PONTIANAK POST - Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak menunjukkan peningkatan dalam arus kunjungan kapal dan barang, dengan catatan positif yang terlihat sejak beberapa tahun terakhir. Namun begitu, beberapa tantangan, terutama terkait infrastruktur dan akses jalan menuju pelabuhan masih perlu diatasi.
Budi Prasetio, Executive Director Pelindo Regional 2 mengatakan peningkatan ini seiring dengan pengembangan infrastruktur yang ada di Pelabuhan Kijing, termasuk kemampuan dalam menangani kapal-kapal dengan kapasitas lebih besar.
“Kapal dengan kapasitas besar semakin meningkat. Dengan kapal yang lebih besar, biaya logistik akan semakin murah, karena muatan kapal yang lebih banyak,” ungkapnya usai kegiatan Borneo Intra-Regional Dialogue 2025 di Pendopo Gubernur Kalbar, Kamis (30/10).
Seiring dengan peningkatan kunjungan kapal, arus barang yang melayani berbagai jenis kargo di Terminal Kijing juga mengalami kenaikan yang signifikan. Untuk kategori curah cair, jumlah yang diproses hingga September 2025 tercatat mencapai 1,20 juta ton, meski masih rendah dibandingkan dengan 2024 yang tercatat 1,78 juta ton.
Untuk curah kering, angka yang tercatat pada 2025 mencapai 1,29 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2024 yang hanya 725,44 ribu ton. Angka tersebut masih dapat bertambah mengingat tahun 2025 belum berakhir.
Budi mengungkapkan produk ekspor yang menjadi andalan Pelabuhan Kijing antara lain adalah Crude Palm Oil (CPO) dan Alumina. Ekspor CPO 2025 melalui Kijing misalnya, kini telah mencapai 1,3 juta ton, dan menjadi kontributor utama bagi pelabuhan yang berlokasi di Kabupaten Mempawah tersebut. Sementara untuk produk ekspor lainnya, masih banyak yang dilakukan melalui pelabuhan yang ada di Kota Pontianak.
Pihaknya berharap bahwa pengembangan infrastruktur lebih lanjut di Pelabuhan Kijing dapat meningkatkan kegiatan ekspor dan impor, serta mempercepat pergeseran dari Pelabuhan Pontianak ke Kijing. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan kolaborasi yang lebih intensif.
“Tidak bisa hanya Pelindo saja. Perlu dukungan dari pemerintah pusat dan daerah, serta swasta, untuk mempercepat pembangunan dan integrasi sistem logistik,” tegasnya.
Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura, Muhammad Fahmi menilai bahwa meskipun Pelabuhan Kijing memiliki potensi besar, namun ada tantangan yang harus dihadapi dalam pengalihan kegiatan ekspor-impor secara keseluruhan ke pelabuhan tersebut.
Menurutnya, pemindahan barang dari Pelabuhan Pontianak ke Kijing membutuhkan kajian menyeluruh, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan.
“Permasalahannya untuk memindahkan barang ini ke sana, itu lewat apa? Kalau lewat darat, lewat jalan, tentu kondisi jalan kita memungkinkan tidak memindahkan barang itu. Sementara kontainer ini (ukurannya) bukan kecil-kecil,” katanya.
Dari hasil kajiannya, 70 persen isi kontainer tersebut ditujukan untuk wilayah Pontianak dan Kubu Raya. Hal ini pun menurutnya memunculkan pertanyaan mengenai apakah infrastruktur jalan yang ada saat ini mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Oleh karena itu, ia menilai penting bagi pemerintah dan semua pihak terkait untuk merencanakan pembangunan jalan khusus yang dapat menghubungkan kawasan tersebut dengan Pelabuhan Kijing.
“Kalau kita berharap ada jalan tol, yang memang diperuntukkan arahnya ke Kijing ini,” katanya. (sti)
Editor : Hanif