PONTIANAK POST - Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir memicu banjir di sejumlah kabupaten. Dua kabupaten paling terdampak adalah Kabupaten Sintang dan Kabupaten Sekadau. Luapan sungai merendam permukiman warga, mengganggu aktivitas masyarakat, serta memaksa aparat dan pemerintah daerah melakukan penanganan darurat sejak Kamis (8/1).
Di Kabupaten Sintang, banjir dilaporkan terjadi di Kecamatan Sepauk dan Kecamatan Tempunak. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Kusnidar, mengatakan banjir disebabkan meningkatnya debit air sungai setelah hujan turun secara terus-menerus. Air meluap ke permukiman warga dan merendam rumah-rumah di sejumlah dusun. “Banjir disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi sehingga debit air sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga,” kata Kusnidar.
BPBD Sintang mencatat, di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, banjir berdampak pada tiga dusun. Dusun Tuntun Palah dilaporkan mengalami genangan di enam rumah warga, Dusun Kuai sebanyak 20 rumah, sementara Dusun Tanjung Kepayang menjadi wilayah terdampak paling besar dengan 48 rumah terendam. Ketinggian air bervariasi, mulai dari menggenangi halaman hingga masuk ke dalam bangunan rumah warga.
Sementara itu, di Kecamatan Tempunak, banjir melanda Desa Benua Kencana, tepatnya di Dusun Layang Mentari yang berada di bantaran Sungai Kura. Sekitar 60 kepala keluarga terdampak akibat luapan sungai. Selain merendam rumah, banjir juga menggenangi kandang ternak milik warga, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kerugian ekonomi masyarakat setempat.
“Untuk korban jiwa nihil. Namun kerugian material masih dalam proses pendataan,” ujar Kusnidar. Ia menambahkan, tim BPBD masih melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan dampak banjir serta kebutuhan mendesak warga terdampak.
Meski demikian, banjir di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, dilaporkan tidak berlangsung lama. Kepala Desa Nanga Pari, Yohanes Muludi, mengatakan genangan air hanya bertahan sekitar empat jam sebelum kembali surut. Menurutnya, banjir terjadi akibat lonjakan debit air sungai usai hujan berintensitas tinggi.
“Banjirnya tidak lama, kurang lebih empat jam sudah surut kembali seperti biasa,” ujar Yohanes. Ia menjelaskan, genangan mulai terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB dan berangsur surut menjelang siang. Yohanes memastikan kondisi desa saat ini telah kembali normal dan aktivitas masyarakat kembali berjalan.
Sekadau Lebih Parah
Berbeda dengan kondisi di Sintang, dampak banjir di Kabupaten Sekadau tercatat jauh lebih luas dan serius. Bencana banjir melanda wilayah tersebut sejak Rabu (7/1) malam hingga Kamis (8/1), dengan ribuan warga terdampak di sejumlah kecamatan.
Koordinator Harian Pusat Pengendali Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kalimantan Barat, Daniel, menyampaikan banjir terjadi di Desa Meranti, Kecamatan Nanga Taman, serta Desa Mongko dan Desa Lembah Beringin. Dari data sementara, jumlah warga terdampak mencapai ribuan jiwa.
“Di Desa Meranti, Kecamatan Nanga Taman, tercatat sebanyak 459 kepala keluarga atau 902 jiwa terdampak. Sementara di Desa Mongko terdapat 537 kepala keluarga dengan 1.921 jiwa terdampak,” kata Daniel. Selain itu, Desa Lembah Beringin, Kecamatan Nanga Mahap, juga terendam banjir dengan 417 kepala keluarga atau sekitar 902 jiwa terdampak.
Daniel menambahkan, BPBD Kabupaten Sekadau telah melakukan gerak cepat dengan menurunkan tim ke lokasi bencana. Langkah yang dilakukan meliputi kaji cepat kondisi lapangan, pendataan dampak, serta upaya penyelamatan warga. Pemerintah daerah, kata dia, akan melaksanakan penanggulangan bencana secara masif sesuai kondisi di lapangan. “Dari hasil kaji cepat, pemerintah daerah akan melakukan penanganan sesuai tingkat kedaruratan,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sekadau, Heri Handoko, menyebut banjir meluas hampir di seluruh Kecamatan Nanga Taman. Hingga Kamis siang sekitar pukul 12.00 WIB, BPBD mencatat 11 desa terdampak dari total 15 desa di kecamatan tersebut.
“Banjir melanda 11 desa di Kecamatan Nanga Taman. Di antaranya Desa Nanga Taman, Nanga Mentukak, Nanga Koman, Nanga Kiungkang, Senangak, Semerawai, Nanga Mongko, Meragun, Nanga Engkulun, Sungai Lawak, dan Rirang Jati,” kata Heri.
Ia menegaskan, banjir terparah terjadi di Desa Senangak. Selain merendam rumah warga, banjir juga mengakibatkan satu jembatan penghubung antar desa putus dan satu titik jalan antar desa mengalami longsor. Kondisi ini menghambat akses transportasi serta mobilitas masyarakat di wilayah terdampak.
Air sungai yang meluap juga menggenangi permukiman warga hingga ketinggian bervariasi. Ungal, warga Desa Nanga Koman, mengaku tidak menyangka air naik begitu cepat. “Air di rumah saya sudah setinggi pusar orang dewasa. Kami tidak menyangka naiknya secepat ini,” ujarnya.
Rendaman banjir memaksa warga melakukan berbagai upaya penyelamatan mandiri. Sebagian membangun panggung darurat di dalam rumah untuk menyelamatkan peralatan elektronik dan barang berharga. Sebagian lainnya memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman karena ketinggian air terus bertambah.
Menanggapi situasi tersebut, BPBD Kabupaten Sekadau mengerahkan perahu karet untuk membantu proses evakuasi. Fokus evakuasi diprioritaskan bagi kelompok rentan, seperti lansia dan anak-anak. Aparat kepolisian juga terlibat langsung dalam penanganan di lapangan.
Polres Sekadau melalui Polsek Nanga Taman mengevakuasi seorang ibu lansia yang sakit dari Dusun Tanjung, Desa Nanga Taman, Kamis (8/1) sekitar pukul 10.00 WIB. Kapolres Sekadau AKBP Andhika Wiratama melalui Kasi Humas AKP Triyono mengatakan evakuasi dilakukan karena banjir belum surut dan air masih setinggi lutut orang dewasa.
“Evakuasi dilakukan untuk memastikan keselamatan warga, khususnya kelompok rentan seperti lansia,” ujar Triyono. Lansia tersebut dievakuasi menggunakan perahu menuju titik aman, kemudian dibawa ke Puskesmas Nanga Taman menggunakan ambulans untuk mendapatkan penanganan medis.
Menurut BPBD, banjir di Kecamatan Nanga Taman merupakan kejadian yang kerap berulang saat curah hujan tinggi. Kondisi geografis wilayah yang memiliki banyak anak sungai membuat air mudah meluap ke permukiman warga. Hingga kini, pemantauan kondisi air dan cuaca masih terus dilakukan, seiring potensi hujan yang masih tinggi di wilayah Kalimantan Barat.
Pemerintah daerah bersama BPBD dan aparat keamanan mengimbau masyarakat di wilayah rawan banjir agar tetap waspada, memantau perkembangan cuaca, serta mengikuti arahan petugas di lapangan guna meminimalkan risiko dan dampak lanjutan dari bencana hidrometeorologi tersebut. (mse/nda)
Editor : Hanif