Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hipertensi Mengintai Tanpa Gejala, Rutin Periksa Tekanan Darah Tekan Risiko Komplikasi  

Marsita Riandini • Minggu, 11 Januari 2026 | 23:05 WIB

 

RUTIN: Pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi hipertensi sejak dini.
RUTIN: Pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi hipertensi sejak dini.

 

 

 

 

Hipertensi atau tekanan darah tinggi dikenal sebagai silent killer karena sering kali berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas.

MARSITA/Pontianak

HIPERTENSI masih menjadi salah satu penyakit kronis dengan prevalensi tinggi dan membutuhkan pengobatan jangka panjang.  Nihayatus Solikhah, Dokter di RSUD SSMA Kota Pontianak menuturkan banyak penderita tidak menyadari kondisi ini hingga muncul komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, gagal ginjal, bahkan kematian mendadak.

"Seseorang dapat mengalami hipertensi selama bertahun-tahun tanpa keluhan berarti," jelasnya.

Pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi hipertensi sejak dini.

"Dengan deteksi awal, risiko komplikasi dapat ditekan melalui perubahan gaya hidup sehat seperti menjaga pola makan, berolahraga teratur, mengelola stres, serta mengikuti anjuran pengobatan dari tenaga medis," imbaunya.

Sakit kepala, pusing, atau mudah lelah kerap dianggap sebagai masalah ringan, padahal bisa menjadi tanda tekanan darah yang tidak terkontrol. Akibatnya, penanganan sering terlambat dilakukan.

Menurutnya, faktor risiko hipertensi cukup beragam, mulai dari pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, stres berkepanjangan, merokok, hingga faktor keturunan.

Tidak hanya menyerang lansia, hipertensi kini juga banyak ditemukan pada usia produktif akibat gaya hidup tidak sehat.

"Kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, begadang, stres berlebihan, serta merokok menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan," ungkapnya.

Keberhasilan terapi hipertensi tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat, melainkan juga dipengaruhi oleh adanya penyakit penyerta yang dialami pasien.

Bonita Dwi Anggreini, Apoteker RSUD SSMA Kota Pontianak mengatakan, komplikasi penyakit seperti diabetes melitus, gangguan ginjal, dan penyakit jantung dapat terjadi akibat kondisi hipertensi yang tidak terkontrol.

Oleh karena itu, terapi antihipertensi harus diberikan dan pasien harus minum obat secara teratur sesuai resep dokter.

“Agar obat menjadi efektif, pasien wajib mengetahui terkait interaksi obat yang dapat memengaruhi efektivitas maupun keamanannya. Obat hipertensi dapat berinteraksi dengan obat obat lain seperti obat diabetes, obat lambung, maupun obat jantung,” imbuhnya.

Interaksi tersebut dapat menyebabkan obat bekerja kurang optimal atau bahkan meningkatkan risiko efek samping.

Menyikapi hal tersebut, Bonita menambahkan bahwa tak hanya dengan sekadar minum obat, pasien hipertensi juga perlu memahami bahwa kondisi penyakit penyerta dapat memengaruhi cara kerja obat di dalam tubuh. Karena itu, terapi harus disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien.

Pada pasien dengan gangguan ginjal, misalnya, beberapa obat hipertensi memerlukan penyesuaian dosis agar tidak memperberat fungsi ginjal. Sementara pada pasien dengan diabetes, pemilihan obat hipertensi tertentu perlu mempertimbangkan efeknya terhadap kadar gula darah.

Bonita juga menekankan pentingnya peran kolaborasi antara dokter dan apoteker dalam memantau terapi pasien hipertensi, termasuk menilai potensi interaksi obat dan penyakit.

Selain itu, pasien diimbau untuk selalu menyampaikan riwayat penyakit, obat lain yang dikonsumsi, termasuk obat bebas dan suplemen, saat berkonsultasi di fasilitas kesehatan.

“Dengan pengelolaan terapi yang tepat dan komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dan pasien, pengobatan hipertensi dapat berjalan lebih aman dan efektif,” pungkasnya. (mrd)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#hipertensi