PONTIANAK POST - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso kembali mencatat sejarah baru dalam peningkatan layanan kesehatan di Kalimantan Barat. Rumah sakit milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar itu resmi melakukan tindakan radiologi intervensi onkologi, dan Digital Subtraction Angiography (DSA) perdana di Kalbar, Jumat (21/11) malam.
Langkah ini dilakukan melalui program proctorship bekerjasama dengan Perhimpunan Subspesialis Radiologi Intervensi Indonesia (PSRII). Pada pelaksanaan perdana tersebut, empat pasien dengan kasus kompleks berhasil ditangani oleh dokter RSUD Soedarso, John Kurniawan, bersama tim dari PSRII.
Direktur RSUD Soedarso Hary Agung Tjahyadi, menyebut layanan ini sebagai kabar baik bagi masyarakat Kalbar yang selama ini harus dirujuk ke Jakarta atau kota besar lain untuk mendapatkan tindakan radiologi intervensi.
“Selama ini pasien-pasien dengan kasus intervensi radiologi harus dirujuk keluar daerah. Sekarang masyarakat Kalbar bisa mendapatkan layanan ini di wilayah sendiri, dan seluruhnya dijamin BPJS,” ujarnya.Baca Juga: Menteri UMKM Tegaskan KUR Hingga Rp100 Juta Wajib Tanpa Agunan, Bank Melanggar Akan Disanksi
Dalam tindakan perdana tersebut, terdapat empat kasus yang ditangani. Dua diantaranya merupakan tumor dengan risiko perdarahan tinggi, salah satunya telah menjalar hingga bagian kepala. Pada kasus tersebut, tim melakukan Transarterial Chemoembolization (TACE), yaitu teknik menyumbat pembuluh darah menuju tumor sekaligus memberikan obat kemo agar sel tumor melemah sebelum operasi. “Tujuannya menurunkan tingkat keganasan, mengecilkan tumor, dan membuat operasi menjadi lebih aman,” jelas John.
Kasus lainnya adalah pembesaran prostat pada pasien lanjut usia. Jika sebelumnya umumnya ditangani dengan operasi terbuka atau teknik TURP, kini RSUD Soedarso menawarkan metode yang lebih minim risiko melalui prostate artery embolization. Yaitu teknik menyumbat pembuluh darah yang mensuplai prostat agar ukurannya mengecil.
John menegaskan TACE merupakan standar internasional untuk tumor hati stadium dua menurut klasifikasi BCLC, meski belum banyak dikenal di rumah sakit daerah. Keunggulan radiologi intervensi, ujarnya, terletak pada teknik tanpa sayatan besar. Lubang kecil kurang dari 2 mm menjadi akses tindakan, dan pasien biasanya bisa pulang keesokan harinya.
Perwakilan dari PSRII, Ernaldi Kapusin menyatakan bahwa RSUD Soedarso kini memiliki fasilitas yang cukup lengkap untuk menjalankan berbagai prosedur radiologi intervensi. Menurutnya, teknik ini dapat digunakan untuk menangani stroke, tumor, kasus lutut, prostat, hingga obesitas.
Tindakan ini dinilai lebih aman, minim komplikasi, dan waktu pemulihannya juga jauh lebih cepat dibanding operasi terbuka. Dengan keberhasilan tindakan perdana ini, RSUD Soedarso menjadi rumah sakit pertama di Kalbar yang mampu melakukan layanan radiologi intervensi dan DSA, sekaligus masuk jajaran pusat layanan radiologi intervensi di Indonesia bagian barat.
Ke depan, layanan ini diharapkan menjadi solusi bagi berbagai kasus kompleks seperti perdarahan akut, tumor berdarah, tumor hati, stroke, atau gangguan pembuluh darah yang sebelumnya harus dirujuk ke luar daerah. Dimana, RSUD Soedarso menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat diri sebagai rumah sakit rujukan utama dengan layanan modern, cepat, dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Kalbar. (bar)
Editor : Hanif