya.

Selain memperkuat devisa, KKP berharap keberhasilan ekspor ini memperkokoh posisi Indonesia sebagai pusat budidaya ikan hias dunia yang berlandaskan prinsip keberlanjutan.

“Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara konservasi dan ekonomi, agar Arwana Super Red tetap lestari sekaligus menjadi kebanggaan Indonesia di pasar global,” kata Koswara.

Ekspor Arwana Super Red periode September 2025 dilepas langsung dari Pelabuhan Dwikora Pontianak, bersamaan dengan kunjungan kerja spesifik Komisi IV DPR RI ke Kalimantan Barat. Kegiatan tersebut juga bertepatan dengan Bulan Bakti Kelautan dan Perikanan dalam rangka HUT ke-26 KKP.

Rangkaian acara turut mencakup peninjauan lokasi pengembangbiakan arwana di PT Wajok Inti Lestari, Kabupaten Kubu Raya. Rombongan dipimpin oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto).

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

 

Ekspor Sempat Setop

Setelah sempat terhenti, ekspor ikan hias Arwana Super Red asal Kalimantan Barat kembali menggeliat. Ketua Umum Asosiasi Penangkar dan Pedagang Siluk Indonesia (APPSI), Eri Hikmatul Basyir, menjelaskan bahwa ekspor sempat terhenti akibat pencabutan status internasional Bandara Supadio.

Kini, setelah status internasional dikembalikan, proses Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) bisa kembali dilakukan langsung dari Kalbar tanpa harus melalui daerah lain.

“Kalbar merupakan pusat produksi Arwana Super Red yang sudah mendunia. Dengan kembalinya Supadio sebagai bandara internasional, ekspor bisa dilakukan langsung dari daerah asalnya,” ujarnya.

Eri menilai, langkah ini membuka peluang ekspor lebih luas dan menjadi angin segar bagi kebangkitan ekonomi daerah.

Selain menumbuhkan kembali kepercayaan pelaku usaha, kemudahan ekspor juga memperkuat posisi Kalbar sebagai sentra ikan hias unggulan nasional.

Dari sisi teknis, ekspor langsung melalui Pontianak dinilai sangat efisien karena memangkas waktu perjalanan dan pemeriksaan.

“Ini sangat penting, karena arwana adalah makhluk hidup. Semakin singkat waktu ekspor, semakin kecil risiko kematian atau kerusakan selama pengiriman,” jelasnya.

“Kami berharap Kalbar bisa memiliki penerbangan langsung ke kota-kota besar luar negeri, khususnya Guangzhou yang menjadi pasar terbesar arwana. Selain itu, pasar baru seperti India dan Kamboja perlu dibuka, karena selama ini peminat di sana lebih banyak membeli dari Thailand dan Vietnam. Padahal, Arwana Super Red asli hanya bisa diproduksi di Indonesia, terutama di Kalimantan Barat,” pungkasnya. (ant/bar)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#ekspor #super red #amerika #arwana