Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kunjungan Pasien RSUD Soedarso Pontianak Naik 24% di 2025, Penyakit KJSU Masih Dominan

Idil Aqsa Akbary • Kamis, 22 Januari 2026 | 11:20 WIB
MEGAH: Penampakan gedung baru RSUD dr Soedarso dari sisi depan. Gedung ini terdiri dari dua bagian yang masing-masing terdiri dari enam lantai yang dilengkapi 277 tempat tidur. (Istimewa)
MEGAH: Penampakan gedung baru RSUD dr Soedarso dari sisi depan. Gedung ini terdiri dari dua bagian yang masing-masing terdiri dari enam lantai yang dilengkapi 277 tempat tidur. (Istimewa)

PONTIANAK POST - Jumlah kunjungan pasien ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso Pontianak sepanjang 2025 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan evaluasi internal rumah sakit, total kunjungan pasien pada 2025 tercatat mencapai 277.456 kunjungan, naik 24 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 222.689 kunjungan.

Direktur RSUD Soedarso Pontianak, Hary Agung Tjahjadi, mengatakan peningkatan tersebut terjadi hampir di seluruh layanan, baik rawat jalan, rawat inap, maupun Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Kalau kami lihat dari data kunjungan pasien antara 2024 ke 2025 memang terjadi peningkatan yang cukup besar. Tahun 2024 jumlah kunjungan 222.689, sedangkan di 2025 mencapai 277.456 kunjungan,” kata Hary saat diwawancarai awak media, Rabu (21/1).

Ia merinci, kunjungan rawat jalan meningkat sekitar 31 ribu pasien, rawat inap bertambah sekitar 3.000 pasien, dan kunjungan IGD naik sekitar 2.300 pasien.

Pasien yang dilayani tidak hanya berasal dari Kota Pontianak dan sekitarnya, tetapi datang dari seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat (Kalbar). “Dari data ini terlihat bahwa RSUD Soedarso melayani pasien dari semua kabupaten/kota di Kalbar,” ujarnya.

Seiring peningkatan kunjungan, pola penyakit yang ditangani RSUD Soedarso juga menunjukkan dominasi penyakit kronis yang masuk dalam layanan prioritas nasional, yakni kanker, jantung, stroke, serta uronefrologi (KJSU). Penyakit-penyakit tersebut masih menjadi rujukan utama, terutama pada layanan rawat jalan.

Dalam daftar 10 besar penyakit rawat jalan tahun 2025, kasus ginjal kronis menjadi rujukan terbanyak. Disusul neoplasma yang berkaitan dengan kanker, khususnya kanker payudara, serta penyakit jantung. Selain itu, neoplasma serviks juga masuk dalam 10 besar penyakit dengan jumlah rujukan yang cukup tinggi. “Ginjal kronis, kanker, dan jantung masih mendominasi rujukan rawat jalan,” kata Hary.

Selain penyakit KJSU, sejumlah penyakit kronis lainnya juga masuk dalam 10 besar, seperti diabetes, penyakit gigi dan mulut, low back pain, serta talasemia.

Sementara untuk layanan rawat inap, pola penyakit yang dirawat di RS milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) itu relatif serupa dengan rawat jalan. Kasus terkait ginjal kronis, dan gagal ginjal masih cukup tinggi, diikuti oleh stroke, kanker, dan penyakit jantung. Namun, RSUD Soedarso juga masih banyak merawat pasien dengan tingkat keparahan rendah atau severity level 1, seperti kasus demam, dan gangguan lambung.

“Yang juga perlu menjadi perhatian adalah kasus tuberkulosis (TB). Jumlah pasien TB cukup banyak dirawat inap pada 2025, bahkan TB juga masuk dalam 10 besar penyakit di IGD,” ujarnya.

Di IGD, selain pasien dengan kondisi kedaruratan terkait KJSU dan TB, Hary menilai masih banyak pasien dengan severity level 1 yang seharusnya dapat ditangani di rumah sakit kabupaten/kota. “Kasus seperti gastroenteritis, demam, nyeri perut, dan dispepsia justru masuk lima besar di IGD. Ini seharusnya bisa ditangani di RS tipe C atau D,” jelasnya.

Peningkatan jumlah pasien ini berdampak pada kebutuhan kapasitas layanan, terutama ketersediaan tempat tidur. Menurut Hary, RSUD Soedarso perlu merespons dengan penambahan tempat tidur, namun hal tersebut bukan satu-satunya solusi.

“Harus ada dukungan yang kuat dari RS daerah kabupaten/kota, RS TNI-Polri, dan RS swasta yang bekerja sama dengan BPJS. Supaya kasus-kasus yang bisa ditangani di RS tipe C atau B tidak semuanya dirujuk ke RSUD Soedarso sebagai RS tipe A,” pungkasnya.(bar)

Editor : Hanif
#kanker #RSUD SOEDARSO PONTIANAK #kjsu #kunjungan pasien #penyakit #ginjal kronis