Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kehidupan yang Datang dan Pergi di Pasar Tua Pontianak: Jejak Ekonomi, Sungai, dan Waktu

Novantar Ramses Negara • Senin, 27 Oktober 2025 | 10:38 WIB

 

caption

PONTIANAK POST - Usianya tak lagi muda, namun tubuhnya masih tampak energik. Sulit menebak jika Safaruddin sudah berusia 57 tahun. Lebih dari setengah abad. Meski demikian, tangannya tetap cekatan, lincah memainkan gunting, memangkas rambut pelanggan yang datang silih berganti di kios miliknya.

Bang Uddin, begitu pria kelahiran Mei 1968 itu disapa, adalah seorang tukang cukur rambut. Pekerjaan ini telah melekat dalam keluarganya selama tiga generasi. Dan dia generasi ketiga. Ayah dan kakeknya pun menjalani profesi yang sama sebagai pemangkas rambut di kawasan Pasar Tengah, Kota Pontianak. Kawasan ekonomi tua yang telah menjadi jantung perdagangan kota sejak masa kolonial Belanda. Hanya titik tempatnya saja yang berbeda. Bang Uddin sudah berkali-kali berpindah tempat, mengikuti arus perubahan dan renovasi pasar yang terus berganti rupa.

“Pernah di jalan dekat Toko Buku Menara, pernah juga di Jalan Barito. Semuanya masih di kawasan yang sama,” kata Bang Uddin sambil memangkas rambut pelanggan di kiosnya.

Kios milik Bang Uddin kini berdiri di Jalan Ciujung Selatan, berseberangan dengan Rumah Makan Ombak Sunur. Rumah makan Padang legendaris yang terkenal dengan menu kepala ikan.

Kios pangkas rambut miliknya bukan satu-satunya di sepanjang Jalan Ciujung Selatan. Ada beberapa kios lain dengan usaha serupa. Namun kios Bang Uddin memiliki nama tersendiri: “Potong Rambut Nadia.”

Bangunan kios Bang Uddin berdiri kokoh dengan dindingnya sudah disemen, lantainya berkeramik, namun suasana sederhananya tetap terasa. Bagian dalam kios tertata rapi. Sebuah cermin persegi panjang menempel di dinding, memantulkan bayangan Bang Uddin yang tengah serius mencukur rambut pengunjung. Berbagai perlengkapan kerja tersusun rapi di atas meja kayu panjang. Gunting, pisau cukur, bedak, tisu, hingga botol berisi cairan penyegar kulit kepala.

Kursi kayu yang digunakannya tampak klasik, berlapis kulit sintetis namun tetap kokoh menopang pelanggan. Wajah Bang Uddin terlihat serius namun tenang saat mencukur rambut. Gerakannya presisi, tanda tangan yang telah terlatih puluhan tahun sebagai pemangkas rambut.

“Dari kakek, ayah, lalu ke saya, semua menjadi pemangkas rambut. Cuma anak-anak saya tidak, mereka memilih pekerjaan lain,” ujarnya.

 Kios milik Bang Uddin berukuran sekitar 3x3 meter. Ia bekerja dari pagi hingga sore hari. Tak ada suara musik keras, hanya riuh langkah orang yang melintas di depan kios dan sesekali tawa pelanggan yang bercakap ringan.

Sesekali Bang Uddin berbincang dengan pelanggan yang sedang dipangkas rambut. Ia dikenal ramah. Bila bukan dia yang menyapa orang yang lewat, maka masyarakatlah yang menyapa lebih dulu. Sekadar berbagi kabar atau memberi tahu jadwal pertandingan sepak bola malam hari.

Setiap hari kiosnya buka tanpa absen. Kalaupun ada pekerjaan lain, ia tetap memastikan kios beroperasi, meski hanya setengah hari. Sebab selain tukang cukur, Bang Uddin juga dikenal sebagai pemain organ tunggal di berbagai acara. Mungkin dari situlah kelembutan intonasi bicaranya terbentuk. Tenang, berirama, dan bersahabat.

 Pelanggan Bang Uddin datang dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat pemerintahan. Satu diantaranya Gubernur Kalimantan Barat, Usman Jafar. Orang penting lainnya, Kapolda Kalbar Zakaria Rapudin.

“Kalau Pak Gubernur mau potong rambut, biasanya saya yang ke rumah beliau,” kenang Bang Uddin.

 

 Jejak Pasar Tua di Pontianak

Kawasan Pasar Tengah bukan sekadar tempat Bang Uddin mencari nafkah. Ia adalah satu dari sekian banyak warga yang menggantungkan penghidupan di kawasan ini. Ada pedagang kelontong, penjual perkakas seperti parang dan arit, pedagang emas, pakaian, hingga warung kopi dan rumah makan sederhana. Kawasan Pasar Tengah, Parit Besar, dan sekitarnya menjadi denyut nadi ekonomi Kota Pontianak hingga kini.

 Menurut penelitian Dana Listiana (2014) dalam “Dari Pacht Pasar ke Pasarfonds: Pasar Pontianak dalam Kebijakan Ekonomi Kolonial Baru pada Awal Abad XX,” para pedagang Tionghoa telah bermukim di tepi Sungai Kapuas dan Parit Besar sejak akhir abad ke-18. Kala itu, kawasan ini dikenal sebagai Kampung Cina yang juga berfungsi sebagai pasar, tempat pedagang Melayu dan Bugis ikut menggerakkan roda niaga. Kehadiran benteng Belanda baru menyusul kemudian, berdiri di sekitar kawasan niaga yang telah hidup.

Rumah-rumah di kawasan itu berdinding kayu, beratap rumbia, dan berfungsi ganda sebagai toko, gudang, serta tempat tinggal. Seiring berkembangnya perdagangan global, Pontianak mulai mengekspor kopra, karet, dan hasil hutan ke berbagai negara. Karena letaknya di antara dua pasar besar, Pasar Hulu dan Pasar Hilir. Kawasan ini kemudian disebut Pasar Tengah, yang menjadi pusat perdagangan utama Pontianak.

 Penelitian Dana mencatat, geliat ekonomi Pasar Tengah tak lepas dari peran perdagangan sungai dan pelabuhan rakyat di Parit Besar. Dari sinilah barang-barang dari pedalaman Kalimantan Barat bertemu dengan komoditas ekspor dari Singapura, Palembang, Jawa, hingga Eropa. Pedagang Tionghoa, Melayu, Bugis, Banjar, Arab, hingga Jepang berdagang berdampingan, menciptakan suasana pasar yang dinamis. Suatu tradisi interaksi lintas budaya yang masih terasa hingga kini.

Memasuki awal abad ke-20, wajah Pasar Tengah berubah drastis. Pemerintah kolonial Belanda membentuk lembaga Pasarfonds untuk mengelola langsung pasar-pasar di Pontianak. Renovasi besar dilakukan antara 1927–1930, terutama di Pasar Tengah dan Pasar Hulu. Ruko-ruko kayu diganti bangunan semen beratap sirap, dan tinggi bangunan dibatasi delapan meter demi kepentingan militer yang mengawasi Sungai Kapuas. Pasarfonds juga mengatur izin usaha, kebersihan, dan harga barang. Menandai masa ketika pasar menjadi bagian dari tata kelola kolonial.

Pasar Tengah pun berkembang sebagai pusat jasa dan hiburan. Di sepanjang lorong berdiri studio foto, salon cukur, warung nasi, dan warung kopi yang hidup hingga larut malam.

“Sebelum renovasi, sekitar jam sebelas atau dua belas siang kawasan ini masih padat. Sekarang sudah mulai berkurang,” ujar Bang Uddin mengenang masa-masa ramai pasar.

Bagi peneliti BRIN, Dana Listiana, Pasar Tengah menyimpan rekam jejak ekonomi dan sosial yang mencerminkan hubungan erat antara sungai dan kehidupan kota. “Istilah yang tepat untuk sistem pengelolaan pasar masa kolonial adalah verhuuringen, dari bahasa Belanda yang berarti ‘sewa’,” jelasnya.

 Pemerintah kolonial yang baru datang ke Kalimantan, lanjutnya, banyak bergantung pada pemangku kepentingan lokal dan komunitas pedagang Tionghoa untuk memperluas kekuasaan dan mengatur perdagangan.

 Dari peta Belanda abad ke-19, kawasan yang kini disebut Pasar Tengah awalnya masih bernama Kampung Cina. Baru pada 1880-an, area ini mulai diidentifikasi sebagai pasar. Sebagian menjadi pasar basah, sebagian lain menjadi area niaga ekspor-impor, lengkap dengan bank dan pegadaian.

“Perubahan dari kampung ke pasar terjadi pada 1880-an, ketika sistem kolonial dan kebijakan ekonomi mulai terstruktur,” kata Dana.

 “Pasar-pasar di Pontianak sejak awal bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga cermin ekonomi sungai,” sambung Dana.

Menurutnya, dulu sungai dan permukiman tak berjarak. Bongkar muat dilakukan langsung di tepi air. Kini hubungan itu terputus karena hadirnya taman dan jalan. “Dulu antara sungai dan pemukiman tidak ada batas. Sekarang hubungan itu terputus,” ujarnya.

 

Menjaga Nilai Sungai dan Warisan Kota

Tantangan terbesar Pontianak hari ini, kata Dana, adalah perubahan orientasi kota. “Sekarang paradigma kota lebih ke darat, bukan lagi ke sungai. Padahal Pontianak adalah kota pesisir yang hidup bersama air,” tegasnya.

Ia menilai kawasan Pasar Tengah, Parit Besar, dan sekitarnya berpotensi menjadi Kawasan Cagar Budaya, sesuai amanat Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010. Namun langkah ini butuh kesiapan anggaran dan koordinasi lintas instansi. Alternatif yang lebih realistis, menurutnya, adalah menetapkan beberapa bangunan yang masih mempertahankan arsitektur lama dan akses langsung ke sungai sebagai Bangunan Cagar Budaya.

“Yang penting, jangan sampai generasi berikutnya putus dengan sejarahnya,” pesan Dana. Sebab dari Pasar Tengahlah, Pontianak tumbuh, sebuah kota yang sejak awal hidup, bernafas, dan berkembang bersama air.

 

Asa Pasar Tradisional di Era Modern

 Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan Kota Pontianak, Ibrahim, memastikan bahwa kawasan Pasar Tengah, Parit Besar, dan sekitarnya tetap menempati posisi strategis sebagai pasar tradisional bersejarah dan pusat ekonomi lokal, terutama untuk kebutuhan pakaian, bahan pangan segar, serta perdagangan grosir dan eceran bagi warga kota.

“Pasar ini sering menjadi tujuan belanja menjelang hari raya karena jangkauan pedagangnya luas dan lokasinya berada di pusat kota,” ujar Ibrahim, kemarin sore.

 Menurutnya, Pasar Tengah dan Parit Besar masih dianggap sebagai salah satu pasar tradisional utama di Kota Pontianak. Peran kawasan ini berbeda dari pasar modern atau ritel besar, karena masih kuat mempertahankan ciri khas transaksi tunai, tawar-menawar, harga terjangkau, dan ketersediaan produk lokal.

Sementara itu, pasar modern, mal, dan supermarket lebih menonjolkan kenyamanan, produk bermerek, dan pengalaman belanja yang tertata.

Menurut Ibrahim, pasar tradisional melayani segmen masyarakat dengan harga terjangkau, pedagang mikro, serta kebutuhan harian, sedangkan pasar modern memenuhi permintaan akan produk bermerek dan layanan terintegrasi. “Keduanya sebenarnya saling melengkapi,” kata Ibrahim. (mse)

Editor : Hanif
#kisah #tukang cukur #tiga generasi #pasar tengah pontianak #saksi hidup #budaya #kota #perubahan ekonomi