PONTIANAK POST – Kinerja ekspor dan impor Kalimantan Barat hingga September 2025 menunjukkan tren positif yang tercermin dari capaian penerimaan bea dan cukai mencapai Rp477,7 miliar. Pertumbuhan kuat ini terutama didorong oleh peningkatan bea keluar dan cukai rokok.
Pencapaian bea dan cukai tersebut tumbuh 113 persen year on year (YoY) dan telah melebihi 179,65 persen dari total target tahun ini.
Kepala Seksi Pembinaan Pelaksanaan Anggaran II B Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kalbar, Gunawan Setiono, mengatakan pertumbuhan ini mencerminkan kuatnya kinerja sektor ekspor Kalbar yang masih ditopang oleh industri kelapa sawit.
“Hingga September 2025, Bea Cukai tetap tumbuh kuat 113 persen YoY, didorong meningkatkan penerimaan bea keluar dan cukai yang diperkirakan akan terus terjadi hingga akhir tahun,” tuturnya.
Ia pun menilai potensi ekspor daun kratom juga dapat turut mengkerek penerimaan bea keluar pada tahun ini.
Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Ditjen Bea dan Cukai Kalbagbar, Beni Novri, menyebutkan hingga September 2025, penerimaan bea dan cukai sudah melampaui target dengan pencapaian 179,65 persen.
“Dari total target Rp265,9 miliar, realisasinya sudah mencapai Rp477,7 miliar, sehingga terdapat surplus sebesar Rp211,8 miliar,” katanya.
Dari sisi bea masuk, realisasinya mencapai Rp47,1 miliar atau 132,8 persen dari target. Meski demikian, secara tahunan komponen ini mengalami penurunan 18,2 persen YoY karena tidak adanya importasi beras seperti tahun sebelumnya.
“Adapun komoditas utama bea masuk 2025 adalah Caustic Soda dengan share sekitar 61,2 persen dari total bea masuk,” katanya.
Selain Caustic Soda, sejumlah komoditas impor dominan lainnya antara lain alat berat, bicycle part, kacang tanah, dan pupuk magnesium sulphate.
Dari sisi penyumbang terbesar devisa impor, barang modal PT Borneo Alumindo Prima dan peralatan drone milik Badan Sarana Pertahanan Kemhan RI tercatat menjadi penyumbang tertinggi.
Di sisi lain, bea keluar mencatat lonjakan tajam dengan realisasi Rp278,2 miliar atau 271,85 persen dari target. Adapun komoditas dengan ekspor terbesar adalah CPO dan produk turunannya, Palm Fatty Acid Distillat (PFAD), Palm Kernel Expeller, Palm Kernel Shell, serta Kayu S4S.
Untuk sektor cukai, penerimaan mencapai Rp152,3 miliar, tumbuh 68,6 persen YoY dan telah mencapai target tahun ini hingga 118,95 persen. Sebagian besar berasal dari cukai hasil tembakau senilai Rp150,2 miliar. Upaya penegakan hukum terhadap rokok ilegal turut berperan besar dalam peningkatan ini.
“Extra effort penindakan rokok ilegal melalui UR (Ultimum Remedium) rokok tumbuh 442,1 persen dibandingkan dengan 2024 yang mencapai 2,1 Miliar pada tahun 2025,” tuturnya. (sti)
Editor : Hanif