Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Densus 88 Gelar Pertemuan dengan 50 Kepala SMA se-Pontianak, 112 Anak Terpapar Terorisme di Komuntas Online

Hanif PP • Jumat, 6 Februari 2026 | 07:14 WIB

 

PASCA-LEDAKAN: Situasi di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya pasca-ledakan yang dilakukan oleh siswa kelas IX pada Selasa (3/2). Anak berhadapan dengan hukum tersebut diketahui masuk TCC
PASCA-LEDAKAN: Situasi di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya pasca-ledakan yang dilakukan oleh siswa kelas IX pada Selasa (3/2). Anak berhadapan dengan hukum tersebut diketahui masuk TCC

PONTIANAK POST - Densus 88 Anti Teror Polri bekerja sama dengan Binmas Polda Kalbar menggelar tatap muka dengan 50 Kepala Sekolah SMA se-Kota Pontianak untuk membahas pencegahan terorisme, radikalisme, dan intoleransi. Kegiatan ini dipimpin oleh Ipda Yulius Sugiyanto, dari Unit Pencegahan Satgaswil Kalbar. “Terorisme kini menyasar anak dan remaja melalui media sosial dan komunitas online. Sebanyak 112 anak teridentifikasi terpapar jaringan terorisme,” ungkap Briptu Muhammad Mursid, dari Polda Kalbar, pada Selasa (3/2).

Sementara itu, Jumadi, dosen FISIP Universitas Tanjungpura, menekankan pentingnya Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa dan alat penangkal radikalisasi. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman kepala sekolah tentang ancaman radikalisasi di dunia pendidikan serta memperkuat nilai Pancasila dan toleransi sebagai fondasi dalam melindungi siswa dari ideologi ekstrem.

Sebelumnya, pada Senin (2/2), Densus 88 AT Polri melanjutkan program Lentera Kapuas di SMAN 6 Pontianak dengan tujuan meningkatkan kesadaran siswa/i terhadap bahaya intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Ipda Yulius Sugiyanto, S.H., sebagai pembicara, mengedukasi tentang paham IRET dan pentingnya toleransi. “Kami ingin menanamkan nilai kebangsaan dan toleransi pada generasi muda untuk menjadi agen perubahan positif,” ujarnya.

Yulius mengajak siswa untuk mengenali radikalisme dan berpikir kritis terhadap narasi intoleran. Salah seorang siswa mengatakan, "Saya kini lebih memahami bahaya radikalisme dan cara mencegahnya." Densus 88 AT Polri berencana melanjutkan edukasi serupa di sekolah dan komunitas lainnya. "Kami akan terus berupaya menciptakan masyarakat yang aman dan damai," tambah Yulius.

 

Pelaku Bom Molotov di Sungai Raya Terpapar

Selain itu, dalam perkembangan terpisah, kasus kekerasan yang melibatkan siswa SMPN 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, menjadi perhatian serius. Siswa tersebut melakukan aksi kekerasan dengan membawa petasan, bom molotov, dan pisau ke sekolah, pada Selasa (3/2).

Berdasarkan penelusuran Densus 88, Pelaku terinspirasi oleh beberapa insiden penembakan massal di luar negeri, termasuk nama-nama seperti Stephen Paddock, Adam Lanza, dan Brenton Tarrant, yang sering dijadikan referensi dalam komunitas ekstrem. Dalam tindakan kekerasannya, pelaku menuliskan nama-nama ini di tasnya, mengindikasikan pengaruh kuat dari subkultur kekerasan yang ditemukan di komunitas online True Crime Community (TCC).

Densus 88 Antiteror Polri memastikan bahwa pelaku aksi kekerasan di SMPN 3 Sungai Raya, Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) satu komunitas dengan pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta. Mereka tergabung dalam komunitas True Crime Community (TCC) yang sama.

Juru Bicara (Jubir) Densus 88 Antiteror Kombes Mayndra Eka Wardhana menyampaikan hal itu saat dikonfirmasi oleh awak media pada Kamis (5/2). Dia menyampaikan bahwa TCC menjadi wadah tumbuhnya ideologi ekstrem yang menyebar di kalangan pelajar. ”Berdasar analisa dari Tim Densus 88 (Antiteror Polri), mereka (siswa SMPN 3 Sungai Raya) tergabung dalam komunitas yang sama dengan ABH (anak berhadapan dengan hukum) SMAN 72 Jakarta,” ungkap dia.

Kedua pelaku memang berasal dari daerah berbeda. Usia mereka juga tidak sebaya. Namun, mereka sama-sama mengakses konten kekerasan dari TCC. Yakni komunitas yang dengan sengaja menyebarluaskan konten kekerasan melalui 27 grup dengan nama berbeda.

Berdasar data milik Densus 88 Antiteror Polri yang sudah disampaikan kepada publik, 27 grup TCC diantaranya adalah TCC Community, True Crime Community, TCCland Under Akmal, Fuck TCC, TCC, WAG TCC Reborn, WAG TCC Universe, WAG Area TCC, Tanah Suci TCC, serta TCC Universe V2. ”(Pelaku aksi di SMPN 3 Sungai Raya dan SMAN 72 Jakarta) mengakses dan terinspirasi komunitas daring yang sama,” kata dia.

Berdasar pendalaman oleh Densus 88 Antiteror, siswa SMPN 3 Sungai Raya yang menjadi pelaku aksi kekerasan tersebut merupakan korban perundungan. Dia memendam perasaan untuk balas dendam. Khususnya kepada teman-temannya yang kerap melakukan perundungan di sekolah.

”Yang bersangkutan merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan untuk melakukan balas dendam kepada rekan-rekan yang kerap kali melakukan perundungan terhadapnya juga diduga kuat menghadapi masalah keluarga. Balas dendam kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di sekolahnya,” terang Mayndra.

Dari lokasi aksi, aparat kepolisian berhasil mengamankan beberapa benda yang digunakan oleh anak tersebut. Yakni 5 gas portable yang bagian sampingnya di rekatkan petasan, paku, dan pisau. Kemudian 6 botol bom molotov serta 1 bilah pisau.

”Densus 88 Antiteror Polri mendampingi Polda Kalbar dalam melakukan penanganan kasus tersebut. Mulai dari proses pemetaan hingga pemenuhan alat bukti, adapun leading sektor penanganan kasus tersebut adalah Polda Kalimantan Barat,” jelasnya.

Beruntung, dalam aksi tersebut hanya petasan yang meledak. Sementara bom molotov tidak meledak. Namun demikian, tetap ada korban luka akibat aksi tersebut. Korban merupakan salah seorang siswa di sekolah tersebut. Kini kasusnya ditangani oleh Polda Kalbar.

Insiden ini terjadi pada Selasa pagi, saat pelaku melemparkan bom molotov yang meledak di dekat ruang kelas. Beruntung, hanya satu siswa yang mengalami luka ringan akibat ledakan petasan. Namun, insiden ini mencerminkan betapa rentannya anak-anak terhadap paparan kekerasan daring dan ideologi ekstrem. Polisi segera mengamankan pelaku dan barang bukti, serta melakukan olah tempat kejadian perkara dengan bantuan Tim Laboratorium Forensik dan Tim Inafis Polres Kubu Raya.

Meski tidak ada korban jiwa, kejadian ini menggugah perhatian akan pentingnya pengawasan terhadap aktivitas daring anak-anak dan remaja, terutama yang berkaitan dengan konten kekerasan. Sebelumnya, kasus serupa terjadi di SMAN 72 Jakarta, di mana seorang siswa juga terpapar konten TCC dan melakukan aksi kekerasan serupa.

Densus 88 Antiteror menekankan pentingnya kerjasama antara aparat kepolisian, sekolah, dan orang tua dalam pengawasan dunia digital. “Kami akan terus memantau dan mendampingi siswa yang terpapar paham radikal, sekaligus memperkuat kerjasama untuk mencegah kasus kekerasan seperti ini,” ujar Mayndra. (ars)

Editor : Hanif
#sosialisasi #SMPN 3 Sungai Lala #densus 88 #sekolah #radikalisasi #Terorisme #pencegahan