PONTIANAK POST – Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP) menggelar acara yudisium bagi para lulusannya di Qhall Hotel Qubu Resort, Minggu (26/10). Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, mengajak 880 calon wisudawan dan wisudawati untuk terus mengasah keterampilan serta memperluas wawasan agar siap menghadapi tantangan masa depan.
Di kesempatan itu Krisantus menyampaikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika UWDP dan menyoroti prestasi para lulusan yang meraih predikat pujian. Ia sempat berkelakar bahwa perempuan tampak lebih unggul dalam capaian akademik, meski pria masih mendominasi bidang komputer dan pemrograman, yang menurutnya berkaitan dengan kebiasaan bermain gim.
Ia menegaskan bahwa kesuksesan di kampus bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk menghadapi realitas lapangan yang lebih kompleks. Para lulusan, katanya, perlu memperluas pergaulan dan konektivitas, serta mempelajari ilmu-ilmu baru di luar jurusan agar memiliki kemampuan yang lebih komprehensif.
Krisantus juga menyoroti pentingnya penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Ia menjelaskan bahwa teknologi memiliki dua sisi: dapat mempermudah dan meningkatkan kualitas hidup manusia, namun juga berpotensi menjerumuskan jika tidak digunakan secara bijak.
Ia mencontohkan bahwa era digital membuka akses luas terhadap hal-hal negatif seperti perjudian daring, pinjaman online ilegal, serta risiko sosial lainnya. Namun di sisi lain, teknologi juga menghadirkan peluang besar untuk belajar bahasa asing, memperluas wawasan politik, hingga berbisnis secara modern. Karena itu, ia menekankan pentingnya literasi digital yang produktif agar teknologi menjadi alat kemajuan, bukan kemunduran.
Lebih lanjut, Krisantus mengingatkan para lulusan bahwa dunia kerja saat ini sangat kompetitif. Mereka harus mampu bersaing tidak hanya dengan sesama alumni UWDP, tetapi juga dengan lulusan universitas besar lainnya. Ia mendorong agar para lulusan bersikap fleksibel, memperluas jaringan, dan terus meningkatkan kemampuan diri.
Sebagai mantan anggota legislatif, Krisantus turut menyinggung soal praktik penyerapan tenaga kerja di Kalimantan Barat. Ia menegaskan bahwa investasi memang harus berorientasi pada keuntungan, tetapi juga harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, pekerjaan kasar seperti buruh panen atau tukang pupuk tidak bisa disebut sebagai bentuk penyerapan tenaga kerja yang ideal. Ia menegaskan bahwa yang dimaksud penyerapan tenaga kerja sejati adalah terserapnya lulusan berpendidikan dan terampil sesuai bidang keahliannya.
“Saya ingin para lulusan bekerja sesuai keahlian mereka, bukan menjadi buruh di kebun sawit,” tegasnya. (mse/r)
Editor : Hanif