Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dukungan Ketua Fraksi Golkar Kubu Raya untuk Soeharto sebagai Pahlawan Nasional: Ini Alasannya

Deny Hamdani • Jumat, 14 November 2025 | 14:43 WIB
Ketua Fraksi Golkar DPRD Kubu Raya, Tommy Hermansyah.
Ketua Fraksi Golkar DPRD Kubu Raya, Tommy Hermansyah.

PONTIANAK POST — Penganugerahan Presiden ke-2 RI, H. Muhammad Soeharto, sebagai pahlawan nasional terus mencuat dan memunculkan beragam pandangan di tengah masyarakat. Salah satu dukungan datang dari Tommy Hermansyah, Ketua Fraksi sekaligus anggota DPRD Kabupaten Kubu Raya dari Partai Golkar, yang menilai Soeharto memiliki rekam jejak kuat untuk menyandang gelar tersebut.

Tommy menyampaikan bahwa sejumlah capaian penting pada era Orde Baru menjadi dasar penilaian mengapa Soeharto dianggap layak mendapat gelar pahlawan nasional.

Menurut Tommy, pasang surut politik pada 1950–1960-an membuat Indonesia berada dalam situasi tidak menentu. Pemerintahan Soeharto dinilai berhasil mengembalikan stabilitas negara yang saat itu sangat dibutuhkan untuk membangun kembali fondasi ekonomi dan pemerintahan.

“Setelah masa penuh konflik itu, Orde Baru hadir memberikan ketertiban dan stabilitas. Itu momentum penting untuk Indonesia bisa berkembang,” ujarnya.
Kemudian, lanjutnya, pada era 1970–1990 disebut sebagai periode pertumbuhan ekonomi pesat. Program pembangunan nasional membuat banyak perubahan signifikan.

Swasembada Pangan yakni Program Revolusi Hijau berhasil membuat Indonesia swasembada beras pada 1984, dan keberhasilan itu mendapat pengakuan dari FAO.
Pembangunan Infrastruktur seperti Jalan, jembatan, pelabuhan, hingga fasilitas umum lainnya tumbuh masif di era tersebut. “Pembangunan itu menghubungkan wilayah-wilayah di Indonesia dan mendongkrak ekonomi masyarakat,” jelas Tommy.
Politisi muda Golkar Kubu Raya ini menegaskan bahwa Soeharto juga memiliki kontribusi penting dalam diplomasi global. Di antaranya, perdamaian Kamboja.

Indonesia berperan sebagai ketua Konferensi Internasional tentang Kamboja (1989–1991) yang berhasil membawa pihak-pihak bertikai menuju perdamaian.
Gerakan Non-Blok, dimana Presiden Soeharto menjadi Sekretaris Jenderal GNB (1992–1995) dan memimpin Konferensi Asia-Afrika kedua pada 1995. “Ini bukti bahwa Soeharto bukan hanya dihormati di dalam negeri, tetapi juga memiliki posisi penting di dunia internasional,” kata Tommy.

Dia menambahkan, pada umumnya masyarakat yang merasakan langsung dampak pembangunan di masa itu. Seperti Repelita 1,2, 3, 4, dan seterusnya, hingga pembangunan banyak masjid di seluruh Indonesia. Waktu itu, dananya dipotong sedikit dari gaji seluruh ASN. Bagi yang memiliki kedekatan historis dengan Orde Baru, hingga kini tetap memandang Soeharto sebagai sosok yang berjasa.

“Banyak daerah yang berkembang pesat pada masa itu. Masyarakat masih ingat dan menilai itu sebagai warisan penting,” ujarnya.

Tommy menekankan bahwa penilaian terhadap gelar pahlawan nasional harus melihat jejak sejarah dan kontribusi nyata. Menurutnya, Soeharto memenuhi indikator tersebut.

“Perdebatan itu wajar, tapi fakta sejarah tidak bisa dihapus. Banyak hal besar yang dilakukan untuk bangsa ini,” tutupnya.(den)

Editor : Hanif
#orde baru #stabilitas #soeharto #kontribusi #Pahlawan Nasional #kubu raya #ketua fraksi golkar