Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Photovoice, Cara Baru Warga Pontianak Memaknai dan Menghadapi Risiko Banjir

Arief Nugroho • Selasa, 11 November 2025 | 17:46 WIB
Yayasan Kolase dan FINCAPES saat melakukan sosialisasi Photovoice kepada para lurah dan perwakilan OPD di Kota Pontianak.
Yayasan Kolase dan FINCAPES saat melakukan sosialisasi Photovoice kepada para lurah dan perwakilan OPD di Kota Pontianak.

PONTIANAK POST - Yayasan Kolase bekerja sama dengan Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES) Project memperkenalkan kegiatan Photovoice sebagai sarana partisipatif untuk mendengar suara warga tentang risiko banjir di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).

Sosialisasi bertajuk “Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak” yang dihadiri sekitar 40 peserta dari berbagai instansi, perwakilan kelurahan, lembaga, serta tim Yayasan Kolase ini digelar di Rumah Budaya Kampung Caping, Pontianak, Selasa (11/11).

Ketua Yayasan Kolase Andi Fachrizal menjelaskan bahwa proyek FINCAPES merupakan kemitraan Pembangunan Indonesia–Kanada yang dilaksanakan bersama oleh Fakultas Matematika dan Lingkungan Hidup, University of Waterloo Canada.

“Proyek ini merupakan bentuk komitmen bersama terhadap aksi perubahan iklim, keberlanjutan lingkungan, dan ketangguhan bencana. Yayasan Kolase menjadi salah satu lembaga mitra lokal FINCAPES yang akan menjalankan program photovoice. Sebelumnya, FINCAPES melalui Universitas Syiah Kuala Banda Aceh juga sudah menjalankan studi Pemodelan Banjir di Kota Pontianak,” katanya.

Hasil studi sudah diserahkan ke Pemerintah Kota Pontianak melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida). Melalui studi yang dilakukan sepanjang 2024 itu menunjukkan bahwa Pontianak memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap risiko banjir.

Rizal menjelaskan, dari sisi topografi, ketinggian rata-rata Kota Pontianak hanya 0,4 hingga 1,5 meter di atas permukaan laut membuat kota ini sangat dipengaruhi oleh pasang laut. “Terlihat bahwa Pontianak sangat rapuh dengan banjir,” ujarnya.

Selain itu, sistem drainase yang tidak berfungsi maksimal serta perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan memperparah kondisi tersebut.

“Dari hasil penelitian Universitas Syiah Kuala di 29 kelurahan dan enam kecamatan, sebenarnya berpotensi terdampak banjir. Namun yang paling rentan itu ada 21 kelurahan,” ujarnya lagi.

Ia menambahkan, masih banyak warga yang memandang banjir sebagai hal biasa yang datang setiap tahun, padahal tren ketinggian air terus meningkat.

“Sebagian besar warga masih menganggap banjir sebagai hal biasa. Namun di sisi lain, ada warga yang menganggapnya sudah menjadi ancaman serius. Nah, di sinilah kita ingin melihat seperti apa suara warga tentang banjir,” katanya.

Melalui pendekatan Photovoice, Yayasan Kolase ingin mengajak masyarakat untuk mendokumentasikan pengalaman mereka tentang banjir secara visual.

“Photovoice ini adalah sebuah studi komunikasi partisipatif melalui pendekatan visual. Kita akan mengajak warga untuk memotret serta menarasikan situasi banjir dan lingkungannya,” terang Rizal.

Program ini mulai direncanakan pada Oktober dan akan berlangsung hingga Januari 2026, dengan melibatkan 30 warga Pontianak dari berbagai latar belakang sosial, usia, dan gender, termasuk kelompok rentan yang terdampak banjir.

Rizal juga menyoroti ancaman jangka panjang terhadap Pontianak akibat kombinasi antara pasang laut, curah hujan tinggi, penurunan muka tanah, dan padatnya permukiman.

“Luas wilayah Kota Pontianak 118,31 km² dan dihuni 690.277 jiwa. Perkembangan kota yang pesat telah mengubah area resapan vital menjadi lahan terbangun secara masif. Hal ini juga berimbas pada penurunan muka tanah,” sebutnya.

Hasil studi FINCAPES mendeteksi telah terjadi penurunan muka tanah lebih dari satu sentimeter per tahun, khususnya di Pontianak Utara dan Tenggara yang didominasi gambut.

“Kalau tidak ada intervensi kebijakan, pada 2050 ketinggian banjir bisa mencapai 1,5 meter. Artinya, Pontianak bisa tenggelam,” jelasnya.

Rizal mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Pontianak yang mulai memperbaiki drainase dan menata parit di sejumlah wilayah, seperti di Jalan Sepakat 2 dan Kampung Yuka, sebagai bentuk komitmen menghadapi ancaman iklim.

Rizal juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat Pontianak.

“Sungai Kapuas tidak pernah membelah kota. Justru Sungai Kapuaslah yang menyatukan Pontianak. Karena sungainya duluan ada, baru kotanya. Ini yang harus kita jaga sebagai bagian dari peradaban sungai,” pungkasnya.

Sementara itu, Manajer Program Photovoice Yayasan Kolase Arief Nugroho menjelaskan bahwa Photovoice adalah sebuah metode berbasis fotografi komunitas yang menggabungkan dokumentasi visual dan pemberdayaan masyarakat.

“Photovoice merupakan metode berbasis fotografi komunitas yang tidak hanya berfungsi sebagai pendokumentasian isu sosial seperti banjir, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan individu untuk menjadi agen perubahan, memperluas jaringan, serta menjembatani komunikasi antara masyarakat dan pemerintah,” jelas Arief.

Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kapasitas, dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan serta adaptasi terhadap banjir.

“Kami ingin tahu persepsi publik terhadap banjir, sekaligus mengungkap perspektif kelompok rentan seperti perempuan, lansia, pekerja informal, pemuda, dan penyandang disabilitas,” ujarnya.

Melalui Photovoice, Yayasan Kolase dan FINCAPES berharap suara warga yang terekam dalam foto dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan serta memperkuat strategi ketahanan banjir di Kota Pontianak. (arf)

Editor : Miftahul Khair
#risiko #Yayasan Kolase Kalbar #FINCAPIES #photovoice #warga #pontianak #banjir