PONTIANAK POST - Potensi terjadinya banjir pesisir di Kalimantan Barat kembali harus diwaspadai, terutama pada periode 19 hingga 26 Desember 2025.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terhadap data water level dan prediksi pasang surut (rob) berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia, termasuk di pesisir Kalimantan Barat khususnya di pesisir kota Pontianak dan pesisir Sungai Kapuas pada periode tersebut. Adanya fenomena fase bulan baru pada 20 Desember 2025 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum.
Senin (15/12), dalam laman resminya BMKG juga mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi dan potensi banjir Indonesia untuk Dasarian II Desember 2025. Kalimantan Barat masuk dalam klasifikasi waspada, terutama di beberapa wilayah di Ketapang, Sanggau, dan Landak diprediksi mengalami potensi banjir kategori Tinggi.
Untuk wilayah Ketapang yakni Kecamatan Delta Pawan, Matan Hilir Selatan, Muara Pawan, dan Sungai Melayu Rayak. Waspada juga di wilayah Kabupaten Landak yakni di Kecamatan Air Besar. Untuk wilayah Sanggau di Kecamatan Entikong dan Meliau.
Untuk periode Dasarian II Desember, tidak ada wilayah yang mengalami curah hujan tinggi kategori awas. Namun, beberapa wilayah di Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur, diprediksi mengalami curah hujan tinggi dengan peringatan dini kategori siaga. Pada periode ini, sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan diprediksi mengalami potensi banjir dengan kategori Tinggi.
Saat ini sekitar 77 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim hujan. Bagi masyarakat yang wilayahnya sudah memasuki musim hujan agar selalu menjaga kesehatan, waspada terhadap kemungkinan terjadinya banjir dan longsor, rajin membersihkan saluran air, menghindari aktivitas di luar ruangan saat terjadi hujan lebat disertai petir.
Pada 8 Desember 2025 lalu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan kondisi cuaca, dinamika atmosfer, serta potensi risiko hidrometeorologi dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Persiapan Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno. BMKG hadir melalui Plt. Sekretaris Utama, Guswanto.
Rapat turut dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga, TNI/Polri, BUMN transportasi, BNPB, Basarnas, serta berbagai pihak terkait. Tujuannya untuk memastikan kelancaran mobilitas masyarakat serta kesiapan nasional dalam mengantisipasi potensi cuaca ekstrem selama periode libur akhir tahun.
Dalam paparannya, Guswanto menyampaikan bahwa periode Desember 2025 hingga Januari 2026 bertepatan dengan puncak musim hujan sehingga meningkatkan potensi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi di sejumlah wilayah, terutama di Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan sebagian besar Kalimantan.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah fenomena atmosfer diprediksi aktif secara bersamaan pada periode Nataru, seperti Monsun Asia, Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby, La Niña lemah, serta kemunculan bibit siklon tropis 93W dan 91S yang dapat memperkuat intensitas hujan dan angin kencang di berbagai wilayah.
Lebih lanjut, Guswanto memaparkan selama periode Nataru ini, BMKG telah memetakan dinamika cuaca dalam tiga periode, yakni 15–22 Desember yang didominasi hujan lebat; 22–29 Desember yang cenderung menurun; serta 29 Desember–10 Januari yang kembali meningkat seiring pergeseran puncak musim hujan ke Pulau Jawa.
"Yang perlu diwaspadai adalah tingginya intensitas hujan, angin kencang, gelombang tinggi, serta potensi dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis. Kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas transportasi darat, laut, dan udara selama Nataru,” ujar Guswanto dalam siaran persnya.
Untuk transportasi udara, pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) masih menjadi perhatian karena dapat memicu hujan intensif. Namun, mitigasi telah berjalan sejak awal melalui penyediaan flight document resmi BMKG.
“Semua pilot sudah mengambil flight document dari website-nya BMKG secara resmi, sehingga harapannya tidak memberikan dampak yang lebih buruk. Jadi artinya BMKG juga telah memberikan langkah untuk mitigasinya,” ujar Guswanto.
Pada sektor pelayaran, sebagian wilayah perairan diperkirakan mengalami gelombang 2,5–4 meter, sementara area dekat Natuna dapat melebihi 6 meter pada Januari.
BMKG juga memberikan informasi potensi rob berbasis fase bulan bagi berbagai pesisir di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku. Wilayah yang sudah terdampak rob, seperti Pontianak, juga mendapatkan penguatan informasi untuk mendukung respons daerah.
Sebagai langkah mitigasi langsung, BMKG bersama BNPB, pemerintah daerah, dan BUMN menyiagakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Jawa Timur. OMC difokuskan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah berisiko tinggi, meski tetap memperhatikan batasan teknis terutama saat terjadi pengaruh siklon tropis.
BMKG juga memperkuat kesiapsiagaan melalui layanan informasi cuaca real-time yang dapat diakses masyarakat dan pemangku kepentingan, meliputi InfoBMKG, Digital Weather for Traffic BMKG (transportasi darat), Ina-SIAM (penerbangan), dan InaWIS (pelayaran). Seluruh informasi berbasis satelit diperbarui setiap 10 menit dan dapat diakses oleh publik maupun operator transportasi.
“BMKG berkomitmen memberikan informasi cuaca terkini, peringatan dini yang tepat waktu, serta dukungan teknis kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga keselamatan masyarakat selama periode Nataru,” pungkasnya. (mrd)
Editor : Miftahul Khair