PONTIANAK POST - Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Kalbar, Syarif Kamaruzaman mengungkapkan, harga sejumlah komoditas pangan vital di Kalimantan Barat dilaporkan menunjukkan kenaikan signifikan pada pekan pertama Desember 2025 menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Kenaikan harga ini terutama melanda kelompok komoditas dengan volatilitas tinggi, seperti cabai rawit merah, cabai merah besar, cabai merah keriting, dan bawang merah, yang sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca dan kelancaran distribusi.
Meskipun komoditas hortikultura melonjak, komoditas pangan strategis lainnya seperti beras medium, minyak goreng, gula pasir, daging ayam, daging babi, dan telur ayam diklaim masih cenderung stabil, meski permintaan di pasar sudah mulai terlihat meningkat.
Pemantauan ketat juga terus dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Harga Beras sejak 23 Oktober 2025. Berdasarkan laporan Satgas, harga beras medium saat ini relatif stabil dan di beberapa wilayah sudah menyentuh Harga Eceran Tertinggi (HET).
Namun, masalah masih mendera harga beras premium. “Beras premium masih bertahan di atas HET karena pasokan dari dalam daerah belum tersedia, dan harga bahan baku masih mengikuti pergerakan dari luar Kalbar,” katanya.
Sepanjang tahun, upaya intervensi pasar masif telah dilaksanakan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar bersama Bulog dan pemerintah kabupaten/kota telah menggelar total 113 kali operasi pasar dari Januari hingga 9 Desember 2025.
Operasi pasar ini mendistribusikan 492.860 kilogram beras, 98.572 liter minyak goreng, dan 98.572 kilogram gula pasir secara merata di dua kota dan 12 kabupaten, dengan intensitas tertinggi pada Februari–Maret dan November–Desember.
Meskipun demikian, Syarif mengakui adanya sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi menjelang puncak Nataru. Tantangan tersebut meliputi fluktuasi produksi cabai akibat cuaca buruk, ketiadaan produksi beras premium dari dalam daerah, potensi lonjakan konsumsi yang diprediksi terjadi pada minggu ketiga Desember, serta tingginya biaya logistik yang menyebabkan disparitas harga antar wilayah.
Untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan pasokan aman, Pemprov Kalbar mengusulkan beberapa langkah strategis. Ini termasuk peningkatan pengawasan distribusi guna mencegah praktik penimbunan, optimalisasi peran Satgas Pangan dan Satgas Beras, serta koordinasi untuk percepatan pasokan komoditas hortikultura.
“Pemprov juga meminta dukungan penuh Forkopimda dalam pengamanan distribusi barang kebutuhan pokok di lapangan. Kami berharap seluruh upaya ini dapat menjaga keterjangkauan harga dan memastikan masyarakat Kalbar dapat merayakan natal dan tahun baru dengan aman dan nyaman,” tutup Syarif.
Ketua DPRD Kalbar, Aloysius menyoroti pentingnya menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Ia meminta pemerintah provinsi hingga kabupaten/kota bergerak cepat melakukan pemantauan dan intervensi agar lonjakan harga tidak terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, yang menjadi problem dari tahun ke tahun adalah kenaikan harga bahan pokok,” kata Aloysius saat ditemui di DPRD Kalbar.
“Kita berharap dinas teknis benar-benar memantau dan melakukan langkah-langkah agar tidak terjadi kenaikan signifikan," timpalnya.
Aloysius menyebutkan, instansi terkait harus bersinergi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam mengontrol harga pasar. Menurutnya, pasar sering mengalami kenaikan harga, jika tidak ada intervensi pemerintah.
“Dari Disperindag sampai pemerintah kabupaten dan kota, harus bisa menstabilkan harga. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggelar pasar murah,” ujarnya.
Pasar murah, lanjutnya, menjadi instrumen penting pemerintah untuk menjaga keseimbangan harga agar tidak terjadi spekulasi dan permainan harga oleh oknum pedagang.
Selain pasar murah, Aloysius menyarankan pemerintah segera menggelar operasi pasar di waktu yang tepat. Operasi pasar dianggap sebagai cara efektif untuk menekan harga yang cenderung naik pada masa libur panjang.
“Saya menyarankan dinas terkait segera melaksanakan operasi pasar. Dengan itu, pedagang pun tidak semena-mena menaikkan harga,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa faktor cuaca, terutama saat musim hujan dan akses logistik terhambat, berpotensi memengaruhi kelangkaan dan kenaikan harga.
Aloysius menekankan bahwa pedagang memang berhak mendapatkan keuntungan, tetapi tidak boleh berlebihan hingga merugikan masyarakat. “Pedagang pasti cari untung. Itu wajar. Tapi kalau untung 10 sampai 20 kali lipat, itu namanya menciptakan masalah bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia mendesak pemerintah bertindak tegas apabila ditemukan pedagang yang menaikkan harga secara tidak wajar. "Kalau ada yang menaikkan harga semena-mena, harus diberi sanksi. Jangan dibiarkan,” tambahnya.(bar/den)
Editor : Hanif