Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kepsek: Pelaku Molotov Siswa yang Baik dan Santun, Bupati Sujiwo Minta Masyarakat Jangan Cuek

Ashri Isnaini • Sabtu, 7 Februari 2026 | 09:59 WIB

 

WAWANCARA: Bupati Kubu Raya, Sujiwo, bersama Kepala SMP Negeri 3 Sungai Raya, Lily, saat diwawancarai pada Jumat (6/2), terkait siswa yang terlibat dalam aksi bom molotov.
WAWANCARA: Bupati Kubu Raya, Sujiwo, bersama Kepala SMP Negeri 3 Sungai Raya, Lily, saat diwawancarai pada Jumat (6/2), terkait siswa yang terlibat dalam aksi bom molotov.

PONTIANAK POST - Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menegaskan bahwa pemerintah daerah akan memberikan pendampingan kepada pelajar yang terlibat dalam insiden pelemparan bom molotov di SMP Negeri 3 Sungai Raya, mengingat usia pelaku yang masih di bawah umur. Siswa kelas IX yang berusia 15 tahun ini kini sedang berhadapan dengan proses hukum, namun Sujiwo memastikan bahwa pendekatan yang diambil tetap berbasis pembinaan.

Sujiwo menambahkan, tanggung jawab negara tidak hanya berhenti pada penyidikan. Pemerintah daerah wajib memastikan anak ini tetap mendapatkan dukungan psikologis dan pendidikan. "Anak ini harus kita selamatkan. Psikologisnya perlu dipulihkan agar dia bisa melanjutkan pendidikan. Hukum tetap jalan, tapi pembinaan adalah prioritas," ujar Sujiwo, Jumat (6/2), di Sungai Raya.

Dia akan memimpin langsung pendalaman terhadap faktor penyebab peristiwa ini. Berdasarkan informasi yang diterimanya, orang tua pelajar tersebut sedang sakit, dan keluarga berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. "Saya akan turun ke rumahnya untuk melihat kondisi keluarganya. Jika ada masalah sosial dan ekonomi, pemerintah harus hadir untuk membantu," kata Sujiwo.

Sujiwo menginstruksikan dinas terkait untuk segera memberikan pendampingan psikologis kepada siswa tersebut dan keluarganya, agar proses pemulihan berjalan menyeluruh. Lebih jauh, Sujiwo mengingatkan masyarakat untuk tidak acuh terhadap kondisi sosial di sekitar mereka. "Kita harus lebih peduli. Setiap lingkungan harus peka terhadap masalah sosial, seperti keluarga yang kesulitan atau anak-anak yang terabaikan. Empati sosial harus hidup kembali," ujarnya.

Sujiwo juga menekankan pentingnya lingkungan yang sehat bagi perkembangan anak. "Masalah anak sering kali berawal dari kondisi keluarga yang tidak terpantau. Jika lingkungan berfungsi dengan baik, krisis psikologis atau perilaku menyimpang bisa dicegah sejak dini."

Dalam sektor pendidikan, Sujiwo menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik perundungan yang bisa merusak kesehatan mental anak dan memicu tindakan ekstrem. "Bullying tidak boleh terjadi. Guru harus lebih peka dalam membaca karakter siswa dan memastikan sekolah tetap menjadi ruang yang aman," pungkasnya. Sujiwo juga meminta Dinas Pendidikan dan para guru untuk meningkatkan pengawasan dan memperkuat langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.

Pelaku Tulang Punggung Keluarga

Sementara itu, pihak sekolah menyatakan tidak menemukan adanya indikasi perundungan terhadap siswa tersebut di lingkungan sekolah. Kepala SMP Negeri 3 Sungai Raya, Lily menegaskan bahwa secara keseharian, anak tersebut dikenal berperilaku baik dan memiliki capaian akademik yang cukup memadai.

Lily menjelaskan, siswanya tersebut merupakan siswa kelas IX yang dikenal memiliki postur tubuh besar dan tinggi, serta karakter yang cukup berani dan dewasa dalam berkomunikasi. Namun demikian, sikap tersebut tidak pernah menimbulkan persoalan di lingkungan sekolah.

“Di sekolah, anak ini baik, santun, ceria, dan bisa bergaul dengan teman-temannya. Komunikasinya dengan guru juga bagus. Tidak pernah melakukan tindakan yang tidak diinginkan,” ujar Lily, Jumat (6/2) kepada Pontianak Post.

Ditanya mengenai isu perundungan yang sempat beredar, Lily menegaskan hal tersebut tidak terjadi di SMP Negeri 3 Sungai Raya. Dia menyebutkan, sejak duduk di kelas VII hingga kelas IX, sang siswa tidak pernah terlibat konflik serius dengan teman sekelas maupun siswa lainnya.

“Kalau dibilang bullying, menurut saya tidak ada. Dari kelas VII, VIII, sampai IX anak ini tidak pernah ada kasus. Kalau sebelumnya candaan anak-anak, seperti saling mengejek ringan, itu ada, tapi tidak sampai parah dan selalu kami tangani,” jelasnya.

Menurut Lily, kondisi keluarga siswa tersebut patut menjadi perhatian. Siswa tersebut berasal dari keluarga kurang mampu dan memikul tanggung jawab besar di rumah. Siswa tersebut katanya harus membantu merawat anggota keluarganya yang sedang sakit, mulai dari kakek, nenek, hingga ayahnya, dengan kondisi ekonomi keluarga yang hanya bergantung pada pensiunan kakeknya.

“Di rumah, hampir semua anggota keluarganya sakit. Saat mulai jam belajar di sekolah pun terkadang dia ditelpon dan disuruh pulang oleh orang tuanya untuk membantu pekerjaan di rumah. Jadi anak ini bisa dikatakan menjadi tulang punggung untuk membantu mengurus keluarga. Faktor ini tentu memberi tekanan tersendiri bagi anak,” ujarnya.

Mengenai peristiwa yang kini sedang ditangani pihak berwajib, Lily menyampaikan  pihak sekolah belum dapat memastikan motif atau penyebab tindakan yang dilakukan siswa tersebut. Seluruh proses masih menunggu hasil penanganan aparat penegak hukum.

“Kami belum tahu secara pasti apa yang melatarbelakangi kejadian tersebut karena masih dalam proses di pihak berwajib. Kami menunggu hasil resmi,” katanya.

Namun kata Lily, tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh lingkungan luar sekolah, termasuk konsumsi konten media sosial atau game daring, terhadap perilaku anak. “Pengaruh konten media sosial atau tontonan bisa saja berpengaruh. Informasi awal yang kami terima, anak ini menyukai game tembak-tembakan. Tapi ini masih dugaan dan belum bisa dipastikan,” ujarnya.

Lily menambahkan, hingga saat ini siswa tersebut tidak pernah tercatat memiliki riwayat pelanggaran disiplin atau konflik dengan teman di sekolah. Sikapnya selama ini dinilai santun terhadap guru dan mampu berbaur dengan teman sebaya.

Sebagai bentuk evaluasi, pihak sekolah akan mengambil hikmah dari kejadian ini dengan memperkuat pendekatan kepada siswa. Selain itu, sekolah juga berencana melakukan sosialisasi kepada para orang tua secara bertahap guna memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan kondusif. “Kami ingin orang tua merasa tenang dan yakin bahwa SMP Negeri 3 Sungai Raya adalah lingkungan yang aman bagi anak-anak. Selama ini, kasus bullying berat tidak pernah terjadi di sekolah kami,” pungkas Lily.

Seluruh Keluarga Sakit

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Kubu Raya, Muhammad Amri, bersama anggota Komisi IV lainnya, juga melakukan kunjungan ke SMP Negeri 3 Sungai Raya untuk menggali informasi lebih lanjut terkait kejadian tersebut. Dalam dialog bersama kepala sekolah dan guru-guru, Amri memastikan bahwa penyelidikan terkait apakah ada unsur perundungan harus terus didalami, meskipun pihak sekolah menyebutkan bahwa peristiwa ini tidak disebabkan oleh bullying.

“Penting bagi kami untuk memastikan apakah benar tidak ada unsur bullying. Polisi sudah terlibat dan mengusut hal ini. Kalau memang ada perundungan, sekolah harus berbenah, tetapi kalau tidak ada, itu juga harus disampaikan agar masyarakat tahu bahwa lingkungan sekolah ini aman,” kata Amri.

Amri juga menyoroti latar belakang keluarga siswa yang dianggap menjadi salah satu faktor penekanannya. “Siswa ini berasal dari keluarga yang sangat memprihatinkan. Hampir seluruh anggota keluarganya sakit, dan dia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga,” ujar Amri. Selain itu, Amri menyebutkan bahwa pengaruh media sosial juga patut diwaspadai. “Dengan kondisi keluarga seperti ini, akses media sosial yang tidak terbatas bisa memengaruhi perilaku anak. Ini juga perlu diungkap,” ujarnya.

Peristiwa bermula ketika seorang siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya pada Selasa (3/2) melemparkan bom molotov ke area sekitar ruang kelas pada jam belajar. Aparat kepolisian segera mengamankan lokasi dan mengevakuasi siswa untuk mencegah risiko lanjutan.  Dari penggeledahan lanjutan, polisi menemukan enam botol molotov yang telah dirakit dan disembunyikan oleh pelaku.

 Penyelidikan kemudian mengarah pada aktivitas digital pelaku. Polisi mengungkap bahwa siswa tersebut aktif mengikuti sejumlah konten kekerasan dan tergabung dalam komunitas daring bertema kejahatan ekstrem. Dalam pemeriksaan, terungkap pula bahwa pelaku terinspirasi dari beberapa kasus kekerasan di luar negeri yang ia tonton melalui media sosial. (ash)

Editor : Hanif
#psikologis #masalah keluarga #SMPN 3 Sungai Raya #molotov #pendampingan #siswa