Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Edi Tundang Berpulang, Maestro Pantun Gendang yang Menghidupkan Suara Melayu Kalbar

Idil Aqsa Akbary • Senin, 27 Oktober 2025 | 11:47 WIB
BERPULANG: Pencetus kesenian Tundang Melayu, Edi Ibrahim bin H. Ahmad, atau yang dikenal luas dengan nama Edi Tundang dan Usu Yem, wafat pada Sabtu (25/10).
BERPULANG: Pencetus kesenian Tundang Melayu, Edi Ibrahim bin H. Ahmad, atau yang dikenal luas dengan nama Edi Tundang dan Usu Yem, wafat pada Sabtu (25/10).

PONTIANAK POST – Dunia seni dan kebudayaan Kalimantan Barat (Kalbar) berduka. Pencetus kesenian Tundang Melayu, Edi Ibrahim bin H. Ahmad, atau yang dikenal luas dengan nama Edi Tundang dan Usu Yem, wafat pada Sabtu (25/10), di Kabupaten Mempawah. Almarhum meninggal dunia setelah beberapa tahun berjuang melawan penyakit stroke.

Edi dikenal sebagai pencipta Tundang, singkatan dari Pantun Gendang, yaitu bentuk seni tradisi yang memadukan pantun dengan iringan musik gendang. Dalam wawancara bersama TVRI Kalbar beberapa tahun lalu, Edi menuturkan bahwa Tundang lahir dari kebiasaan berpantun sejak masa remajanya.

“Saya menciptakan Tundang dari hobi. Karena saya senang pantun, berkelakar, mengejek teman dengan pantun lucu. Apalagi kalau pantun saya dibumbui humor, teman-teman tertawa. Dari situ saya senang,” katanya saat itu.

Tundang, menurutnya, bukan sekadar hiburan, melainkan wadah menyampaikan kritik sosial dengan cara yang santun, dan menghibur. “Dulu ada yang menyarankan supaya namanya pantun duduk, tapi saya bilang tidak bisa. Karena pantun saya banyak isinya kritik. Jadi saya pikir sambil bergendang saja, akhirnya saya kasih nama Tundang, pantun gendang,” jelasnya.

Seiring waktu, bentuk penampilan Tundang berkembang. Tidak hanya menggunakan gendang tunggal, Edi menambahkan alat musik lain seperti beduk, biola, dan akordeon. Melalui Sanggar Pusaka yang ia dirikan di Kabupaten Mempawah, ia juga membina kesenian tradisional lainnya seperti hadrah, kasidah, dan syair.

“Kalau dulu hanya satu atau dua gendang, lama-lama kami modifikasi sampai belasan. Pernah juga pakai beduk tujuh buah, tapi karena repot dibawa, sekarang hanya untuk event tertentu,” ujarnya dalam kesempatan lain.

Kontribusinya terhadap pelestarian seni melayu membuat pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM RI pada 2013 menetapkan Edi Ibrahim sebagai pemegang hak cipta resmi Tundang. Karya binaannya, Grup Kesenian Tundang Mayang, juga pernah meraih Juara 1 Nasional Apresiasi Media Pertunjukan Rakyat di Bali.

Selain tampil di berbagai kabupaten/kota di Kalbar, Edi juga sempat membawa Tundang tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), ajang Borneo Exfloor Exotika di Jakarta, hingga ke Malaysia dan Singapura. Ia dikenal aktif berkolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Kalbar dalam kegiatan sosialisasi, dan pendidikan budaya daerah.

Dikenang Sahabat dan Penggiat Budaya

Pemerhati sejarah Kalbar Syafaruddin Daeng Usman mengenang almarhum sebagai sosok yang rendah hati namun kaya pengetahuan. Ia pertama kali bertemu Edi sekitar 2015, sebelum masa pandemi Covid-19, ketika sama-sama mengisi acara di TVRI Kalbar.

“Biasanya kami bertemu di acara stasiun televisi. Kalau acara beliau selesai, saya lanjut sebagai narasumber berikutnya. Waktu singkat itu kami manfaatkan untuk berbincang. Orangnya familiar, bersahaja, rendah hati, tapi berisi. Sarat pemahaman dan pengetahuan,” kenang Syafaruddin.

Ia menceritakan, Edi sempat menghubunginya untuk meminta masukan membuat pantun bertema sejarah, salah satunya tentang Peristiwa Mandor 1944. “Indah sekali Tundang yang diolah, dan dipublikasikan beliau waktu itu,” ujarnya.

Menurut Syafaruddin, meski jarang tampil di televisi sejak sakit, Edi tetap dikenal sebagai pekerja seni sejati yang tidak pernah kehilangan semangat untuk berkarya. “Dia bukan orang yang merasa paling bisa, sebaliknya selalu ingin banyak belajar. Kita kehilangan seorang pekerja seni, seorang senior Tundang, seorang budayawan otodidak,” tulisnya dalam catatan kenangan berjudul Selamat Jalan Bang Yem.

Ia menambahkan, di tengah maraknya kegiatan pantun akhir-akhir ini, keberadaan Tundang membuktikan bahwa budaya Melayu Kalbar bukan hanya sebatas pantun semata. “Edi mengemas, mengolah kata, menyusun kalimat, dan menjelmakan Tundang. Berpantun sembari berdendang diiringi gendang. Itulah ciri khasnya,” ujarnya.

Sementara itu, penulis dan Ketua Satupena Kalbar Rosadi Jamani menyebut kepergian Edi sebagai kehilangan besar bagi Kalbar. “Dia telah tiada dengan meninggalkan warisan besar, Tundang. Kalbar berduka,” tulis Rosadi dalam catatan pribadinya berjudul Tundang Terakhir Seorang Maestro.

Rosadi mengenang Edi sebagai sosok yang berhasil menjadikan pantun gendang bukan sekadar pertunjukan, tetapi juga sarana pendidikan budaya. “Ia menciptakan seni yang mengajarkan tanpa menggurui, menasihati tanpa menyakiti,” ujarnya.

Dalam tulisannya, Rosadi menggambarkan suasana duka di Desa Sungai Burung, Mempawah, pada malam kepergian almarhum. “Angin berhenti di antara pepohonan bakau, seolah ikut menahan napas. Dari rumah sederhana di tepi sungai, kabar duka itu menyebar pelan tapi pasti,” tulisnya.

Rosadi menutup dengan tiga pantun penghormatan, salah satunya berbunyi. Pukul gendang di tepi muara, Dentumnya lembut mengiring doa, Walau jasad telah tiada di dunia, Suaramu hidup di hati bangsa.

Kini, dentuman gendang Tundang mungkin tak lagi terdengar dari rumah panggung di Sungai Burung, namun warisan Edi Ibrahim terus hidup di hati para pelestari budaya Melayu Kalbar. “Selama anak-anak masih bisa berpantun, maka Melayu tak akan hilang,” demikian pesan almarhum yang kini menjadi wasiat budaya bagi generasi penerusnya. (bar)

Editor : Hanif
#abadi #mempawah #Tundang #kesenian #wafat #pelestari budaya #warisan #pontianak #melayu