Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kemacetan di Pontianak Jadi PR Besar, Butuh Transportasi Massal dan Pembangunan Ring Road

Idil Aqsa Akbary • Kamis, 23 Oktober 2025 | 10:07 WIB
Logo HUT ke 254 Kota Pontianak.
Logo HUT ke 254 Kota Pontianak.

PONTIANAK POST - Hari jadi ke-254 Kota Pontianak yang jatuh pada 23 Oktober 2025 menjadi momentum untuk melihat kembali wajah kota ini sebagai ibu kota Kalbar yang terus tumbuh dinamis. Di tengah semangat “Wujudkan Kota Pontianak Bersahabat”, banyak capaian telah diraih, namun sejumlah tantangan juga masih perlu ditangani secara berkelanjutan.

Kemacetan menjadi persoalan yang kian terasa di kota ini. Meski belum separah kota besar lainnya, kondisi ini dinilai bisa menjadi masalah serius di masa depan jika tak diantisipasi sejak dini.

Warga Pontianak Timur, Jefri, mengatakan kemacetan kini sudah tak terelakkan, terutama bagi warga di seberang Sungai Kapuas. Titik paling rawan terjadi di Jembatan Kapuas I. Meski jembatan itu telah diduplikasi menjadi dua, kemacetan di jam-jam sibuk tetap terjadi.

“Pagi saat berangkat kerja, dan sekolah, juga sore waktu pulang, itu pasti padat. Apalagi waktu feri penyeberangan sempat berhenti beroperasi, Jembatan Kapuas I dan II langsung macet parah,” ungkapnya.

Ia berharap pemerintah menyiapkan solusi konkret untuk mengurai kepadatan arus kendaraan dari arah Pontianak Timur, dan Utara menuju pusat kota. “Ini memang perlu dipikirkan sejak sekarang, agar ke depan tidak menjadi masalah yang berkelanjutan,” harapnya. 

Warga Pontianak Tenggara, Rini, juga merasakan hal serupa. Menurutnya, ruas jalan di pusat kota seperti Jalan Ahmad Yani juga kerap macet pada jam-jam tertentu. “Memang tidak sampai berhenti total, tapi cukup padat, dan butuh waktu lama untuk melintas. Ke depan tentu harus ada solusi karena jumlah kendaraan pasti terus bertambah,” ujarnya.

Ia menyebutkan, beberapa titik lain seperti Jalan Paris I menuju Jalan Padat Karya juga sering padat. Kondisi jalan yang sempit memperburuk situasi. “Mungkin bisa mulai dipikirkan pembangunan outer ring road,” tambahnya.

Sebagai lulusan perguruan tinggi di Pulau Jawa, Rini menilai Pontianak perlu mengembangkan transportasi massal seperti di kota-kota besar lain. “Kalau ada pilihan seperti bus dalam kota atau angkot yang nyaman, orang tidak harus pakai kendaraan pribadi terus,” katanya.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Kalimantan Barat (Kalbar), Slamet Widodo, menilai persoalan transportasi di Pontianak memang kompleks, dan butuh perhatian serius.

“Pontianak bagian selatan atau tenggara untuk lalu lintas arah timur dan sebaliknya sangat bergantung pada Jalan Ahmad Yani, Imam Bonjol, dan Adisucipto. Kedua ruas ini menanggung beban lalu lintas besar,” jelas Slamet yang juga Dekan Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan) itu.

Menurutnya, kemacetan di Jembatan Kapuas I, dan duplikatnya kerap terjadi karena arus kendaraan yang menuju Jalan Tanjung Raya II terhambat, terutama di sekitar RS Yarsi. “Program transportasi umum saat ini belum berjalan optimal. Padahal tanpa transportasi massal, Pontianak bisa menghadapi ‘bom waktu’ kemacetan. Kapasitas jalan kita terbatas,” tegasnya.

Selain itu, rencana pembangunan ring road yang diharapkan mampu mengurai kemacetan, juga harus segera direalisasikan. Banyak angkutan barang antar kota masih harus melintasi ruas dalam kota.

“Seharusnya truk-truk besar tidak perlu masuk kota. Tapi karena belum ada ring road yang menghubungkan kawasan barat dan timur seperti Komyos Sudarso dan Kubu Raya, arus logistik tetap melintas di dalam kota,” katanya.

Slamet menjelaskan, berdasarkan teori transportasi, ada dua hal utama yang dibutuhkan untuk mengurai kemacetan. Pertama subsidi, dan yang kedua prioritas kendaraan umum. “Peran Pemerintah Kota (Pemkot) sangat menentukan. Selain kemauan untuk menata transportasi, perlu ada subsidi, dan jalur khusus bagi kendaraan umum agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi,” pungkasnya.

 

Tiang Listrik Terkejut hingga Kota Seribu Parit

Pengamat sosial politik Kalbar, Erdi, menilai Pontianak kini tak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga tumbuh menjadi kota budaya dengan karakter khas masyarakatnya. “Pontianak sering dihubungkan dengan ‘kuntilanak’, tapi kota ini bukan kota hantu. Justru kota yang bersahabat, dan simbol kebersamaan,” ujar Erdi yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untan itu.

Ia menjelaskan, Pontianak kini dikenal sebagai kota dengan banyak warisan budaya tak benda, di antaranya Bahasa Melayu Pontianak, Meriam Karbit, Tenun Corak Insang, Tradisi Arakan Pengantin, Saprahan Melayu, hingga kuliner khas seperti Pacri Nanas dan Sayur Keladi. “Ke depan, akan muncul lebih banyak lagi warisan budaya baru sebagai wujud kreativitas masyarakat kota,” katanya.

Menurut Erdi, kemajuan Pontianak juga bisa dilihat dari berbagai indikator pembangunan perkotaan. Salah satunya jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat. Dari total 3,5 juta kendaraan terdaftar di Kalimantan Barat, sekitar 808.799 unit atau 28,25 persennya berada di Kota Pontianak.

“Dari 333 ribu penduduk dewasa di Pontianak, hampir semuanya memiliki kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil. Tanda kemajuan kota juga terlihat dari pelat kendaraan yang kini sudah memakai tiga huruf di belakang angka,” ungkapnya.

Sektor ekonomi dan layanan publik juga menunjukkan perkembangan pesat. Selain bank-bank milik pemerintah, kini terdapat 38 bank swasta nasional dan internasional yang beroperasi di Pontianak. Dengan demikian, kebutuhan layanan keuangan digital telah mencapai 100 persen. “Ini bukti kolaborasi antara pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat berjalan baik,” tambahnya.

Erdi juga menyoroti sejumlah fenomena unik hasil pembangunan kota, salah satunya “tiang listrik terkejut”. Tiang listrik yang tadinya berdiri di tengah jalan kini dipindah ke pinggir karena pelebaran jalan. “Itu simbol bahwa pemerintah kota serius melakukan penataan demi pelayanan publik yang lebih baik,” katanya.

Dalam aspek tanggap darurat bencana, Pontianak dinilai salah satu yang tercepat di Indonesia. “Hanya butuh 15 menit sejak laporan diterima, padahal standar BNPB 72 jam. Ini capaian luar biasa,” puji Erdi.

Selain itu, sistem pengaduan layanan publik melalui WhatsApp juga dinilai efektif. Masyarakat dapat menyampaikan keluhan langsung ke nomor resmi pemerintah kota. “Wali kota bisa memantau dan langsung menindaklanjuti. Ini wujud transparansi dan pelayanan cepat,” jelasnya.

Meski begitu, Erdi mengingatkan masih ada beberapa hal yang perlu dijaga ke depan. “Pertama, fungsi parit harus dipertahankan sebagai identitas Pontianak sebagai Kota Seribu Parit. Kedua, pembangunan harus lebih merata, terutama bagi warga di seberang seperti Pontianak Timur dan Utara. Ketiga, kota perlu dibersihkan dari pengemis, dan gelandangan sesuai amanat Perda Nomor 19 Tahun 2021,” paparnya.

Menurutnya, jika langkah-langkah ini dijalankan konsisten, Pontianak akan benar-benar menjadi kota bersahabat, dan modern tanpa kehilangan akar budayanya. “Selamat Ulang Tahun ke-254 Kota Pontianak, seiring ucapan, Wujudkan Kota Pontianak Bersahabat,” tutupnya. (bar)

Editor : Hanif
#pembangunan #kemacetan #kelancaran lalu lintas #pontianak #transportasi massal #realisasikan #ring road