Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

DPRD Kalbar Soroti Dampak Rute Penerbangan Pontianak–Kuching terhadap UMKM dan Transportasi Darat

Deny Hamdani • Kamis, 20 November 2025 | 15:38 WIB
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Amin Muhammad Assegaf.
Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Amin Muhammad Assegaf.

PONTIANAK POST - Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Barat yang juga Ketua Komisi III, Syarif Amin Muhammad Assegaf, menyoroti dampak ekonomi yang muncul setelah rute penerbangan Pontianak-Kuching kembali dibuka.

Ia menilai, meski masyarakat mendapatkan keuntungan dari sisi kecepatan dan efisiensi perjalanan, pelaku UMKM serta sektor transportasi darat di kawasan perbatasan justru kehilangan pendapatan signifikan.

Menurut Syarif, UMKM di wilayah perbatasan seperti Entikong dan Aruk bisa saja merasakan penurunan omset akibat berkurangnya aktivitas di jalur darat. “Tidak secara ekonominya masyarakat diuntungkan, tapi pedagang UMKM di perbatasan pasti berkurang pendapatannya. Sedikit banyak tetap berkurang,” ujarnya, Kamis (20/11).

Tak hanya UMKM, Politisi NasDem Kalbar ini menyebutkan bahwa pengusaha taksi dan angkutan lokal juga ikut terdampak. Amin menegaskan pentingnya langkah pemerintah untuk memastikan pendapatan pelaku ekonomi kecil tetap terjaga.

“Ke depannya, pemerintah harus memikirkan pendapatan masyarakat seperti pengusaha UMKM di Entikong dan Aruk, daerah yang sekarang jadi lintas batas aktif,” katanya.

Dia mengusulkan agar pemerintah pusat membuka peluang ekspor-impor melalui pintu perbatasan untuk membantu UMKM mendapatkan pasar baru. Selain itu, ia menekankan perlunya bantuan peningkatan kualitas kemasan produk agar bisa masuk pasar ekspor.

“Dibantu lah. Pemerintah pusat melalui bank-bank negara dan bank daerah harus memprioritaskan KUR untuk UMKM, dengan pinjaman dan bunga yang ringan,” tambahnya. Amin juga menilai bank daerah perlu lebih proaktif mensosialisasikan fasilitas kredit tersebut.

Dibukanya kembali penerbangan Pontianak-Kuching membuat penumpang bus lintas batas turun -drastis. Dengan harga tiket pesawat Rp300-400 ribu dan waktu tempuh kurang dari satu jam, banyak warga beralih dari moda bus yang tarifnya sekitar Rp350 ribu.

Rina, salah satu penumpang, mengaku kini lebih memilih pesawat karena lebih cepat dan nyaman. “Kalau bawa banyak barang, baru saya pilih bus,” ujarnya.

Organda Kalbar menyebut penurunan penumpang semakin terasa di musim sepi. Tanpa intervensi pemerintah, mereka khawatir banyak operator bus terpaksa menghentikan operasi

 Organda bahkan mengusulkan agar rute internasional dialihkan ke kota lain seperti Kuala Lumpur atau Penang yang lebih diminati masyarakat.

Meski tertekan, DAMRI menegaskan bahwa moda bus masih dibutuhkan oleh segmen tertentu, seperti penumpang yang sakit, membawa banyak barang, atau datang dari daerah jauh di luar Pontianak. Untuk tetap bertahan, DAMRI membuka rute baru seperti Putussibau-Kuching dan Pontianak-Palangkaraya, serta memperluas layanan logistik.

Penurunan penumpang sebesar 20-40 persen membuat pendapatan operator bus merosot. Dampaknya merembet ke sopir, kru, bengkel, hingga UMKM yang mengandalkan aktivitas rest area di perbatasan.

Syarif menegaskan bahwa pemerintah harus mengambil langkah cepat dan terpadu. “Masyarakat mungkin diuntungkan, tapi pelaku usaha kecil yang selama ini bergantung pada jalur darat harus dipikirkan. Jangan sampai mereka tertinggal,” tutupnya. (den)

Editor : Miftahul Khair
#DPRD Kalbar #UMKM #komisi iii #pontianak #rute penerbangan #dampak #kuching #transportasi darat