Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pemprov Kalbar Dorong Hilirisasi Kopi Lokal Liberika dan Robusta

Siti Sulbiyah • Rabu, 26 November 2025 | 11:07 WIB

 

LOKAL: Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero (kiri) menunjukkan salah satu brand kopi lokal yang memberdayakan petani untuk menghasilkan biji kopi liberika maupun robusta.
LOKAL: Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero (kiri) menunjukkan salah satu brand kopi lokal yang memberdayakan petani untuk menghasilkan biji kopi liberika maupun robusta.

PONTIANAK POST – Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat mendorong warung kopi agar lebih banyak memanfaatkan kopi lokal Kalimantan Barat, terutama jenis Liberika dan Robusta. Hal ini seiring pesatnya pertumbuhan usaha kedai kopi di kota tersebut.

Berdasarkan data Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sektor makanan dan minuman yang dirilis Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Pontianak per Agustus 2025, tercatat 1.035 warung kopi dan coffee shop beroperasi di Pontianak.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero menilai pertumbuhan ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat rantai produksi kopi lokal, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Kopi sudah menjadi kebutuhan luar biasa, mulai dari kalangan muda hingga masyarakat umum. Ini peluang besar untuk mendorong pengembangan kopi lokal seperti liberika dan robusta,” ujar Hero, di sela kegiatan Gema Membangun Desa, Selasa (25/11).

Hero menyebut kopi jenis liberika menjadi salah satu kopi khas Kalbar. Awalnya pengembangan difokuskan di Kayong Utara, namun kini sudah meluas ke berbagai daerah. Potensi dinilainya semakin menjanjikan seiring naiknya harga biji kopi hijau yang kini bergerak pada kisaran Rp80 hingga Rp100 ribu per kilogram.

Menurutnya, nilai tersebut menjadi peluang usaha yang besar bagi masyarakat desa yang menanam kopi. Karena itu, pemerintah mendorong agar pengolahan pascapanen, proses roasting, hingga penyajian kopi dapat dilakukan secara sistematis di Kalbar untuk memperkuat industri hilir.

Ia menjelaskan, pengembangan kopi saat ini dirancang secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Dari sisi hilir, pihaknya terus mendorong kemitraan dengan para pelaku dan praktisi kopi, termasuk kemungkinan kolaborasi dengan dinas perdagangan agar ke depan kedai kopi, terutama yang sudah memiliki branding kuat, dapat menyediakan porsi tertentu untuk kopi lokal Kalbar.

 “Kita ingin ada dorongan agar produksi lokal ikut naik dan memberikan pemberdayaan bagi para pekebun,” katanya.

Saat ini, luas kebun kopi di Kalimantan Barat sekitar tujuh ribu hektare. Pemerintah menargetkan luasan tersebut bisa mencapai 10 ribu hektare dalam waktu dekat untuk memperkuat suplai bahan baku.

Ia mencontohkan sejumlah kedai yang konsisten menggunakan kopi lokal sejak awal, seperti merek kopi 101 Coffee hingga Kopi Kojal. Model seperti itu, katanya, perlu diperbanyak karena memberikan multiplier effect yang signifikan bagi desa penghasil kopi.

Salah satu produsen kopi liberika yang terus memperkuat pasokan lokal berasal dari Kelompok Tani Batu Layar, Desa Sendoyan, Kabupaten Sambas. Pembina kelompok tani, Dedi, menyebut bahwa liberika dari Desa Sendoyan telah menjadi produk unggulan desa dan kini menjadi bahan baku tetap bagi sejumlah warkop, termasuk 101 Coffee, yang dikenal konsisten mengangkat kopi lokal.

“Liberika sudah menjadi identitas kopi Kalbar. Selain rasanya khas, kandungan kafeinnya rendah dan diklaim aman bagi lambung. Itu membuatnya semakin diminati,” ujar Dedi.

Dedi menyambut baik inovasi 101 Coffee yang menghadirkan minuman baru hasil kolaborasi dengan produk desa lainnya. Produk itu diberi nama Sambaria, yakni perpaduan kopi liberika dari Sendoyan dengan jeruk Sambas. Minuman ini menghasilkan cita rasa segar yang memadukan kekhasan dua komoditas lokal sekaligus.

“Inovasi seperti ini luar biasa. Ini bukti bahwa kopi desa bisa naik kelas dan menjadi produk bernilai tinggi,” katanya. (sti)

Editor : Hanif
#petani #kalbar #warkop #nilai tambah #kopi lokal #robusta #hilirisasi #liberika