PONTIANAK POST - Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi Universitas Muhammadiyah Pontianak (UM Pontianak) bekerja sama dengan Klinik Anak Mandiri Indonesia (AMI) menggelar kegiatan Pelatihan Sensory Play untuk Orang Tua bertema “Main Seru, Cegah Hambatan Sensorik.”
Kegiatan ini dilaksanakan di Klinik AMI, Jl. Parit H. Husin Komplek The Heritage No. B7, Pontianak Tenggara, dan diikuti oleh 11 orang tua yang memiliki anak berusia 2–6 tahun.
Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat yang bertujuan membekali orang tua agar mampu menjadi agen stimulasi dini yang efektif dalam mendukung tumbuh kembang anak di rumah.
Pelatihan dipandu oleh Tim Dosen Psikologi, Risna Hayati, M.Psi., Psikolog dan Widya Lestari, M.Psi., Psikolog, serta dibantu mahasiswa Psikologi Deswita Ayu Namira. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari pihak Klinik AMI yang dipimpin oleh Dr. Dien Novita, S.P., S.H., M.Kn., selaku penanggung jawab. Selama pelatihan peserta mendapatkan pemaparan materi tentang konsep dasar sistem sensori dan pentingnya stimulasi dini, disertai praktik langsung sensory play dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di rumah, seperti slime, beras, spoon mandi, kacang, dan botol bekas.
“Harapannya orang tua bisa mengaplikasikan pengalaman yang didapat untuk membantu stimulasi anak di rumah,” kata Dien penanggung jawab Klinik AMI. Keterlambatan tumbuh kembang anak merupakan masalah serius yang hampir dijumpai di berbagai negara di dunia. Anak yang mengalami keterlambatan perkembangan memerlukan perhatian dan penanganan khusus agar dapat mencapai tahapan perkembangan yang optimal.
Salah satu faktor penting yang sering tidak disadari orang tua maupun pendidik adalah adanya gangguan pemrosesan sensorik (sensory processing disorder), yaitu kondisi ketika otak anak mengalami kesulitan dalam menerima, mengolah, dan merespons informasi sensorik secara tepat (Miller, Anzalone, Lane, Cermak, & Osten, 2007). Gangguan ini dapat berdampak luas terhadap kemampuan anak dalam berinteraksi sosial, belajar, serta mengatur emosi dan perilaku sehari-hari.
Beberapa penelitian di Indonesia, termasuk di wilayah Pontianak, menunjukkan adanya peningkatan jumlah anak dengan hambatan tumbuh kembang yang berkaitan dengan minimnya stimulasi sensorik di rumah serta keterbatasan pengetahuan orang tua mengenai pentingnya stimulasi dini (Kemenkes RI, 2023).
Oleh karena itu, kegiatan Pelatihan Sensory Play untuk Orang Tua diharapkan dapat memperkuat peran orang tua sebagai agen stimulasi dini yang aktif, peka, dan terampil dalam menciptakan pengalaman bermain yang edukatif dan terapeutik bagi anak.
Hubungan sensori dan otak yaitu sistem sensori berperan penting dalam membantu otak memproses informasi dari lingkungan. Informasi dari indera akan diteruskan ke otak bagian tengah (thalamus) dan disalurkan ke area otak khusus sesuai fungsi masing-masing indera.
Proses ini disebut integrasi sensori (sensory integration), yaitu kemampuan otak untuk menggabungkan informasi dari berbagai indera agar anak mampu fokus, tenang, dan merespons dengan tepat. Jika integrasi sensori berjalan baik, anak dapat bermain, belajar, dan berinteraksi secara lancar. Namun jika terganggu, anak dapat mengalami hambatan sensori, seperti: Sensory seeking: mencari sensasi berlebihan (suka berlari, berputar, atau menyentuh semua benda), Sensory avoiding: menghindari sensasi (menutup telinga saat suara keras, tidak suka disentuh, sensitif terhadap tekstur), Sensory under-responsive: kurang responsif terhadap rangsangan (tidak sadar saat kotor atau lambat merespons panggilan), dan kesulitan integrasi multisensori: mudah bingung, sulit fokus, cepat lelah di lingkungan ramai.
Dampak dari hambatan ini dapat terlihat pada kemampuan belajar, pengendalian emosi, kemandirian, dan interaksi sosial anak. Mengapa sensory play? Sensory play merupakan kegiatan bermain yang melibatkan seluruh indera anak, penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman dan gerakan tubuh.
Tujuannya adalah menstimulasi dan menyeimbangkan sistem sensori anak, sehingga otak belajar memproses informasi dengan lebih baik. Bermain adalah cara alami anak belajar dan bereksplorasi. “Sederhananya tubuh kita ini dari atas kepala sampai ujung kaki perlu mendapatkan pengalaman, karena anak itu belajar dari kehidupannya,” kata Risna dosen psikologi UM Pontianak.
Selain itu lanjut Risna melalui sensory play, anak belajar memahami dunia dengan cara yang menyenangkan, sedangkan orang tua berperan penting sebagai fasilitator yang mengarahkan stimulasi secara positif. “Bermain adalah media paling baik untuk menstimulasi tumbuh kembang anak, karena dengan bermain anak dapat belajar, tambah Widya dosen psikologi UM Pontianak.
Peserta juga diajak merefleksikan pengalaman bermain serta mendiskusikan kebutuhan sensori unik anak masing-masing. Peserta terlihat antusias bertanya dan ingin mengetahui hambatan yang terjadi pada anak mereka. Banyak diantara peserta terlihat menggangguk dan tersenyum menunjukkan sikap pemahaman baru mengenai cara menstimulasi yang harus dilakukan untuk anak mereka di rumah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaboratif antara Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Kesehatan dan Psikologi UM Pontianak dan klinik AMI untuk mendukung tumbuh kembang anak Indonesia yang sehat, adaptif dan bahagia.(vie/ser)