Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Sapa Makmun, Inovasi Puskesmas Banjar Serasan Pontianak Dekatkan Akses Imunisasi

Mirza Ahmad Muin • Minggu, 5 Oktober 2025 | 15:35 WIB

PAPARAN : Dokter umum di Puskesmas Banjar Serasan, dr. M. Lazen Zulfikar, saat menjelaskan tentang penyakit campak yang kini tengah mengalami kenaikan kasus di Kota Pontianak.
PAPARAN : Dokter umum di Puskesmas Banjar Serasan, dr. M. Lazen Zulfikar, saat menjelaskan tentang penyakit campak yang kini tengah mengalami kenaikan kasus di Kota Pontianak.

PONTIANAK POST – Puskesmas Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, meluncurkan program inovasi Sapa Makmun atau Sambangi Pasien Mendekatkan Akses Imunisasi.

Inovasi ini bertujuan meningkatkan cakupan imunisasi dan menekan lonjakan kasus campak yang tengah meningkat di wilayah tersebut.

Berdasarkan data kasus suspek campak dari minggu ke-1 hingga ke-37 tahun 2025, terdapat 20 kasus yang terdata di Puskesmas Banjar Serasan.

Kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia 1–4 tahun sebanyak 11 kasus, disusul usia di bawah 1 tahun, 5–9 tahun, dan 10–14 tahun masing-masing tiga kasus.

“Kasus campak paling banyak dialami anak yang tidak pernah imunisasi, sekitar 60 persen. Berdasarkan jenis kelamin, 60 persen laki-laki dan 40 persen perempuan,” jelas dr. M. Lazen Zulfikar saat peluncuran program Sapa Makmun di Puskesmas Banjar Serasan.

Menurutnya, campak bukan penyakit ringan. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, hidung tersumbat, mata merah, dan bintil merah di wajah yang menyebar ke seluruh tubuh. Penyebarannya sangat mudah melalui percikan batuk atau bersin penderita.

Program Sapa Makmun diluncurkan Kamis (2/10) sebagai strategi jemput bola agar imunisasi semakin mudah diakses masyarakat.

Kepala Puskesmas Banjar Serasan, Rusnaini, mengatakan masih banyak warga terkendala mengantar anak imunisasi karena faktor kesibukan dan keterbatasan.

“Kadang orang tua mau anaknya imunisasi, tapi tidak ada yang mengantar atau harus menjaga rumah dan adik lainnya,” katanya.

Melalui Sapa Makmun, petugas puskesmas bisa mendatangi rumah warga, menjemput pasien, atau membuat janji di posyandu terdekat. “Yang penting imunisasi tidak lagi sulit diakses,” ujarnya.

Selain masalah akses, Rusnaini menyebut hoaks dan kelompok antivaksin turut menjadi penyebab menurunnya imunisasi. Padahal, data menunjukkan anak yang mendapat imunisasi jauh lebih terlindungi dari campak.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat segera melaporkan setiap kasus dengan gejala campak agar mendapat penanganan cepat. “Langkah dini sangat penting. Jangan tunggu kasus meluas baru bertindak,” tegasnya.

Edi menjelaskan, peningkatan kasus campak di Kota Pontianak disebabkan rendahnya cakupan imunisasi. Dari target 80 persen sasaran imunisasi sebanyak 10.738 anak, baru 45,6 persen atau 4.787 anak yang telah diimunisasi hingga Oktober 2025.

“Anak-anak yang belum lengkap imunisasinya harus segera mendapat perlindungan. Kami dorong percepatan imunisasi rutin dan imunisasi kejar,” katanya.

Ia juga meminta sekolah berperan aktif melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). “Sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga garda depan menjaga kesehatan generasi muda,” ujarnya.

Wali Kota turut menginstruksikan peningkatan kewaspadaan di seluruh fasilitas kesehatan dan percepatan laporan setiap temuan kasus campak untuk investigasi epidemiologi. Ia juga mendorong penggunaan seluruh kanal informasi pemerintah untuk edukasi masyarakat.

“Media pemerintah harus aktif mengingatkan warga melalui media sosial, website, dan papan informasi di lapangan,” kata Edi.

Ia menegaskan pentingnya peran tokoh agama, masyarakat, organisasi perempuan, dan kader kesehatan dalam menyukseskan imunisasi. “Keberhasilan imunisasi bergantung pada kebersamaan. Kalau semua pihak bergerak, kasus campak bisa kita tekan,” ujarnya.

Edi pun mengingatkan para orang tua agar disiplin membawa anak ke posyandu atau fasilitas kesehatan. “Bagi anak usia 0–5 tahun, jangan tunda imunisasi. Untuk anak sekolah, manfaatkan program BIAS. Ini semua demi kesehatan generasi kita ke depan,” tutupnya. (iza)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#SAPA #puskesmas #pontianak #inovasi #banjar serasan