PONTIANAK POST - Sebuah video yang diunggah konten kreator Katarina Nona menjadi viral karena memperlihatkan warga Dusun Badat Lama, Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, harus menggotong jenazah menggunakan ojek akibat kondisi jalan yang rusak parah.
Dalam unggahannya, Katarina menyoroti kesedihan warga yang harus menghadapi keterbatasan infrastruktur di tengah musibah. “Sangat miris. Saat ada warga yang meninggal, akses jalan rusak membuat mobil ambulans desa tidak bisa mengantar jenazah sampai rumah duka,” tulisnya, Selasa (4/11).
Warga setempat terpaksa memutar otak mencari cara agar jenazah bisa sampai ke rumah duka. Jalan yang licin dan rusak membuat proses pemakaman menjadi sangat berat. Kondisi ini menunjukkan keterbatasan yang dialami masyarakat perbatasan setiap tahun, meski janji perbaikan jalan dari pemerintah selalu muncul, namun realisasinya nihil.
Sejumlah warga berharap pemerintah lebih memperhatikan nasib mereka. “Kami juga warga Indonesia. Tetangga kami di Malaysia sudah menikmati jalan beraspal hitam sampai depan rumah. Sementara kami harus mempertaruhkan nyawa melewati jalan licin saat hujan atau musibah,” ungkap Katarina yang adalah warga asli Kecamatan Entikong.
Andalkan Jalur Sungai
Pontianak Post sendiri pernah menyambangi Desa Suruh Tembawang. Sebenarnya, menuju ke desa tersebut lebih mudah menggunakan jalur air. Entikong ke Suruh Tembawang membutuhkan waktu 4–8 jam menggunakan motor air (tergantung debit dan arus), melawan derasnya Sungai Sekayam. Sepanjang perjalanan dipenuhi riam dan batu-batu besar.
Perjalanan via motor air ke Entikong dilakukan hanya beberapa kali sebulan, karena biaya transportasi yang tinggi. Motor air untuk pulang-pergi minimal membutuhkan 70–80 liter bensin. Kalau perahu cuma diisi satu atau dua orang, rugi. Jadi ojak perahu harus tunggu penumpang penuh, minimal 10 orang.
Mayoritas warga hanya turun ke Entikong untuk menjual hasil pertanian, terutama lada (sahàng). Warga juga turun ke Entikong bila stok bahan pokok menipis. Biasanya mereka membeli minyak goreng, beras, mie instan, pupuk, dan kebutuhan sebulan ke depan.
Alternatif lain adalah ojek sepeda motor melalui jalan paralel perbatasan sejauh 48 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Namun jalur ini sangat berisiko. Saat hujan, jalan tanah itu bahkan tidak bisa dilalui sama sekali.
Butuh Anggaran Khusus
Anggota DPRD Kalbar, Fransiskus Ason, putra daerah perbatasan, menyampaikan keprihatinannya atas viralnya ojek jenazah di jalan rusak, perbatasan Entikong - Sarawak, Malaysia. "Sungguh sedih melihat warga harus membawa jenazah pakai motor karena jalan rusak. Di Malaysia, kampung perbatasan mereka sudah beraspal, mobil bisa masuk. Kita di sini masih tertinggal," ujarnya, Rabu (5/11).
Ason menambahkan, pembangunan jalan perbatasan sempat digarap pada masa Presiden Joko Widodo, namun proyek lanjutan tidak berkesinambungan menjelang akhir masa jabatan. "Dulu Presiden Jokowi membuka akses jalan perbatasan, tapi menjelang akhir masa pemerintahannya, proyek itu tidak diteruskan. Sekarang kami berharap pemerintahan baru bisa melanjutkannya," jelasnya.
Menurut Ason, keterbatasan anggaran daerah dan kondisi geografis membuat Kabupaten dan Provinsi Kalbar tidak mampu membangun infrastruktur strategis sendiri. Karena itu, ia mendorong pemerintah pusat mengambil alih dan memprioritaskan pembangunan jalan perbatasan. "Kalau pusat ingin efisiensi anggaran, silakan. Tapi ambil alih pembangunan jalan perbatasan ini. Jangan uang negara hanya habis untuk Pulau Jawa, sementara di Kalbar rakyat kesulitan," tegasnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan perbatasan bukan hanya soal ekonomi, tapi juga martabat bangsa. "Bayangkan, kita negara besar, tapi rakyat di perbatasan masih harus gotong jenazah pakai motor. Kita tertinggal 30 tahun dibanding Malaysia," tambahnya.
Kisah warga Suruh Tembawang yang bergotong royong membawa jenazah melintasi jalan berlumpur menjadi simbol ketimpangan pembangunan di wilayah perbatasan. Di tengah duka, mereka harus memutar akal agar jenazah sampai rumah duka, bukan karena jarak, melainkan karena jalan rusak yang belum tersentuh pembangunan layak.
Ason berharap pemerintah pusat tidak menutup mata terhadap penderitaan warga perbatasan. "Daerah perbatasan adalah wajah depan Indonesia. Jangan biarkan masyarakat di sana merasa terasing di negerinya sendiri. Bangunlah Kalbar dari pinggiran, seperti yang dijanjikan Nawacita. Kemajuan Indonesia harus dimulai dari batas-batasnya," pungkasnya. (den/ars)
Editor : Hanif