PONTIANAK – Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan ritual, tetapi pedoman hidup yang membentuk pribadi, masyarakat, hingga peradaban. Penegasan itu disampaikan Prof. Dr. K.H. Said Agil Husin Al Munawar, MA, dalam Seminar Al-Qur’an yang digelar DPW IPQAH Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (20/12/2025), di Hotel 95 Pontianak.
Seminar yang mengusung tema Seminar Al-Qur’an dan Kemandirian Ekonomi ini diikuti qari-qariah serta hafidz-hafidzah dari berbagai daerah di Kalimantan Barat. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan berlangsung sejak pagi hingga menjelang Zuhur.
Sebelumnya pada Jumat, 19 Desember 2025, malam dilakukan pelantikan dan pengukuhan pengurus DPW IPQAH Kalbar periode 2025 - 2030 oleh Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al Munawar, Lc. MA selaku Ketua Umum IPQAH Pusat di pendopo Gubernur Kalbar dan hadir Karo Kesra Setda Prov. Kalbar mewakili Gubernur Kalbar.
Dalam paparannya bertajuk Keutamaan Al-Qur’an: Membaca dan Mengamalkannya, Said Agil menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang terjaga keasliannya, petunjuk hidup yang relevan sepanjang zaman, sekaligus sumber rahmat dan cahaya bagi manusia.
“Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk dibaca, tetapi untuk dipahami, direnungkan, dan diamalkan. Membaca menghasilkan pahala, tetapi mengamalkan melahirkan perubahan diri dan masyarakat,” tegasnya.
Pedoman Hidup
Menurut Said Agil, Al-Qur’an memiliki kedudukan tertinggi karena berfungsi sebagai al-furqan, pembeda antara yang benar dan yang batil. Dalam berbagai aspek kehidupan—baik akidah, ibadah, muamalah, hingga akhlak—Al-Qur’an menjadi rujukan utama yang tidak tergantikan.
Ia mengingatkan bahwa sejarah membuktikan, Al-Qur’an mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi peradaban berilmu dan berakhlak. “Ketika Al-Qur’an diamalkan secara konsisten, ia melahirkan kearifan, keadilan, dan kemajuan peradaban,” ujarnya.
Keutamaan Membaca Al-Qur’an
Dalam seminar tersebut, Said Agil juga menguraikan keutamaan membaca Al-Qur’an. Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala, bahkan dilipatgandakan. Selain itu, Al-Qur’an akan hadir sebagai pemberi syafaat di hari kiamat bagi orang-orang yang membacanya dengan ikhlas.
“Membaca Al-Qur’an menghadirkan ketenangan, rahmat, dan keberkahan. Rumah yang dibacakan Al-Qur’an akan bercahaya dan dijauhkan dari gangguan,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa Islam memberi penghargaan besar bagi mereka yang membaca Al-Qur’an meski terbata-bata. “Usaha belajar membaca Al-Qur’an pun bernilai ibadah dan mendapat pahala berlipat,” tambahnya.
Puncak Interaksi Seorang Muslim
Lebih jauh, Said Agil menegaskan bahwa mengamalkan Al-Qur’an adalah puncak interaksi seorang Muslim dengan kitab sucinya. Akhlak Rasulullah SAW, kata dia, adalah Al-Qur’an itu sendiri.
“Kejujuran, keadilan, amanah, kesabaran, dan kasih sayang adalah nilai-nilai Qur’ani yang harus hidup dalam perilaku umat,” ujarnya.
Mengamalkan Al-Qur’an, lanjutnya, menjadi jalan keselamatan dunia dan akhirat, sekaligus solusi atas berbagai persoalan modern—mulai dari masalah keluarga, ekonomi, sosial, hingga krisis spiritual.
Tantangan Zaman dan Peran Umat
Di tengah arus digital dan kesibukan modern, Said Agil mengakui tantangan untuk menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari semakin besar. Distraksi teknologi dan minimnya tadabbur sering membuat Al-Qur’an hanya berhenti pada tilawah.
Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk menghidupkan kembali budaya Qur’ani melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten: menjadwalkan waktu tilawah, memahami makna ayat, menghadiri majelis ilmu, serta membangun keluarga dan lingkungan sosial yang Qur’ani.
Seminar Bernuansa Pembinaan Umat
Selain seminar Al-Qur’an, kegiatan ini juga dirangkai dengan Seminar Kemandirian Ekonomi yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kekuatan spiritual dan kemandirian finansial tanpa mengganggu muraja’ah Al-Qur’an.
Ketua panitia menyampaikan bahwa seminar ini bertujuan memperkuat peran qari, qariah, hafidz, dan hafidzah tidak hanya sebagai penjaga tilawah, tetapi juga sebagai figur teladan di tengah masyarakat.
Cahaya Al-Qur’an untuk Kehidupan
Seminar ditutup dengan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang membimbing umat menuju kehidupan yang bermartabat dan berkeadilan.
“Dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an, umat Islam akan menemukan ketenangan jiwa, kemuliaan akhlak, serta kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat,” pungkas Prof. Said Agil.**