Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Pickleball Jadi Magnet Komunitas di Pontianak

Siti Sulbiyah • Minggu, 11 Januari 2026 | 23:14 WIB
Permainan Pickleball di lapangan Kaisar Pontianak.
Permainan Pickleball di lapangan Kaisar Pontianak.

PONTIANAK POST - Dalam enam bulan terakhir, olahraga pickleball menunjukkan geliat yang tak bisa dipandang sebelah mata di Pontianak. Meski tergolong pendatang baru, antusiasme masyarakat tumbuh pesat.

Manager Kaisar Pickleball Club, Novembrino, menuturkan awal masuknya pickleball di Pontianak tidak terlepas dari peran komunitas.

Turnamen pertama digelar oleh Kaisar dengan menggandeng komunitas Telajak Pickleball, yang sejak awal aktif memasarkan olahraga ini ke berbagai kalangan.

“Pickleball ini baru sekitar enam bulan masuk Pontianak. Tapi peningkatannya luar biasa. Minat masyarakat dan antusiasmenya tinggi. Kalau tidak luar biasa, tidak mungkin sekarang banyak pihak mulai berpikir membangun lapangan,” ujar Novembrino.

Ia mengakui, tren olahraga kerap mengalami pasang surut. Namun, pickleball dinilai masih memiliki ruang tumbuh yang panjang.

Meski belum bisa dibandingkan dengan cabang legendaris seperti bulu tangkis, karakter pickleball yang merakyat membuatnya cepat diterima.

Salah satu faktor yang membuat pickleball bertahan di Kaisar adalah konsep ruang yang terbuka dan menyatu dengan kafe. Saat pertandingan berlangsung, pengunjung kafe otomatis menjadi penonton.

“Dari nonton itu muncul rasa penasaran. Banyak orang awalnya tidak tahu pickleball itu apa. Lihat sebentar, tertarik, lalu coba main,” katanya.

Pada awal pembangunan lapangan, istilah pickleball bahkan masih terdengar asing. Bentuk raket yang menyerupai talenan dan bola berlubang kerap memancing komentar jenaka. Namun, justru keunikan itulah yang menjadi daya tarik.

Seiring waktu, komunitas pickleball bermunculan. Beragam tim terbentuk, seperti Telajak, Pol-pol, hingga DBD, dengan jumlah anggota yang bisa mencapai puluhan orang. Antartim pun kerap melebur dan bermain bersama tanpa sekat.

“Waktu trial lapangan, tiga hari penuh hanya diisi tim-tim. Hari keempat mulai normal, lalu muncul pemain-pemain baru yang masih beginner,” tutur Novembrino.

Kini, tingkat keterisian mencapai sekitar 75 persen, dengan sistem pemesanan sepenuhnya melalui reservasi daring, mayoritas lewat WhatsApp dan Instagram.

Kaisar beroperasi selama 24 jam dengan sistem booking, khususnya pada malam hari di atas pukul 22.00. Tarif pagi hingga sore dipatok Rp100 ribu per jam, sedangkan sore hingga malam Rp120 ribu per jam. Tersedia pula paket 10 jam seharga Rp750 ribu, jauh lebih hemat dibanding tarif reguler.

Memasuki bulan Ramadan, Kaisar juga menyiapkan paket khusus, termasuk rencana sesi bermain menjelang sahur. “Olahraga tetap bisa jalan, tinggal menyesuaikan waktunya,” kata Novembrino.

Dari sisi peminat, perempuan tercatat lebih dominan, terutama pada pagi hari. Mereka umumnya ibu rumah tangga yang singgah bermain setelah mengantar anak sekolah. Sementara sore hari didominasi pekerja kantoran. Karakter pemain pun berbeda.

“Perempuan lebih senang main sambil foto atau bikin konten. Kalau laki-laki biasanya lebih fokus belajar dan serius,” ujarnya.

Meski lapangan pickleball lain mulai bermunculan, Kaisar tidak melihatnya sebagai ancaman. Sebaliknya, semakin banyak lapangan dianggap sebagai pertanda ekosistem yang sehat.

“Bukan saingan. Justru kami senang. Artinya masyarakat makin banyak yang main,” tegas Novembrino.

Harapan ke depan pun mulai dirancang. Mulai dari menghadirkan pelatih tetap, memperluas pembinaan pemula, hingga menggelar turnamen mandiri tanpa bergantung pada pihak lain.

Kaisar juga mendorong terbentuknya organisasi resmi pickleball di Kalimantan Barat agar event dapat digelar hingga level nasional.

Bahkan, menurut Novembrino, ada wacana pickleball masuk sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Dengan pertumbuhan tinggi di negara seperti Malaysia dan Singapura, serta Indonesia yang disebut berada di peringkat atas pertumbuhan pickleball dunia, optimisme itu kian menguat.

“Pickleball ini lebih merakyat dibanding padel. Biayanya fleksibel, semua kalangan bisa masuk. Itu yang membuat pertumbuhannya cepat,” pungkasnya. (sti)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Pickleball #rekreasi #pontianak #padel #olahraga #kaisar