PONTIANAK POST — Tawa dan sorak menggema di Sungai Kapuas, Rabu (29/10) siang. Puluhan kapal berisi peserta saling mendekat, melempar ketupat ke udara dalam suasana penuh kegembiraan. Di tengah riuhnya tradisi Perang Ketupat itu, Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, tampak larut dalam keseruan. Ia tertawa lepas saat lemparan ketupat mengenai dirinya. “Tradisi seperti ini seru. Bukan hanya melestarikan budaya, tapi juga mempererat hubungan antar warga,” ujarnya sambil tersenyum.
Perang Ketupat merupakan bagian dari agenda Mande Bedel Keraja yang digelar oleh Keraton Pakunegara Tayan, dipimpin langsung oleh Raja Tayan, Gusti Yusri. Tradisi turun-temurun ini diikuti para raja dan sultan se-Kalimantan Barat serta perwakilan Forum Silaturahmi Kerajaan Nusantara (FSKN).
Tanpa jarak, Ria Norsan berdiri di atas kapal bersama para tokoh adat dan masyarakat. Dengan ketupat di tangan, ia beberapa kali melempar ke arah peserta lain, disambut tawa dan tepuk tangan warga yang memadati tepian sungai. Suasana yang meriah itu seolah menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar permainan, tetapi simbol kebersamaan dan penyucian diri dari rasa iri serta dendam.
Ria Norsan menegaskan bahwa tradisi dan budaya harus terus dilestarikan sebagai pondasi penting bagi pembangunan yang bermartabat. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen mendukung pelestarian budaya lokal melalui berbagai langkah strategis, mulai dari penguatan infrastruktur dan aksesibilitas wisata, revitalisasi kawasan keraton, digitalisasi promosi budaya, hingga pemberdayaan UMKM dan komunitas adat. Selain itu, pemerintah juga berencana mengintegrasikan festival budaya seperti Perang Ketupat ke dalam Kalender Pariwisata Provinsi Kalbar.
Dalam prosesi sakral itu, selain saling melempar ketupat, juga digelar ritual memandikan pusaka di atas kapal sebagai simbol penyucian diri dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Air Sungai Kapuas menjadi saksi kebersamaan warga yang datang dari berbagai daerah di sekitar Sanggau dan Tayan untuk menyaksikan kemeriahan acara tersebut. “Kegiatan ini bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang unik di Kalbar,” tutur Norsan.
Tradisi yang sarat makna ini diharapkan dapat terus digelar sebagai agenda tahunan, tidak hanya untuk mempererat hubungan sosial, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta mendorong pariwisata berbasis kearifan lokal di Tayan. (mse)
Editor : Hanif