Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Penggunaan Rotator Sirene Patwal Pejabat di Pontianak Dikeluhkan Pengendara

Mirza Ahmad Muin • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 12:45 WIB
Ilustrasi sepeda motor patwal Polri yang dilengkapi strobo dan rotator untuk pengawalan.
Ilustrasi sepeda motor patwal Polri yang dilengkapi strobo dan rotator untuk pengawalan.

PONTIANAK POST - Penggunaan Pengamanan Lalu Lintas (Patwal) oleh pejabat di tataran Provinsi Kalimantan Barat dengan bunyi rotator sirine di jalan-jalan dengan kondisi ramai pengendara, justru dikeluhkan oleh pengendara. Masyarakat minta kegiatan dengan pengawalan Patwal cukup dilakukan untuk hal-hal yang urgensi saja.

“Saya terkejut saat mengendarai kendaraan. Tiba-tiba bunyi rotator sirine dari belakang. Suaranya nyaring. Rupanya salah satu kendaraan petinggi di Kalbar lewat Jalan M Sohor,” kata Herman, pengendara kepada Pontianak Post, Jumat (24/10).

Dia mempertanyakan kaitan dengan iringan patwal pejabat tersebut. Sebab arah kendaraan justru menuju ke rumah pejabat. Bukan menuju ke kantor. Pertanyaannya apakah di dalam mobil tersebut sudah ada pejabatnya atau justru dalam kendaraan yang diiringi patwal itu justru kosong tanpa pejabat. Jika kosong, artinya ini tidak ada urgensinya.

Menurutnya hal-hal yang memang tidak ada urgensinya sudah seharusnya tidak perlu menggunakan rotator sirine. Sebab ketika berada di jalan, semua pengendara mendapat hak yang sama sebagai pengguna jalan. Kalau alasannya karena kesibukan pejabat sebetulnya masyarakat juga memiliki kesibukan sama.

Kalaupun mau tidak macet, sudah semestinya datang lebih awal untuk menjemput pejabat tersebut. Sehingga ketika kondisi jalan masih lengang mobil pejabat tidak perlu membunyikan rotator ketika berkendara di jalan.

Hal senada dikatakan Ivan. “Penggunaan rotator sirine mobil pejabat ini kalau di Indonesia terlalu dinormalisasi. Harusnya mereka juga disamakan saja haknya dengan pengendara lain. Karpet merah itu cukup untuk ambulance dan damkar, sebab itu pasti urgensi,” ujarnya.

Jika kepentingan pejabat tidak terlalu mendesak sebaiknya sudahi saja penggunaan rotator sirine ini. Hanya membuat pengendara terganggu dan terkejut saja mendengarkan rotaror sirine yang nyaring ini. Bahkan akibat patwal yang lewat, hampir saja mereka menyerempet salah satu pengendara motor. Untung saja pengendara tersebut tidak terjatuh.

Apalagi kondisi jalan di Kota Pontianak tidak begitu besar. Volume kendaraan setiap tahun makin bertambah. Jika dalam keadaan macet, patwal lewat dengan rotator sirinenya, justru nampak keegosian kendaraan patwal ingin cepat sampai meski situasi jalan dalam keadaan macet. Padahal di satu sisi pengendara lain juga ingin cepat sampai ke tujuan dikarenakan juga memiliki kesibukan yang sama.

“Inilah yang harus dirubah. Pejabat mesti merasakan situasi macet di jalan, dengan merasakan kemacetan, mungkin mereka bisa memiliki ide bagaimana menyusun master plan penanganan kemacetan khususnya di Kota Pontianak. Kalau tak pernah merasakan macet karena akses jalannya selalu mulus didampingi Patwal, mungkin persoalan kemacetan tidak menjadi suatu yang mesti diseriusi oleh pejabat, karena mereka tak pernah merasa macet-macetan,” ungkapnya.(iza) 

Editor : Hanif
#pengendara #Urgensi #sirine #rotator #pontianak #Patwal Pejabat #mengganggu #masyarakat