Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Efek Rute Pontianak–Kuching: Angkutan Darat Kalbar Tertekan, UMKM Perbatasan Terimbas

Siti Sulbiyah • Kamis, 20 November 2025 | 09:29 WIB

 

TERDAMPAK: Petugas melakukan perawatan armada bus DAMRI di Terminal Antar Lintas Batas Negara, Jalan Trans Kalimantan. Dibukanya kembali jalur penerbangan luar negeri di Bandara Internasional Supadio
TERDAMPAK: Petugas melakukan perawatan armada bus DAMRI di Terminal Antar Lintas Batas Negara, Jalan Trans Kalimantan. Dibukanya kembali jalur penerbangan luar negeri di Bandara Internasional Supadio

PONTIANAK POST – Kembalinya rute penerbangan Pontianak–Kuching memicu guncangan besar pada bisnis angkutan darat di Kalimantan Barat. Penumpang bus lintas batas anjlok drastis karena masyarakat beralih ke pesawat yang kini jauh lebih cepat, nyaman, dan, berkat promo maskapai hampir setara dari sisi biaya.

Salah satu penumpang, Rina (38), warga Pontianak yang sering melakukan perjalanan lintas batas untuk keperluan belanja dan keluarga. Menurutnya, pesawat jauh lebih cepat dan biaya tiketnya kini hampir setara dengan bus.

“Kalau cuma ingin cepat sampai, pesawat jelas lebih praktis dan murah. Saya bisa sampai dalam waktu kurang dari satu jam, sementara kalau pakai bus harus menempuh perjalanan semalaman,” ujar Rina.

Meski demikian, Rina terkadang tetap memilih bus untuk pulang jika membawa banyak barang belanjaan. “Bagasi pesawat terbatas, jadi kalau belanja banyak, saya pulang pakai bus. Tapi kalau tidak, tetap pakai pesawat. Waktunya lebih singkat, jadi lebih nyaman,” tambahnya.

Pengusaha Bus Tertekan

Ketua Organda Kalbar, Agus Kurnadi, mengungkapkan penurunan ini terjadi karena perbandingan harga dan waktu tempuh yang semakin tidak menguntungkan bagi moda darat. Tiket pesawat kini berada pada kisaran Rp300.000–Rp400.000, sementara tarif bus mencapai sekitar Rp350.000. “Dengan harga yang hampir sama dan waktu tempuh kurang dari satu jam, masyarakat tentu memilih pesawat,” ujarnya, Rabu (19/11).

Agus menjelaskan bahwa September hingga November memang merupakan musim sepi bagi angkutan penumpang. Namun kehadiran kembali penerbangan internasional tersebut membuat kondisi angkutan darat semakin terpuruk. “Dampaknya sangat signifikan, apalagi di musim sepi seperti ini,” katanya.

Meski situasi makin berat, Organda Kalbar belum menggelar pertemuan resmi dengan seluruh pengusaha. Dalam waktu dekat, mereka akan bertemu para pengusaha dari Indonesia dan Kuching untuk berbagi informasi, menelaah kondisi pasar, dan merumuskan strategi bersama.

Minta Pemerintah Turun Tangan

Agus mendorong pengusaha angkutan untuk segera bertemu Pemerintah Daerah, terutama Gubernur, guna menyampaikan situasi terkini. Ia menilai sektor angkutan lintas batas menyerap tenaga kerja cukup besar, sehingga keberlanjutannya perlu dijaga. “Banyak sopir, kernet, hingga usaha pendukung yang bergantung pada sektor ini. Pemerintah perlu mendengar kondisi di lapangan,” tegasnya.

Jika tanpa intervensi, Agus memperkirakan banyak operator akan membatasi operasi. Bus hanya dijalankan ketika ada penumpang dan berhenti sementara saat permintaan makin anjlok. “Kalau terus begini, banyak kendaraan akan berhenti beroperasi. Ini tidak sehat bagi usaha,” ujarnya.

Sebagai langkah jangka panjang, Organda mengusulkan agar Pemerintah mengkaji ulang rute Pontianak–Kuching dan mempertimbangkan pemindahan rute internasional ke Kuala Lumpur atau Penang yang lebih dibutuhkan masyarakat, terutama untuk keperluan pengobatan. “Rute ke Kuching sangat memengaruhi pengusaha angkutan darat. Kalau bisa, pesawat dialihkan ke rute lain yang lebih bermanfaat,” jelas Agus.

Bus Tetap Relevan

Peralihan sebagian penumpang dari bus ke pesawat untuk rute Pontianak–Kuching memang terjadi, tapi General Manager DAMRI Pontianak–Kuching, Ahmad Bukhari, menekankan bahwa bus tetap memiliki peran penting dan segmen tersendiri.

“Memang banyak penumpang kini memilih pesawat karena lebih cepat dan nyaman. Tapi bus tetap dibutuhkan, terutama oleh orang-orang yang sedang sakit atau membawa barang lebih banyak. Selain itu, masyarakat dari daerah yang bukan Pontianak masih sangat bergantung pada bus,” ujarnya.

DAMRI memastikan layanan transportasi di Kalimantan Barat terus dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat. Terobosan terbaru adalah rencana pengoperasian rute internasional Putussibau–Kuching (Malaysia) via Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau dan Lubuk Antu, yang ditargetkan mulai beroperasi  November 2025.

“Rute ini kami siapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi yang aman, nyaman, sekaligus mendukung kegiatan ekonomi lintas batas,” ujar Bukhari kepada Pontianak Post, beberapa waktu lalu di kantornya.

Selain rute lintas negara, DAMRI juga menyiapkan trayek langsung Pontianak–Palangkaraya. Selama ini, penumpang menuju Palangkaraya harus transit di Simpang Runtu. “Dengan rute baru ini, pelanggan akan lebih efisien karena tidak perlu lagi transit,” tambah Bukhari.

Tak hanya fokus pada angkutan penumpang, DAMRI Kalbar juga memperluas layanan logistik untuk mendukung aktivitas ekonomi. Saat ini tersedia promo akhir tahun, yakni tarif Rp10.000 per pengiriman barang di bawah 5 kilogram.

DAMRI menyiapkan armada big bus eksekutif class untuk memberikan kenyamanan lebih bagi pelanggan. Bukhari menegaskan bahwa inovasi ini sekaligus menjaga relevansi bus sebagai moda transportasi pilihan bagi segmen tertentu, di tengah persaingan dengan penerbangan cepat.

Shifting Moda Tak Terhindarkan

Dosen Fakultas Teknik Untan, Said Basalim, menilai peralihan penumpang dari bus ke pesawat merupakan akibat logis dari preferensi baru pengguna jasa transportasi. Dengan harga promo AirAsia sekitar Rp432.000 untuk penerbangan malam, hampir setara tiket bus Royal Class Rp350.000, penumpang otomatis mempertimbangkan “nilai waktu”.

“Ketika harga kompetitif, penumpang memilih moda paling cepat agar punya lebih banyak waktu di tempat tujuan,” kata Said. Ia menilai Pemerintah perlu menunjukkan keberpihakan agar kedua moda bisa berjalan berdampingan. Jika tarif promo pesawat terus di bawah Rp500.000, Pemerintah Indonesia dapat berdialog dengan Malaysia untuk menetapkan batas tarif minimum. Sementara bagi angkutan darat, insentif seperti skema tarif bundling (bus + hotel atau bus + wisata) dapat membantu menjaga ekonomi operator.

Penurunan penumpang langsung menekan pendapatan operator bus. Dengan margin operasional yang tipis dan komponen biaya besar seperti bahan bakar, izin lintas batas, dan terminal, penurunan 20–40% penumpang dapat memukul arus kas. Efek domino dirasakan sopir, kru, petugas lapangan, hingga bengkel rekanan penyedia oli, ban, dan spare part.

UMKM di rest area perbatasan juga terpukul. Warung makan, kios oleh-oleh, pedagang musiman, hingga penginapan di kawasan Aruk dan Entikong kehilangan pelanggan karena turunnya rombongan bus. “Jika tren ini berlanjut, potensi tutup usaha meningkat. Transportasi darat lintas perbatasan selama ini penggerak ekonomi,” tambah Said.

Agus menegaskan seluruh pelaku usaha transportasi lintas negara kini berada dalam tekanan berat. Dalam waktu dekat, Organda Kalbar akan menggelar audiensi besar dengan Pemerintah Daerah untuk mencari solusi. “Kami ingin mencari jalan keluar bersama agar pengusaha angkutan darat tetap bisa bertahan dan sektor ini tidak mati,” ujarnya. (ash/mrd/ars/sti)

Editor : Hanif
#UMKM #organda #perbatasan #solusi #damri #pontianak #rute penerbangan #angkutan darat #kuching