PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Cabang Kalimantan Barat (Kalbar) sukses menggelar The 4th West Borneo Cardiovascular Annual Meeting (WeBCAM) 2026 di Lotus 1 Ballroom, Novotel Pontianak, Sabtu (24/1). Kegiatan ilmiah tahunan ini dirangkaikan dengan pelantikan pengurus PERKI Cabang Kalbar masa bakti 2025–2028.
Berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Pusat (PP) PERKI Nomor 059/PP/Internal/SK/I/2026, dr. Danayu Sanni Prahasti resmi dilantik sebagai Ketua PERKI Cabang Kalbar. Pelantikan dilakukan dalam rangkaian Opening and Inauguration Ceremony yang ditandai dengan pembacaan SK, pengucapan janji pengurus, penandatanganan berita acara, serta pemukulan gong pembukaan WEBCAM 2026.
Ketua PERKI Cabang Kalbar, dr. Danayu Sanni Prahasti, mengatakan perubahan nama dari PERKI Cabang Pontianak menjadi PERKI Cabang Kalbar merupakan respons atas luasnya wilayah provinsi serta kebutuhan pelayanan kardiovaskular di daerah-daerah pelosok.
“Mengingat luasnya Kalbar, dan pengampuan yang terus kami lakukan hingga ke kabupaten dan daerah pelosok, maka nama PERKI Cabang Pontianak tidak lagi cukup untuk menampung aspirasi daerah. Karena itu, secara resmi kami menjadi PERKI Cabang Kalbar,” ujarnya.
Danayu menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam memahami kesehatan jantung, termasuk kaitannya dengan kondisi psikologis pasien.
Ia menyebut hampir setengah pasien jantung mengalami depresi, yang berdampak langsung terhadap progres penyakit, dan angka kematian.
“Perasaan sangat berpengaruh terhadap kesehatan jantung. Karena itu kami berupaya melakukan validasi ilmiah melalui pendidikan, dan pengembangan kompetensi,” katanya.
Ia mengungkapkan, dari 20 anggota PERKI Kalbar, 12 orang telah menjadi konsultan, dan tiga lainnya sedang melanjutkan pendidikan konsultan. Selain itu, PERKI Kalbar juga aktif terlibat dalam pendidikan dokter umum di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Tanjungpura (Untan).
Tak hanya itu, PERKI Kalbar tengah merintis Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU) di RSUD dr. Soedarso untuk pendidikan dokter spesialis jantung.
Saat ini proses persiapan terus berjalan, dan diharapkan dapat mulai dibuka tahun ini. Bahkan, bulan depan juga dijadwalkan dimulai fellowship interventional di RSUD dr. Soedarso.
“Kami menyiapkan tiga lapis pendidikan, dokter umum, dokter spesialis jantung, dan konsultan. Tujuannya agar diagnosis, dan terapi bisa dilakukan lebih baik. Untuk itu kami mengajak seluruh sejawat berjalan bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PP PERKI, dr. Ade Meidian Ambari, menegaskan pentingnya kepengurusan PERKI Cabang Kalbar mengingat besarnya tantangan penyakit kardiovaskular di Indonesia.
Ia menyebut layanan penyakit jantung, dan pembuluh darah menjadi salah satu penyumbang terbesar pembiayaan BPJS Kesehatan.
“Dokter jantung dan pembuluh darah termasuk yang paling banyak menghabiskan biaya BPJS, sekitar Rp19 triliun per tahun. Artinya ke depan upaya pencegahan harus diperkuat dan dilakukan bersama,” ujarnya.
Ade juga menyambut baik rencana pembukaan RSPPU pendidikan spesialis jantung di Kalbar.
Saat ini, jumlah dokter jantung di Indonesia disebutkan dia, baru sekitar 2.149 orang, sementara kebutuhan nasional diperkirakan mencapai 5.000. “Center pendidikan jantung di Indonesia baru 14. Karena itu dibuka di berbagai daerah, termasuk Kalbar. Tantangannya bukan hanya kuantitas, tapi juga kualitas, dan distribusi,” katanya.
Ia pun menyoroti ketimpangan distribusi dokter jantung yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatra. Oleh sebab itu, PP PERKI mendorong daerah untuk menyekolahkan dokter umum agar kembali mengabdi di daerah asalnya.
Di tempat yang sama, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalbar, dr. M. Wahyu Utomo, mengapresiasi kontribusi PERKI dalam pengembangan layanan, dan pendidikan kardiovaskular di Kalbar. Menurutnya, keberadaan pendidikan fellowship, dan rintisan RSPPU di RSUD dr. Soedarso menjadi capaian penting.
“Kalbar ini wilayahnya luas, tapi baru ada sekitar 20 dokter jantung dan enam kardiolog intervensi. Cathlab hanya lima, CT scan jantung dua. Ini tentu masih kurang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi strategis Kalbar sebagai daerah perbatasan dengan Malaysia. Ke depan, ia berharap pelayanan kesehatan jantung di Kalbar mampu bersaing sehingga tidak hanya warga Indonesia yang berobat ke luar negeri, tetapi juga sebaliknya.
“IDI dan PERKI harus mampu beradaptasi dan berinovasi. Kalau tidak, kita akan tertinggal,” pesannya.
Selain pelantikan pengurus, WEBCAM 2026 juga diisi dengan rangkaian simposium ilmiah sejak pagi hingga sore hari. Membahas berbagai tema, seperti hipertensi, gagal jantung, sindrom koroner akut, penyakit jantung koroner kronis, aritmia, hingga perkembangan teknologi kardiovaskular. Kegiatan ini diikuti oleh dokter spesialis jantung, dokter umum, serta tenaga kesehatan dari berbagai daerah se-Kalbar.**
Editor : Aristono Edi Kiswantoro