Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

RSUD Pontianak Catat Lonjakan Kasus Campak, Dokter Peringatkan Risiko Radang Otak

Marsita Riandini • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 12:11 WIB

 

Kenali gejala awal campak dan cara pencegahannya.
Kenali gejala awal campak dan cara pencegahannya.

PONTIANAK POST – RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie atau SSMA Kota Pontianak mencatat adanya kasus campak pada anak sebanyak 36 orang pada bulan September 2025.

Kondisi ini harus diantisipasi sehingga pentingnya perhatian bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. RSUD SSMA Kota Pontianak pun mengajak masyarakat untuk mengenali penyakit campak dan mencegahnya sebelum terinfeksi.

Nihayatus Solikhah, Dokter di RSUD SSMA Kota Pontianak mengatakan, campak atau rubeola adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus morbili. Penyakit ini sering dianggap sepele karena mirip flu biasa di awalnya.

Padahal campak bisa menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Campak dapat dicegah dengan efektif melalui imunisasi terutama vaksin MMR atau Measles, Gondongan, Rubella yang diberikan pada usia bayi dan anak-anak usia 9 – 12 bulan. Selain vaksin, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan penderita campak, serta memperkuat sistem imun melalui pola makan sehat dan istirahat cukup sangat dianjurkan.

“Dengan adanya peningkatan kasus campak, menjadi peringatan keras bahwa imunisasi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Setiap anak berhak terlindungi dari penyakit berbahaya yang sebenarnya bisa dicegah," paparnya.

Menurut Nihayatus, campak tidak langsung menimbulkan ruam sejak awal, melainkan ditandai munculnya demam tinggi mendadak, pilek, batuk kering, mata merah dan berair, nafsu makan menurun, dan badan lemah.

“Adapun ruam kemerahan yang muncul mulai dari wajah, leher, kemudian menyebar ke seluruh tubuh, merupakan gejala lanjutan yang khas dari penyakit campak, dan biasanya demam semakin tinggi saat ruam keluar,” jelasnya.

Nihayatus mengatakan, campak sangat mudah menular, bahkan penderita bisa menularkan empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelah ruam keluar. Penularan bisa melalui udara, percikan batuk, bersin dan melalui kontak dengan orang yang sakit maupun permukaan yang terkontaminasi.

“Campak tidak boleh dianggap enteng karena bisa menimbulkan komplikasi yang serius, seperti pneumonia atau radang paru-paru, diare berat, infeksi telinga, hingga radang otak atau ensefalitis yang bisa berakibat fatal,” tuturnya.

Menurutnya, apabila seseorang pernah terkena campak, secara umum mereka tidak akan terkena lagi karena tubuh sudah membentuk kekebalan terhadap virus tersebut.

Namun, pada kasus yang sangat jarang, infeksi ulang bisa saja terjadi terutama jika kekebalan tubuh menurun drastis.

Sebelumnya, RSU) Soedarso juga mencatat lonjakan kasus suspek campak atau morbili sepanjang Agustus hingga September 2025. Hingga Jumat (26/9), sebanyak 14 pasien suspek campak sedang dirawat di ruang isolasi anak rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar itu.

Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi, mengatakan pihaknya telah menambah kamar, dan tempat tidur khusus isolasi untuk menampung pasien. “Saat ini ada 14 pasien suspek campak yang dirawat menggunakan enam kamar isolasi,” ujar Hary. 

Sepanjang Agustus–September, tercatat 61 pasien suspek campak masuk ke RSUD Soedarso. Mayoritas pasien, atau sekitar 90 persen tidak pernah mendapatkan imunisasi. Sementara 10 persen lainnya belum memperoleh vaksin Measles Rubella (MR) dosis lanjutan. “Hal ini penting diinformasikan kepada masyarakat, dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota terkait pentingnya imunisasi,” jelasnya. 

Hingga minggu ke-38 (21 September 2025), tidak ditemukan kasus kematian akibat campak di RSUD Soedarso. Namun, tren peningkatan kasus terlihat sejak minggu ke-22 (27 Mei 2025) dengan puncak pada minggu ke-37. Kota Pontianak dan Kabupaten Mempawah tercatat sebagai wilayah dengan laporan kasus suspek tertinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Saptiko mengatakan sejak Januari hingga kini, terdapat seratus kasus campak. Sebagai upaya mencegah terjadinya kasus campak di Pontianak, dia mengingatkan masyarakat untuk melakukan imunisasi campak pada bayi dan anaknya.

“Terdapat seratus orang terpapar campak. Itu dari data kami (Dinkes) sejak Januari hingga sekarang. Saya minta orang tua yang memiliki bayi 9 sampai 10 bulan melakukan imunisasi campak pada anaknya,” ujar Saptiko, belum lama ini

Kemudian untuk anak berumur 5 tahun atau duduk di kelas 1 SD dan belum pernah mendapatkan imunisasi campak juga harus diimunisasi. Dengan imunisasi campak imun tubuh kuat dan ini efektif sebagai upaya agar anak tidak terkena campak.

Imunisasi campak bisa dilakukan di puskesmas dan posyandu. Bagi anak sekolah imunisasi bisa jemput bola ke sekolah. Waktunya di bulan imunisasi anak. Kemudian masyarakat jangan takut, sebab imunisasi campak tidak dikenakan biaya.(mrd)

Editor : Hanif
#daya tahan tubuh #kasus campak #rsud ssma #Cegah Komplikasi #kota pontianak #imunisasi