PONTIANAK POST – Sorak-sorai penonton menggema di Stadion SSA, Minggu (8/2) sore. Tribun utama hingga sisi kiri dan kanan stadion dipenuhi ribuan pasang mata yang menyaksikan Persiwah Mempawah menaklukkan PS Kubu Raya dengan skor 2-0 pada partai puncak Liga 4 Kalbar.
Sejak peluit awal dibunyikan, atmosfer stadion berubah menjadi lautan suara. Teriakan dukungan silih berganti dengan nyanyian suporter yang mengiringi setiap pergerakan pemain di lapangan.
Final Liga 4 Kalbar pun menjelma menjadi pesta sepak bola rakyat—sebuah penegasan bahwa kerinduan publik terhadap kompetisi daerah masih sangat besar.
Munculnya Persiwah dan PS Kubu Raya di partai final juga menandai pergeseran peta kekuatan sepak bola Kalbar.
Dalam beberapa tahun terakhir, dominasi Kabupaten Sambas melalui Gabsis Sambas begitu kuat. Kini, lahir poros baru yang memberi warna segar bagi kompetisi daerah.
Feri, pecinta sepak bola Kalimantan Barat, mengaku terkesan dengan antusiasme penonton yang memenuhi stadion.
“Tribun penuh, suporter terus bernyanyi dan berteriak memberi semangat. Ini bukti bahwa pecinta sepak bola Kalbar itu banyak dan rindu tontonan seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, gelar juara Persiwah sekaligus mematahkan dominasi Sambas yang selama ini menjadi simbol kekuatan sepak bola Kalbar.
“Beberapa tahun terakhir sepak bola Kalbar identik dengan Sambas. Sekarang mulai muncul kekuatan baru,” katanya.
Laga final sendiri berlangsung panas dan terbuka. Kedua tim tampil dengan tempo tinggi dan saling menekan.
Namun efektivitas Persiwah di lini depan menjadi pembeda hingga memastikan kemenangan 2-0 atas PS Kubu Raya.
Hal senada disampaikan Wawan, penonton yang hadir langsung di stadion. Ia menilai membludaknya penonton sebagai cermin dahaga masyarakat terhadap turnamen sepak bola tingkat provinsi.
“Kami haus pertandingan skala Kalbar. Makanya setiap ada event seperti ini, apalagi final, stadion selalu ramai,” ujarnya.
Ia berharap kompetisi sepak bola tingkat provinsi dapat digelar lebih rutin agar gairah sepak bola daerah terus hidup.
“Kalau turnamen sering ada, masyarakat dapat hiburan dan pemain muda punya panggung untuk berkembang. Dari sini bisa lahir pemain yang suatu hari tampil di level nasional,” katanya.
Namun di balik euforia tribun penuh, kritik terhadap kualitas infrastruktur kembali mencuat. Wawan menilai perhatian terhadap sepak bola Kalbar masih tertinggal dibanding provinsi lain.
“Belum ada klub Kalbar yang tembus Liga 1. Lapangan kita juga belum layak. SSA ini sulit dipakai kalau untuk standar Liga 1,” sindirnya.
Ia menegaskan perbaikan kualitas rumput dan fasilitas stadion harus menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Menurutnya, kualitas lapangan sangat memengaruhi mutu permainan.
“Kalau lapangan gersang dan berdebu, pemain sulit menampilkan permainan terbaiknya. Ini harus dibenahi kalau ingin sepak bola Kalbar benar-benar bangkit,” tegasnya. (iza)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro