PONTIANAK POST - Seni tato tak asing bagi D Sonday Suwardy. Dia menekuninya sejak 2013 hingga kini, di sela-sela kesibukan mengajar di sebuah sekolah di, Tanjung Selong, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau.
Kreativitas di dunia tato disalurkan Sonday melalui studio tato miliknya, Day (Bidayuh Tatto). Saat bekerja dia menggunakan peralatan yang lengkap, yaitu sarung tangan baru, jarum baru (belum kedaluarsa), tinta original (belum kedaluwarsa), sabun tato, dan mesin tato yang mumpuni.
“Tentu saja mempunyai skill yang memadai," ungkapnya.
Berkenaan dengan tato Dayak, Sonday menilai pandangan generasi muda terhadap tato Dayak tradisional mengalami pergeseran yang sangat menarik. Dari yang semula dianggap kuno, kini menjadi simbol kebanggaan identitas. "Bahkan, tato dayak kini diminati oleh sebagian orang yang bukan bersuku Dayak," ucapnya.
Tato motif dayak sudah menjadi gaya hidup dan tren estetik bagi kalangan anak muda maupun orang tua yang hobi tato. Dia menjelaskan beberapa motif sangat populer karena bentuknya yang ikonik dan maknanya yang dianggap mewakili semangat jiwa.
"Beberapa motif dayak yang paling digemari anak muda zaman sekarang Bunga Teruong (Bunga terung), Ukir Enggang (Burung Enggang), Bunga Engkabang (Bunga Tengkawanng), dan Ukir Rekong (tato leher)," sebutnya.
Menurut Sonday, motif Dayak tetap eksis, bahkan semakin diminati di zaman sekarang karena adanya pergeseran fungsi dari tradisi sakral menjadi simbol identitas modern yang keren. Alasan utamanya adalah sebagai simbol “cultural pride” (kebanggan budaya).
"Dengan menggunakan motif Dayak baik dalam bentuk tato, pakaian, maupun aksesoris adalah cara anak muda menunjukan kebanggaan mereka akan asal usulnya," jelasnya.
Penggunaan motif Dayak sering kali memiliki makna mendalam. Mulai dari simbol perlindungan hingga status sosial. Sonday menuturkan ada beberapa etika penting yang sebaiknya diperlihatikan dalam penggunaan motif dayak.
"Pahami makna motifnya, karena tidak semua motif Dayak bersifat umum. Kemudian utamakan produk asli kreator dayak, dengan membeli produksi asli dari pengrajin dayak sehingga keaslian motif tersebut terjaga," pesannya.
Sonday juga kerap menjelaskan kepada kliennya bahwa dalam dunia seni Dayak khususnya tato, terdapat makna simbolis. Namun, intensitas dan kedalamananya bergantung pada konteks interaksi tersebut.
"Makna tato tersebut dijelaskan agar klien tidak sembarangan memakai motif sakral untuk fungsi yang dianggap merendahkan budaya. Misalnya, motif sakral Dayak yang dicetak pada sebuah alas kaki," paparnya.
Ia bersyukur, sampai sampai saat ini tato buatannya belum pernah mendapatkan kritikan ataupun teguran dari tokoh adat.
"Dikarenakan mungkin motif yang saya buat cebderung lebih ke motif modern dengan mengombinasikan motif dayak dan tren sosial anak zaman sekarang," ungkap dia.
Memadukan motif adat Dayak dengan teknik modern menjadi tantangan yang menarik. Menurut Sonday, seniman tato harus menyeimbangkan antara estetika kontemporer dan penghormatan terhadap akar budaya. Jika dulu motif Dayak terbatas pada tenun manual yang memakan waktu lama, sekarang bisa menggunakan alat modern seperti sablon printing sehinga hasil yang didapat menjadi sangat kompleks.
Sonday berpendapat seni tato di masa depan akan terus tumbuh. Bahkan, bagi generasi muda Dayak (Gen Z dan Alpha) dapat menjadi cara untuk tetap terhubung dengan akar, meskipun tinggal di kota besar atau luar negeri. Tato Dayak menjadi simbol perlawan terhadap penyeragaman budaya global. "Dan tato juga bukan lagi tentang “pernah memenggal kepala (sejarah masa lalu)”, melainkan tentang “saya bangga dengan identitas saya” dit engah dunia yang senakin tanpa batas ini," pungkasnya. (mrd)
Editor : Hanif