Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Perjuangan Lawan Karhutla: Minim APD, Relawan MPA Rasau Jaya Alami Gangguan Pernapasan

Meidy Khadafi • Jumat, 30 Januari 2026 | 15:05 WIB
Anggota Manggala Agni Daops Pontianak memberikan pertolongan pertama pada personel MPA yang sesak napas.
Anggota Manggala Agni Daops Pontianak memberikan pertolongan pertama pada personel MPA yang sesak napas.

PONTIANAK POST - Risiko besar kembali dihadapi relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Dua anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Rasau Jaya Umum mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap tebal saat terlibat langsung dalam pemadaman karhutla, Kamis (29/1) sore.

Kedua relawan tersebut masing-masing bernama Dedi Firmansyah dan Ali Kadri, yang juga menjabat sebagai Koordinator MPA Desa Rasau Jaya Umum. Mereka mengalami sesak napas saat berjibaku memadamkan api di beberapa titik kebakaran yang diselimuti asap pekat.

Anggota Manggala Agni Daerah Operasi Pontianak, Syarif Hardiansyah, mengatakan kondisi di lapangan sangat berisiko karena asap yang terlalu tebal dan keterbatasan alat pelindung diri (APD) yang digunakan relawan.

“Korban mengalami gangguan pernapasan akibat asap. Kemungkinan juga dipengaruhi keterampilan dan APD yang kurang maksimal,” ujar Syarif, Jumat (30/1).

Menurutnya, tim gabungan Manggala Agni, MPA, dan KPH Kubu Raya awalnya melakukan pemadaman di sekitar pabrik jagung milik warga. Namun, tim kemudian berpindah ke lokasi lain di belakang rumah warga setelah terlihat kepulan asap baru yang lebih tebal.

Setibanya di lokasi tersebut, tim langsung melakukan pemadaman dengan metode melawan arah angin, sehingga petugas berada tepat di jalur kepulan asap.

“Posisi kami berada di bawah atau melawan arah angin, sehingga selama pemadaman personel langsung terpapar asap,” jelasnya.

Tak berselang lama, Dedi Firmansyah mengalami sesak napas hebat hingga hampir kehilangan kesadaran. Personel Manggala Agni yang berada di lokasi segera mengevakuasi korban dan memberikan suplai oksigen darurat.

“Korban langsung kami evakuasi dari titik api dan diberikan oksigen yang memang selalu disiapkan dalam setiap operasi,” kata Syarif.

Setelah mendapat penanganan awal, kondisi Dedi berangsur membaik. Namun ia disarankan untuk beristirahat dan menghentikan sementara aktivitas pemadaman. Sementara itu, Ali Kadri juga mengalami sesak napas, namun tidak terpantau di lokasi karena kondisi asap yang sangat pekat. Kondisinya baru diketahui saat hendak pulang dan kini masih menjalani perawatan di rumah.

Peristiwa ini menyoroti tingginya risiko yang dihadapi relawan karhutla, khususnya di tingkat desa, yang kerap berada di garis depan dengan keterbatasan sarana keselamatan.

Syarif berharap pemerintah dan perangkat desa dapat memberikan perhatian lebih terhadap keselamatan relawan, terutama dalam penyediaan APD dan dukungan kesehatan.

“Risiko di lapangan sangat besar. Kami berharap ada perhatian serius, setidaknya dari pemerintah desa setempat. Itu yang masih belum kami rasakan sepenuhnya,” pungkasnya.

Peran relawan MPA bersama Manggala Agni, TNI-Polri, KPH, dan unsur lainnya dinilai sangat vital dalam pengendalian karhutla. Namun, keselamatan personel menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan dalam setiap operasi pemadaman. (mdy)

Editor : Miftahul Khair
#Masyarakat peduli Api #karhutla #relawan #kubu raya #lawan