PONTIANAK POST -Pemerintah Kota Pontianak melalui dinas terkait langsung melakukan penataan terhadap ikon Tugu Jam Tiga muka yang dikritik masyarakat karena telah terlindung rimbunnya pohon, Minggu kemarin.
Masyarakat berharap, tindakan tersebut juga bisa dilakukan dengan ikon lainnya yang terlindung rimbunnya pohon.
“Ikon jam tiga muka itukan ada sejarahnya. Namun kondisinya kemarin justru tertutup dengan rimbunan pohon. Ini sempat diperbincangkan masyarakat. Kenapa tak dipangkas sehingga ikon itu bisa dilihat masyarakat ketika melintas. Alhamdulilah setelah mendapat banyak permintaan masyarakat, pepohonan di sana telah dipangkas. Kini ikon jam itu sudah dapat dilihat masyarakat ketika melintas,” ujar salah satu warga Pontianak, Tono kepada Pontianak Post, Minggu (12/10).
Sebagai warga Pontianak, dia berharap Wali Kota Pontianak dapat mempertimbangkan kebijakan terhadap tata kelola pepohonan ini. Sebab dalam sepekan, ketika kejadian hujan disertai dengan angin kencang cukup banyak pohon besar yang tumbang.
Kerugian ini didapati masyarakat. Seperti mobil ketimpa pohon dan sudah pasti akibat kejadian itu akan memakan biaya yang tak sedikit.
Persoalan lain, pastinya tentang keberadaan ikon Kota Pontianak yang kondisinya sudah banyak tertutupi rimbunnya pohon.
Menurutnya, ketika ikon kota justru semakin tenggelam akibat tertutup rimbunnya pepohonan, ke depan keberadaan ikon sebagai sejarah penanda kota akan semakin pudar.
“Di bundaran Kota Baru, itu ikon Pontianak juga sudah mulai tertutup pepohonan. Jangan sampai nanti malah tertutup, kan sayang. Ikon itu penanda kota. Bagi masyarakat luar, ketika melewati satu ikon pasti akan menjadi bahan perbincangan. Mereka ingin tahu cerita tentang setiap ikon yang berdiri di Kota Pontianak,” ujarnya.
Diketahuinya, Wali Kota dalam urusan tata kelola pohon memang tak mau sembarangan melakukan penebangan. Alhasil, proses penebangan setiap batang pohon di Pontianak harus diketahui dan atas persetujuan Wali Kota Pontianak.
Namun sebagai warga, juga berhak bertanya, ketika aturan tersebut diberlakukan, masyarakat juga harus diberikan rasa aman terhadap keberadaan pepohonan ini.
Terutama bagi keberadaan pohon yang sudah lapuk, dan rawan tumbang. Sudah semestinya dilakukan penindakan secepatnya.
Jangan sampai ketika pohon tumbang menimpa dan memakan korban baru pemerintah melakukan tindakan.
"Niat Wali Kota untuk membuat Pontianak teduh itu bagus. Namun sebaiknya juga harus dilakukan dengan pemantauan berkala terhadap semua pepohonan yang ada di Pontianak ini. Terutama kondisi dari pohon-pohon itu," katanya.
“Jika ditanam, kemudian pohon dibiarkan rimbun dan tumbuh besar, tanpa diketahui kondisi kekuatan dari pohon inikan juga salah. Sebab Pontianak ini rawan kejadian angin puting beliung. Ini menjadi tugas dinas terkait melakukan pemantauan terhadap tata kelola pepohonan ini,” ta,bahnya lagi.
Sebagai informasi, Tugu Jam Tiga Muka ini dipasang pada 1937 sebagai hadiah dari pemerintah Kerajaan Belanda untuk memperingati pernikahan Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard.
Jam ini juga menjadi simbol hubungan erat antara Belanda dan Pontianak di masa pemerintahan Sultan Hamid II. Kondisinya kini justru miris. Sebab, penanda waktunya sudah tak lagi berfungsi seperti sedia kala.
Ketua DPRD Kota Pontianak Satarudin mendorong agar pemkot melakukan inventarisir terhadap keberadaan pohon yang ada di Pontianak.
Seperti jumlah pohon yang tumbuh di fasum berapa jumlahnya, kemudian bagaimana dengan keberadaan kondisi dari semua pohon itu. Apakah akarnya masih kuat atau justru rawan patah.
Menurutnya, dinas terkait sudah harus menciptakan inovasi terhadap pemantauan tata kelola pohon di Pontianak.
Dalam inovasi tersebut, selain dapat mengetahui jumlah pohon, jenis pohon, paling penting mereka harus memiliki dada kekuatan dari pohon ini.
Jika pohon tersebut sudah tua dan rawan patah, intervensi mesti dilakukan. Jangan sampai kejadian pohon menimpa mobil ini kembali terjadi, sebab sudah merugikan masyarakat.
Soal ikon Kota Pontianak kini justru tertutup rimbunnya pepohonan, Satar meminta agar dinas terkait melakukan perawatan terhadap pepohonan itu.
"Jika memang mesti dipangkas agar ikon kota kembali terlihat kenapa tidak. Sebab ikon Pontianak itukan penanda perjalanan sejarah kota ini. Sudah sebaiknya dirawat," katanya. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro