PONTIANAK POST – General Manager PLN UID Kalimantan Barat, Maria Goretti Indrawati Gunawan menegaskan bahwa Kalimantan Barat memiliki posisi penting dalam upaya Indonesia mempercepat pemanfaatan energi bersih menuju target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060.
Maria menjelaskan, Kalbar menjadi salah satu provinsi dengan peluang besar untuk mempercepat transisi tersebut. Provinsi ini memiliki beragam sumber EBT yang dapat dikembangkan secara bertahap.
“Potensi hidro skala kecil, biomassa, hingga lokasi-lokasi yang cocok untuk PLTS off-grid memberi peluang nyata bagi Kalbar meningkatkan bauran energi bersih,” ujar Maria di Pontianak, kemarin.
Berdasarkan data PLN, potensi terpasang yang dapat dikembangkan di Kalbar meliputi 65,7 MW Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBio), 28 MW Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM), 448,6 MW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), serta 450 MW Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Namun, ia menyadari bahwa pemanfaatan potensi tersebut masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan akses lokasi, ekonomi skala, dan kesiapan infrastruktur. “Transisi energi tidak bisa instan. Tapi langkahnya sudah jelas dan terus bergerak,” ujar Maria.
Maria menambahkan sebagai bagian dari strategi nasional, PLN berperan sebagai system integrator dalam percepatan transisi energi. Peran itu diwujudkan melalui upaya menarik investasi EBT, melakukan retirement pembangkit berbasis batu bara dan genset, mengembangkan smart grid, serta memperluas penggunaan battery energy storage system (BESS).
Selain itu, tambah Maria, PLN juga mendorong elektrifikasi transportasi dan industri. Saat ini PLN telah menghadirkan 52 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan 19 Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Maria menambahkan, kontribusi Kalbar dalam transisi energi juga diperkuat melalui pembangunan interkoneksi sistem kelistrikan Kalimantan. Integrasi jaringan listrik antardaerah memungkinkan saling dukung suplai, mengurangi ketergantungan pada pembangkit diesel, serta mengoptimalkan pemanfaatan pembangkit EBT di masing-masing wilayah.
“Interkoneksi Kalimantan menjadi fondasi penting untuk meningkatkan keandalan pasokan dan pemerataan energi. Saat ini transmisi Sandai–Tayan sudah terhubung, dan ini langkah maju untuk memperkuat suplai ke Kalbar,” jelasnya.
Maria meyakini melalui penguatan sistem, pengembangan EBT, dan investasi infrastruktur, Kalbar dapat memainkan peran signifikan dalam perjalanan Indonesia menuju swasembada energi bersih dan NZE 2060. (mse)
Editor : Hanif