PONTIANAK POST - Perum DAMRI mencatat penurunan okupansi signifikan pada layanan Angkutan Lintas Batas Negara (ALBN) Pontianak–Kuching sejak dibukanya penerbangan udara langsung Pontianak–Kuching pada 12 September 2025. General Manager (GM) Perum DAMRI Cabang Pontianak, Ahmad Bukhari, menyebut penurunan tersebut mencapai hampir 40 persen dibandingkan periode yang sama pada Oktober 2024.
“Angka ini memang signifikan dan berdampak pada utilisasi armada. Namun ini dinamika kompetisi antar moda yang wajar, bukan ancaman bagi moda darat,” ujarnya.
Menurutnya, tarif promo agresif dari maskapai turut memengaruhi pergeseran pangsa pasar karena pada momen tertentu harganya bahkan mendekati atau lebih rendah dari tarif bus. Meski demikian, Bukhari menegaskan bahwa moda darat tetap memiliki ruang kompetitif berkat keunggulan seperti fleksibilitas barang bawaan, kapasitas bagasi yang lebih luas, serta preferensi penumpang yang membutuhkan perjalanan lebih leluasa.
"Dengan inovasi layanan, dan penguatan value, kami optimistis DAMRI tetap menjadi pilihan banyak pelanggan,” katanya.
Terkait langkah penyesuaian harga, DAMRI memastikan tidak akan mengambil strategi menurunkan tarif. “Penurunan harga bukanlah solusi yang tepat. Kualitas layanan dan aspek keselamatan adalah dua hal yang tidak bisa dinegosiasikan,” tegasnya.
DAMRI memilih meningkatkan nilai layanan, mulai dari peningkatan kualitas kabin kelas Executive dan Royal, fleksibilitas barang bawaan, program loyalitas pelanggan, hingga integrasi layanan digital melalui DAMRI Apps dan kanal pembayaran elektronik. Ia juga berharap pemerintah ikut mengharmonisasikan tarif antar moda agar keberlanjutan moda darat tetap terjaga di kawasan perbatasan.
Menjawab isu apakah rute ini akan dihentikan, Bukhari memastikan DAMRI akan tetap bertahan. Menurutnya, ALBN bukan semata layanan komersial, tetapi juga fungsi sosial negara dalam memastikan mobilitas masyarakat lintas batas tetap terlayani.
"Karena itu, DAMRI tidak pernah melihat rute ini sebagai sesuatu yang perlu dihentikan, bahkan di tengah kompetisi antar moda yang semakin ketat. Justru sebaliknya, kami memperkuat komitmen kami,” katanya.
Ia mengungkapkan DAMRI bahkan merencanakan penambahan 10 unit bus baru pada 2026 untuk memperkuat layanan ALBN Pontianak–Kuching dan Pontianak–Brunei Darussalam.
“Sebagai BUMN transportasi darat nasional, DAMRI memegang peran strategis dalam memperkuat konektivitas, membuka akses ekonomi, perdagangan, sosial, hingga budaya di wilayah lintas batas negara. Layanan ALBN bukan sekadar layanan komersial namun fungsi sosial untuk memastikan mobilitas masyarakat, baik WNI maupun warga negara tetangga, tetap terlayani dengan baik,” paparnya.
Selain itu, DAMRI juga menyiapkan sederet inovasi untuk menghadapi persaingan dengan moda udara. Beberapa terobosan yang kini dijalankan antara lain bundling tiket DAMRI dengan hotel, paket wisata, hingga layanan antar-jemput khusus. DAMRI juga melakukan ekspansi titik penjualan di Kalbar, Sarawak, dan Brunei, menjalin kemitraan dengan agen perjalanan lintas negara, serta menjalankan program corporate travel bagi perusahaan dan komunitas yang rutin bepergian ke Sarawak.
Kemudian DAMRI juga bekerja sama dengan UMKM untuk menghadirkan paket belanja lintas negara serta menyiapkan promo musiman mengikuti libur panjang, festival budaya, dan event besar di Kalbar–Sarawak. “Sehingga momentum wisata dapat dimaksimalkan untuk meningkatkan trafik perjalanan darat,” pungkasnya.(bar)
Editor : Hanif