PONTIANAK POST — Sebanyak 8,90 persen anak usia lima hingga 12 tahun di Kalimantan Barat mengalami obesitas.
“Ini data Riskesdas 2018 dan masih menjadi acuan hingga saat ini. Meskipun belum ada publikasi terbaru yang lebih mutakhir, pola konsumsi saat ini mengindikasikan risiko peningkatan,” ujar Akademisi Universitas Muhammadiyah, M. Taufik, kepada Pontianak Post, kemarin.
Menurut Taufik, meningkatnya kecenderungan pola makan dan gaya hidup anak-anak yang dinilai semakin tidak sehat serta berpotensi memicu peningkatan obesitas.
Pergeseran pola konsumsi anak di Kalbar sangat terlihat, sejalan dengan pola nasional yang memperlihatkan dominasi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak.
“Pola makan anak-anak sekarang banyak bergeser dari makanan segar ke produk instan, ultraprocessed, dan minuman manis yang bisa menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada obesitas,” kata Taufik.
Taufik menerangkan bahwa konsumsi minuman manis kini semakin lazim, bahkan di usia sekolah dasar.
Menurutnya, minuman dengan kadar gula tinggi menjadi salah satu sumber kalori harian yang sering dikonsumsi berlebihan, tanpa disadari oleh orangtua.
Taufik menjelaskan bahwa minuman manis yang sering dikonsumsi anak umumnya mengandung kalori tinggi, dan apabila diminum setiap hari tanpa diimbangi aktivitas fisik yang memadai, dapat memicu kenaikan berat badan yang tidak sehat.
Menurut Taufik, keluarga masih menjadi faktor paling kuat yang mempengaruhi terjadinya kegemukan pada anak. Masih banyak orangtua yang menganggap anak gemuk adalah anak sehat.
Padahal obesitas justru meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, bahkan penyakit jantung saat anak dewasa nanti,” tegasnya.
Dia menilai bahwa sebagian keluarga juga belum memperhatikan kandungan gizi makanan yang diberikan di rumah. Menu harian sering dipenuhi makanan instan atau tinggi kalori, seperti mie instan, nasi goreng, atau camilan manis.
“Sering kali anak diberi makanan yang enak tapi rendah nutrisi. Akhirnya, energi yang masuk lebih besar daripada yang mereka keluarkan,” jelas Taufik.
Selain pola makan di rumah, ia menyoroti lingkungan sekolah yang dinilai turut berkontribusi. Banyak kantin sekolah masih menyediakan camilan dan minuman yang tidak mendukung pola hidup sehat.
Ia juga menilai bahwa perubahan perilaku akibat penggunaan gawai menjadi faktor penting lainnya. Banyak anak kini lebih sering beraktivitas di depan layar dibandingkan bermain atau bergerak bebas.
“Aktivitas fisik yang kurang menyebabkan penurunan pengeluaran energi, sehingga kalori yang masuk tidak terbakar dengan efektif,” tuturnya.
Meski tekanan ekonomi membuat makanan murah dan cepat saji semakin menjadi pilihan keluarga, Taufik menilai keterbatasan biaya tidak seharusnya menjadi alasan anak kekurangan gizi seimbang.
Ia menyebut masih banyak bahan pangan lokal murah, sehat, dan bergizi yang dapat dikonsumsi anak setiap hari. Ia juga menganjurkan anak membawa bekal dari rumah untuk mengontrol jenis makanan yang dikonsumsi di sekolah.
“Sebenarnya makanan sehat tidak harus mahal. Tahu, tempe, telur, kacang-kacangan, sayur, dan buah lokal bisa jadi pilihan bergizi yang terjangkau,” ujarnya.
Taufik mengatakan pemerintah daerah perlu melakukan intervensi serius agar persoalan obesitas anak tidak semakin besar. Menurutnya, langkah-langkah strategis sangat mendesak diterapkan, mulai dari edukasi publik hingga penguatan kebijakan kesehatan di sekolah dan lingkungan masyarakat.
“Edukasi untuk orangtua, guru, dan anak perlu diperkuat. Banyak yang belum benar-benar memahami dampak obesitas sejak dini,” katanya.
Ia juga mendorong adanya regulasi yang lebih ketat terhadap kantin sekolah. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan hanya makanan yang aman dan sehat yang dijual kepada anak-anak. “Kantin sekolah seharusnya tidak menjual makanan yang hanya tinggi gula dan lemak. Harus ada standar makanan sehat di sekolah,” tegasnya.
Selain itu, Taufik menilai pemerintah perlu memperbanyak fasilitas publik yang memungkinkan anak bergerak aktif. Taman bermain, lapangan olahraga, serta kegiatan luar sekolah yang mendorong aktivitas fisik perlu diperkuat.
Ia menyebut intervensi lintas sektor tidak dapat dihindari, karena persoalan obesitas tidak bisa ditangani hanya oleh satu pihak. Kolaborasi sekolah, pemerintah, dan swasta menjadi kunci terciptanya perubahan perilaku dan lingkungan makan yang lebih sehat.
“Masalah obesitas anak ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi harus ditangani bersama. Kalau tidak ada langkah nyata sekarang, risikonya akan kita rasakan beberapa tahun ke depan,” pungkasnya.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti mengingatkan orangtua agar lebih cermat memerhatikan pola makan dan aktivitas fisik anak sebagai upaya mencegah risiko obesitas.
Menurutnya, anggapan “anak gemuk itu lucu” masih menjadi salah satu tantangan dalam upaya membangun kesadaran mengenai gizi seimbang.
Erna menjelaskan bahwa data obesitas pada anak saat ini masih dihimpun melalui fasilitas kesehatan, khususnya rumah sakit.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Kalbar memegang data anak dengan gizi kurang, serta anak yang masuk kategori overweight, meski pembaruannya belum selesai karena harus dilakukan dalam trimester.
“Kami tetap meminta kepada orangtua untuk memperhatikan asupan dan pola makan anak, sesuai umur dan gizinya. Kadang masyarakat menilai anak gemuk itu lucu, padahal perlu dicek apakah porsinya sudah sesuai usia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa aktivitas fisik tetap menjadi faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Meski penggunaan gawai sering dikaitkan dengan kurangnya pergerakan, Erna menegaskan bahwa hal tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya penyebab obesitas.
“Kami berharap anak-anak tetap sehat, aktif, dan tumbuh kembangnya sesuai usianya. Bermain gadget memang membuat anak kurang bergerak, tetapi tidak bisa dijadikan dasar tunggal penyebab obesitas,” imbuhnya.
Erna menyebutkan bahwa edukasi kepada orangtua menjadi kunci untuk menekan risiko obesitas maupun masalah gizi lainnya. Pemenuhan gizi seimbang, pola makan sesuai usia, dan dorongan untuk tetap aktif disebut sebagai langkah preventif utama. (mse)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro