PONTIANAK POST - Kebakaran hutan (Karhutla) di Kalimantan Barat diprediksi akan segera datang, seiring menipisnya curah hujan. Mengantisipasi risiko tersebut, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat menyiagakan personel di seluruh wilayah provinsi ini. Kepala Bidang Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan, langkah kesiapsiagaan ini diambil berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi Kalbar tengah memasuki periode curah hujan rendah.
“Berdasarkan koordinasi kami dengan BMKG, wilayah Kalbar saat ini memasuki periode curah hujan rendah. Kondisi ini sangat rentan terhadap terjadinya karhutla, sehingga seluruh jajaran kami siagakan untuk melakukan langkah mitigasi sedini mungkin,” ujar Bambang di Pontianak, Rabu.
Ia menjelaskan, analisis cuaca menunjukkan sebagian besar wilayah Kalbar mulai memasuki fase kering dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran lahan dan hutan. Karena itu, jajaran Polda Kalbar bersama polres dan polsek meningkatkan patroli terpadu di kawasan rawan, seperti wilayah perkebunan, lahan gambut, serta area terbuka yang kerap dimanfaatkan untuk pembukaan lahan.
Selain patroli, kepolisian juga mengintensifkan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat. Polda Kalbar menegaskan larangan keras membuka lahan dengan cara dibakar, mengingat dampaknya yang dapat meluas dan sulit dikendalikan.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun. Jika ditemukan titik api, segera laporkan agar bisa ditangani lebih cepat sebelum meluas dan berdampak pada kesehatan masyarakat maupun aktivitas ekonomi,” tuturnya.
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, pada periode 19 Januari hingga 8 Februari 2026 sebagian besar wilayah Kalbar diperkirakan hanya menerima curah hujan antara 5 hingga 75 milimeter per minggu. Sejumlah daerah seperti Sambas, Bengkayang, Mempawah, Landak, Singkawang, Pontianak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Kayong Utara, hingga Ketapang diprediksi berada dalam kategori curah hujan rendah.
Sementara itu, pada periode 16 hingga 22 Januari 2026 tidak terdapat indikasi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah-wilayah tersebut. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan kemunculan titik panas dan kebakaran lahan.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, BMKG, serta instansi terkait lainnya untuk memantau perkembangan cuaca dan potensi titik api, sehingga upaya pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan secara cepat dan terintegrasi,” kata Bambang. (ant)
Editor : Hanif