PONTIANAK POST - Tingkat pengangguran lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kalimantan Barat kembali menjadi yang tertinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya. Temuan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar ini memunculkan kekhawatiran baru di tengah bonus demografi yang seharusnya menjadi momentum peningkatan kualitas tenaga kerja.
Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura, Meiran Panggabean, menilai tingginya pengangguran lulusan SMK berkaitan erat dengan ketidaksesuaian fasilitas belajar dengan kebutuhan industri masa kini.
Ia menduga banyak SMK masih menggunakan peralatan praktik yang sudah usang, sementara dunia usaha telah bergerak menggunakan teknologi yang jauh lebih modern.
“Dari data ini, kita menduga di SMK itu peralatan keterampilan tidak modern. Banyak mesin-mesin lama digunakan, padahal industri sudah pakai teknologi baru,” ujarnya belum lama ini. Ia juga menilai fasilitas komputer dan perangkat pendukung pembelajaran lainnya kemungkinan belum mengikuti standar kebutuhan industri saat ini.
Padahal, secara konsep, SMK dirancang untuk mencetak lulusan siap kerja. Meiran menambahkan, persoalan lain yang turut menahan laju lulusan SMK memasuki dunia kerja adalah minimnya akses permodalan untuk membuka usaha mandiri.
“Kemungkinan lulusan ini punya keterampilan, tapi sulit mendapatkan modal. Akhirnya mereka tidak bisa membuka usaha,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sertifikasi keterampilan agar tenaga kerja lebih kompetitif.
Menurutnya, indikator pembangunan nasional maupun daerah kini tidak hanya mengukur jumlah tenaga terampil, tetapi juga berapa banyak yang memiliki sertifikat resmi.
Meiran menegaskan persoalan pengangguran tidak hanya melanda lulusan SMK, tetapi juga lulusan perguruan tinggi. “Faktanya, sarjana juga banyak yang menganggur,” katanya.
Berdasarkan data BPS Kalbar, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hasil Sakernas Agustus 2025 tercatat sebesar 4,82 persen.
“Artinya, dari 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar empat sampai lima orang penganggur,” jelas Statistisi Ahli Madya BPS Kalbar, Yoyo Karyono, dalam kegiatan Workshop Indikator Strategis BPS Kalbar.
Jika dirinci berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, TPT lulusan SMK menjadi yang tertinggi mencapai 9,86 persen pada Agustus 2025.
Posisi berikutnya ditempati lulusan SMA sebesar 7,34 persen, Diploma I/II/III 5,90 persen, dan Diploma IV/S1/S2/S3 sebesar 5,20 persen.
Adapun TPT lulusan SMP tercatat 3,82 persen dan yang terendah adalah lulusan SD ke bawah sebesar 2,53 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang tidak otomatis mengurangi risiko pengangguran tanpa dukungan keterampilan relevan, fasilitas memadai, dan sertifikasi kompetensi yang diakui industri. (sti)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro