Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Beban Ganda Guru BK di Pontianak, Rasio Guru dan Siswa Jauh dari Ideal

Siti Sulbiyah • Kamis, 27 November 2025 | 11:27 WIB

 

Ilustrasi: Guru sedang mengajar di kelas.
Ilustrasi: Guru sedang mengajar di kelas.

PONTIANAK POST - Pekerjaan sebagai guru bimbingan dan konseling (BK) bukan sekadar mendampingi siswa yang bermasalah. Mereka juga menjaga dinamika emosi remaja yang sedang berada pada masa paling rentan dalam hidup mereka.

Di tengah rasio guru dan siswa yang jauh dari ideal, para guru BK harus bekerja ekstra menghadapi lonjakan kasus dan persoalan yang muncul setiap hari.

Bagi Endah Fitriani, guru BK di SMP Negeri 10 di Kota Pontianak, setiap hari adalah perjuangan memastikan situasi tetap kondusif di tengah jumlah siswa yang jauh melampaui kapasitas ideal. Di sekolahnya, hanya terdapat dua guru BK yang harus menangani 25 rombongan belajar, dengan totalnya hampir 900 siswa.

“Rasionya memang tidak sebanding. Idealnya satu guru BK menangani 150 siswa. Sekarang kami berdua menangani hampir 900,” ujar Endah.

Endah bercerita, akhir-akhir ini jumlah siswa bermasalah justru meningkat. Jam istirahat yang seharusnya bisa digunakan sebentar mengambil jeda, justru kadang sulit didapatkan karena harus mengurusi sejumlah persoalan seperti pertengkaran antar siswa.

Situasi ini membuat guru BK harus selalu siaga, bahkan ketika mereka belum sempat masuk kelas atau menyelesaikan layanan konseling individual.

Selain menangani masalah siswa, sebagai guru juga harus menyelesaikan pekerjaan administratif yang jumlahnya tidak sedikit. “Bikin perangkat, supervisi, laporan. Administrasinya banyak sekali. Pulang sore sudah capek,” katanya.

Di sisi lain, Endah mengaku bersyukur karena tidak merangkap sebagai wali kelas.

Hampir setiap hari, Endah mengaku menghadapi ragam persoalan siswa. Ia pun mendengar curhatan siswa, mulai dari masalah keluarga, pergaulan, hingga masalah pribadi yang bersifat rahasia dan sensitif. Sebagian siswa datang melalui kotak curhat yang tersedia di sekolah, karena tidak semua berani bercerita secara langsung.

Walau begitu, pihaknya berusaha optimal dalam menjalankan tugasnya sebagai guru BK. Untuk mencegah konflik yang muncul tiba-tiba, sekolahnya membentuk Satgas Anti-Bullying, yang mana ada beberapa siswa yang berfungsi sebagai “mata lingkungan”.

“Mereka melihat situasi di sekitar. Kalau ada tanda-tanda masalah, langsung informasikan ke guru,” ujar Endah.

Menurutnya, inisiatif ini cukup membantu meminimalisir kejadian tak terduga, meski tetap tidak mengurangi kebutuhan akan tambahan tenaga BK. 

Selain itu, sekolah telah memasang beberapa CCTV untuk membantu pengawasan, namun pemasangannya belum merata di seluruh area.

Endah berharap pemerintah daerah maupun sekolah lebih memperhatikan keberadaan guru BK. Ia juga berharap pelatihan yang diberikan kepada guru BK bisa lebih praktis dan sesuai tantangan nyata yang mereka hadapi di lapangan.

 “Semoga ke depan guru BK bisa ditambah, dan pelatihannya tidak hanya teori, tapi betul-betul membantu dalam praktik,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMP Kota Pontianak, Arni Arsyad, mengungkapkan bahwa guru BK, khususnya di tingkat SMP saat ini menghadapi tantangan pekerjaan yang banyak. Selain itu, persoalan remaja semakin kompleks seiring karakteristik siswa yang berada pada masa transisi dari anak-anak menuju remaja awal.

“Di SMP kita berhadapan dengan masa transisi. Banyak siswa yang kesulitan beradaptasi pada usia tersebut, sehingga guru BK harus bekerja lebih ekstra,” ujarnya.

Arni menjelaskan, beban kerja guru BK meningkat tajam karena rasio antara guru dan siswa jauh dari standar nasional. Berdasarkan Permendikbud, ia menyebut satu guru BK idealnya menangani 150–250 siswa. Namun realitanya, banyak sekolah di Pontianak tidak mampu memenuhi standar tersebut.

“Ada sekolah dengan murid lebih dari seribu tapi hanya punya tiga guru BK,” katanya.

Untuk mendekatkan layanan BK kepada siswa, beberapa sekolah menyediakan Pojok Curhat, kotak bimbingan, atau kotak curhat sebagai wadah bagi siswa yang kesulitan terbuka secara langsung.

Guru BK menurutnya juga berupaya membangun budaya bahwa guru BK adalah sahabat siswa, sehingga kehadiran mereka tidak menakutkan, tetapi memberikan rasa nyaman.

 “Kami ingin membudayakan bahwa BK adalah sahabat siswa sehingga terjalin rasa nyaman antara guru BK dan siswa,” terangnya. 

Arni menegaskan bahwa guru BK tak hanya mengatasi siswa bermasalah. Guru BK menurutnya memberikan layanan pada empat bidang utama, yakni belajar, pribadi, sosial, dan karir. Beberapa sekolah memberikan jatah 1 jam pelajaran bagi guru BK untuk masuk kelas, yang menurutnya sangat penting untuk mengenal siswa lebih dekat. 

Dalam menangani kasus kenakalan, tambah dia, strategi yang digunakan antara lain memaksimalkan konseling individu, menerapkan pendekatan restoratif untuk memperbaiki hubungan dan menumbuhkan tanggung jawab, serta memperkuat koordinasi dengan orang tua dan pihak terkait.

Arni berharap Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pendidikan dapat memberikan perhatian lebih terhadap pemenuhan rasio guru BK di sekolah-sekolah. Ia memperkirakan saat ini terdapat sekitar 100 guru BK di tingkat SMP se-Kota Pontianak, namun jumlah tersebut dinilai masih belum memadai. (sti)

Editor : Hanif
#pengawasan #administratif #guru bk #pontianak #beban berat #konseling