PONTIANAK POST - Padel dan pickleball menjadi tren olahraga yang kian digandrungi masyarakat Kota Pontianak dalam setahun terakhir. Meski kerap dikenal sebagai olahraga “mahal” yang sarat prestise, keduanya tetap diminati karena menawarkan manfaat gaya hidup sehat bagi para penggemarnya.
Dian Novita menjadi penggemar pickleball sejak pertengahan 2025. Aturan permainan yang sederhana dan kondisi lapangan yang kecil membuatnya merasa cocok dengan olahraga ini.
“Mirip main badminton, sehingga cocok untuk semua usia, termasuk lansia,” kata Dian kepada Pontianak Post, Sabtu (10/1).
Keberanian Dian untuk mencoba olahraga ini setelah melihat di media sosial begitu banyak menampilkan permainan pickleball. Dia pun tertarik untuk mencoba. Terlebih sarana penyewaan lapangan pickleball mulai banyak dan terbilang terjangkau. Satu jam Rp40 ribu.
“Berbeda dengan olahraga padel. Biaya sewa lapangannya cukup mahal. Ratusan ribu per sekali main. Saat pertama kali mencoba olahraga tersebut, ternyata mudah,” ungkapnya.
Peralatannya juga tidak mahal. Raket juga disediakan oleh pemilik lapangan yang disewa. Ternyata kesan serupa juga dirasakan oleh beberapa orang temannya.
Alhasil, kini setiap minggu pasti disempatkannya untuk bermain pickleball. Di sana, selain menjadi ajang silaturahmi, bisa juga menjaga tubuh agar selalu sehat. Dari pertemuan intens saat berolahraga bersama, secara sendirinya tumbuh komunitas pickleball.
“Banyak teman baru saya dapat dari olahraga ini. Sangat menyenangkan,” ujar ASN Pemkot Pontianak ini.
Hal senada dikatakan Evi. “Olahraga ini sudah semakin populer di Pontianak. Itu terlihat ketika di lapangan, cukup banyak orang yang menyewa lapangan untuk bermain pickleball,” katanya.
Padel memang memiliki tantangan tersendiri. Sebagai olahraga ini tergolong baru, sehingga perlu sosialisasi agar olahraga ini ke depan bisa menjadi olahraga pilihan masyarakat.
Menurut Evi, selama ini olahraga di masyarakat masih didominasi olahraga lama. Seperti badminton, sepak bola dan bola voli. Itu tampak, ketika diadakan pertandingan, masyarakat cukup banyak hadir untuk menyaksikan pertandingan tersebut.
“Namun untuk pickleball, belum terlalu memasyarakat. Saya yakin, jika sudah sering disosialisasikan, apalagi banyak diadakan pertandingan, ini bisa semakin memasyarakat,” kata Evi.
Baca Juga: Padel dan Pickleball Rekreasi Sehat Semua Usia
Saat diwawancara terpisah, pegiat padel Kota Pontianak, Willy Setiawan menilai perkembangan olahraga padel dalam tahap perkembangan. “Untuk di Kalbar, olahraga ini masih harus diupayakan agar bisa semakin dikenal di masyarakat,” ujar Willy.
Dia menceritakan olahraga padel masuk ke Jakarta pada 2018. Untuk bisa sefamiliar saat ini, memerlukan waktu selama lima tahun.
“Begitu pula dengan di Kota Pontianak, perlu ekstra dalam mensosialisasikan olahraga padel,” kata Willy.
Menurut Willy, permainan padel masih sebatas fomo masyarakat.
“Mudah-mudahan, dengan ketertarikan masyarakat untuk bermain padel, ke depan bisa fokus sehingga bisa menciptakan atlet padel andalan Kalimantan Barat,” harapnya.
Willy melanjutkan, komunitas padel semakin kesini semakin bertumbuh. Bahkan dari informasinya, padel masuk PON dan Asean Games.
“Besar harapan saya jika pembinaan padel di Kalbar bisa lebih difokuskan. Sehingga akan semakin banyak kompetisi bisa diadakan, baik untuk kelompok umur dan usia senior,” katanya.
Willy menambhakan sekarang penyelenggaraan event komunitas event masih bersifat otodidak. Kompasnya, mereka hanya melihat bagaimana penyelenggaraan padel di Jakarta kemudian diimplementasikan di sini.
“Terima kasih juga buat teman-teman komunitas padel di sini. Tetapi pelan-pelan dalam penyelenggaraannya juga harus menuju profesional dengan wasit-wasit yang sudah berlisensi. Ini butuh bantuan dari pemerintah,” katanya. (iza)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro