PONTIANAK POST – Merosotnya okupansi bus lintas negara hingga 40% setelah dibukanya rute penerbangan Pontianak–Kuching yang menawarkan perjalanan lebih cepat dan terjangkau, memicu reaksi dari warganet.
Banyak yang menyarankan agar perusahaan bus meningkatkan kualitas layanan untuk mempertahankan pelanggan.
Beberapa pengguna bus mengeluhkan biaya tinggi yang harus dikeluarkan, seperti harga tiket bus kelas eksekutif yang mencapai Rp 350.000, namun dengan pengalaman perjalanan yang kurang nyaman.
Salah satu pemilik akun Instagram @putratarigas yang rutin bepergian ke Kuching, mengaku beralih ke pesawat meskipun tiket pesawat lebih mahal.
"Harga tiket pesawat yang mencapai Rp 700.000-an masih terjangkau untuk kenyamanan dan kecepatan yang didapatkan," ujarnya. Ia menambahkan, perjalanan dengan bus menuntut waktu yang sangat lama, termasuk berjam-jam menunggu di perbatasan.
Sementara itu, harga tiket bus ekonomi yang lebih murah, yakni Rp 270.000, tetap dianggap kurang memadai mengingat kualitas perjalanan yang ditawarkan. “Kursi kecil, drama di border, dan lama menunggu,” timpalnya.
Meskipun harga pesawat hanya selisih Rp 300.000, waktu penerbangan yang hanya 30 menit memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang.
“Baru duduk, sudah sampai. Banyak waktu untuk eksplorasi atau keperluan lain, seperti medical check-up. Kalau disuruh pilih, ya pasti pilih pesawat,” tambahnya.
Beberapa saran juga diberikan untuk memperbaiki layanan bus. Pengguna akun @dav.wongso berkomentar tentang kualitas makanan yang disajikan di rumah makan yang sering menjadi tempat singgah bus.
“Nasi ayam 40k, tanpa ayam lebih murah sedikit. Lebih enak pesawatlah,” katanya.
Pengguna lain, @purnamaasitompul, menyarankan agar fasilitas bus dan pemeliharaan kendaraan ditingkatkan. Ia juga mengeluhkan rumah makan yang tidak terjangkau harganya.
"Nasi plus ayam bisa sampai Rp 40 ribu, kan nggak semua orang setuju bayar segitu,” keluhnya.
Masalah lain yang dikeluhkan adalah performa bus yang tidak jarang mogok di jalan. Pemilik akun @robertmarsianus menyoroti kondisi bus Damri yang perlu diperbaiki.
"Coba perbaiki bisnya sedikit, dan pastikan kursi sesuai dengan nomor tiket. Jangan ada penumpang tanpa tiket yang diizinkan naik," tambahnya.
Meski demikian, ada juga warga net yang optimis bahwa okupansi bus masih bisa stabil. Beberapa menyarankan untuk membuka rute baru, seperti Sintang-Pinoh-Sekadau ke Kuching, yang dianggap dapat meningkatkan okupansi bus lintas negara.
Akun @urayriarahmayanti berpendapat, meskipun harga tiket pesawat internasional mulai mahal, masyarakat akan kembali memilih bus terutama menjelang liburan sekolah. "Orang pasti berbondong-bondong lagi pakai bus," katanya.
Akun @shenjayatwin24 juga setuju dengan ide membuka rute baru Sintang-Pinoh-Sekadau ke Kuching, mengingat rute tersebut tidak memiliki jalur penerbangan langsung ke Kuching. “Karena rute ini nggak ada jalur penerbangan pesawat ke Kuching,” ujarnya.
Akun @snarlinghate juga mendukung pembukaan rute Sintang-Kuching. "Gass buka Sintang ke Kuching," pungkasnya. (mrd)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro