PONTIANAK POST – Kepolisian Daerah Kalimantan Barat mengungkap adanya persoalan serius di lingkungan keluarga terduga pelaku pelemparan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Kapolda Kalbar Irjen Pol Pipit Rismanto menyebut tekanan psikologis akibat kondisi keluarga diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perilaku anak tersebut.
“Dari pendalaman kami, ternyata kakek dan ayahnya sedang sakit. Ini menjadi perhatian kita bersama, baik pemerintah, kepolisian, KPAI, sekolah, maupun Dinas Pendidikan,” kata Pipit saat meninjau lokasi sekolah, Rabu (4/2).
Menurut Kapolda, aktivitas terduga pelaku di sekolah sejauh ini berjalan normal.
Namun, beban permasalahan di dalam keluarga diduga berdampak pada kondisi psikis anak yang masih di bawah umur tersebut.
“Secara kegiatan di sekolah normal, tapi ada hubungan dengan kondisi keluarganya. Ini perlu pendalaman secara psikologis agar kita bisa mengambil langkah ke depan supaya kejadian ini tidak terulang,” ujarnya.
Pipit menegaskan, penanganan kasus ini tidak semata-mata mengedepankan aspek hukum, melainkan lebih kepada upaya pembinaan dan pemulihan kondisi mental anak.
“Penanganan hukum itu ultimum remedium. Akar masalahnya dulu kita selesaikan. Apakah anak ini masih bisa dibina, nanti kita koordinasikan dengan KPAI dan instansi terkait,” tegasnya.
Ia menyebutkan, pengawasan terhadap anak tersebut sebelumnya sempat dilakukan, namun berkurang karena adanya persoalan keluarga yang dihadapi.
“Karena banyak masalah keluarga, pemantauan mungkin agak berkurang. Ini perlu kegiatan yang lebih ketat lagi, termasuk pembinaan khusus,” katanya.
Kapolda menambahkan, tekanan mental yang dialami anak bisa dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kebiasaan bermain gim tembak-tembakan serta minimnya pendampingan orang tua dalam keseharian.
“Kami mengimbau para orang tua agar lebih memperhatikan anak-anaknya, terutama penggunaan gadget dan aktivitas sehari-hari. Dorong anak mengikuti kegiatan positif dan ekstrakurikuler,” ucap Pipit.
Selain peran keluarga, Pipit juga meminta sekolah dan lingkungan sekitar turut berperan aktif mencegah terjadinya perilaku menyimpang pada remaja.
“Lingkungan sekolah harus lebih ketat mengawasi perilaku murid, tidak saling mengejek dan membully, serta mengarahkan pada kegiatan-kegiatan positif. Kami dari kepolisian juga akan menurunkan Bhabinkamtibmas ke sekolah-sekolah,” katanya.
Ia juga mengajak tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat untuk memberikan pendampingan moral kepada anak-anak.
“Ini tanggung jawab kita bersama. Tokoh pemuda, tokoh agama, dan tokoh adat kami minta membantu memberikan pencerahan agar peristiwa seperti ini tidak terulang,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa kelas IX SMPN 3 Sungai Raya diduga melempar bom molotov ke area sekitar ruang kelas pada Selasa (3/2).
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun satu siswa mengalami luka ringan. Polisi memastikan kasus ini masih dalam penyelidikan dan tidak mengarah pada aksi terorisme. (mdy)
Editor : Hanif